Kamis, 23 Februari 2012

RINDU

di hening malamku sendiri
terjaga tanpa yang menemani
sendiri, merenung di kesunyian
mencoba bertahan di tengah arus kehidupan

ditengah kota yang penuh kemunafikan
ibu kota dengan segala pernak pernik dan bising
yang mampu membuat orang jadi terlena
membuat orang jadi gelap mata
membuat orang lupa akan akhirat
karena hanya harta dunia yang ada di benaknya
sampai kapan ku di sini

duduk sendiri hanya berteman secangkir kopi
menunggu pagi dan
berharap mentari bersinar cerah
secerah harapan di hati

"rindu" hanya kata itu yg terbesit di lubuk hati
rinduku pada kampung halamanku
"kaliwungu kota santri"
kota kecil yang menyejukkan hati
karena setiap hari terdengar
"lantunan ayat-ayat suci"

::.
Aphied al Fadlu Kurniawan


TOKOH KITA : AHMADUN YOSI HERFANDA ~ SASTRAWAN ASLI KALIWUNGU

Ahmadun Yosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH (lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958; umur 53 tahun), adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia.
Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ia juga banyak menulis esei sastra.
Sejak menjadi mahasiswa, Ahmadun telah aktif sebagai editor dan jurnalis. Dimulai dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1983-1999), lalu di Harian Yogya Post (1999-1992), Majalah Sarinah (bersama Korrie Layun Rampan, 1992-1993), dan terakhir di Harian Republika Jakarta (1993-2010). Di Republika ia lebih banyak dipercaya sebagai Redaktur Sastra, namun sempat juga menjadi Koordinator Desk Opini dan Budaya, serta Asisten Redaktur Pelaksana. Karier strukturalnya tidak begitu ia perhatikan, karena kesibukannya dalam menulis karya kreatif, mengelola acara-acara sastra, dan mengisi berbagai workshop, diskusi, pentas baca puisi, serta seminar sastra di berbagai kota di tanah air dan mancanegara. Dalam perjalanan karier terakhirnya (di Republika), aktivitas sastra memang lebih banyak menyedot kecintaannya daripada kerja jurnalistik.
Setelah sekitar 17 tahun menjadi wartawan (dengan inisial ayh) dan redaktur sastra Harian Republika, sejak Maret 2010 Ahmadun lebih aktif sebagai ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk periode 2010-2013. Ini adalah untuk kedua kalinya ia menjadi anggota DKJ. Tahun 2006 ia pernah terpilih menjadi anggota DKJ (untuk periode 2006-2010) namun hanya dijalaninya beberapa bulan dan mengundurkan diri. Sebagai sastrawan (penyair), ia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.
Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI). Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010). Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2010, bersama sejumlah sastrawan Jakarta, mendirikan Yayasan Sastra Indonesia -- Yayasan Cinta Sastra -- dan diamanati menjadi ketuanya. Saat ini ia juga sedang mengembangkan usaha jasa percetakan dan penerbitan buku dengan bendera Jakarta Publishing House -- PT Media Cipta Mandiri (MCM). 

NOEL NAMAKU

"Jangan kau sangka aku kejam atau sok,"
Ia teguk minuman ringan beralkohol itu, sementara bunyi musik hip-hop terus merangsek
memenuhi udara, menggeletarkan gendang telinga dan menjilati syaraf-syaraf sekujur
pori.
"Aku cuma melakoni apa yang harus kulakoni...
dan aku juga bukan bertindak demi feminisme... ya bukan!
Bagaimanapun aku tetap manusia,
kemudian bahwa aku wanita... perempuan
itu adalah persoalan lain..."
Kali ini ini pandangannya menatap lurus ke depan,
menembus puluhan orang yang tengah mengikuti
irama hip hop
menembus asap-asap rokok
menembus uap alkohol
menembus sorot cahaya lampu yang bergantian nyalanya
dan
menembus tembok penuh warna
dan poster-poster seksi...
"Namaku Noel,
ya, singkat bukan? dan jangan kau tanya
tentang artinya...
nama adalah nama,
sebagai satu inisiasi
hanya untuk membedakan bahwa aku bukan yang lain.
Aku sebagai pribadi satu,
itu saja..."

"Aku memang tidak percaya dengan apapun
tolong
jangan bicara norma
dan budaya di depanku.
Bukan lantaran aku membencinya,
tapi memang beginilah kenyataannya.
Apa salah jika aku membangun norma
atau budaya dan bahkan adat
bagi diriku sendiri?!
Tidak,
bagiku setiap kita harus mampu
berjalan pada garis yang telah
kita putuskan...
dan lantaran setia pada garisku itu pula
maka di sini
di depan kalian semua
tak jengah aku melakukan semuanya.
Dan semua itu bukan demi apa-apa,
kecuali demi diriku sendiri.

Sudah,
aku kira cukup.
Masih banyak yang harus ku selesaikan
....

Aku pamit."

Langkah itu masih gemulai
dengan rokok yang masih menyala
di tangan jenjangnya.

Tanpa menoleh
iapun meninggalkan kami.

Sementara bunyi musik
masih tak berhenti...

::.
Kelana SK

Sepatu Bot dari Tuhan

Sepatu Bot dari Tuhan
Hanya orang yang melampaui batas kewarasan yang akan melakukan itu. Memasang badan dan menantang serangan puluhan buldozer yang memang disiapkan untuk merobohkan semua tanaman yang hidup di areal persawahan dan kebun itu. Meratakannya. Lalu, beberapa bulan kemudian akan ditanami dinding-dinding beton. Semua sudah disiapkan dengan matang. Begitu rapi. Tak ada alasan lagi untuk menolak. Percuma saja melawan. Hanya orang sinting yang melakukan itu. Hanya dia, Sanip!
Kasihan ia. Lelaki tua yang kehilangan kehormatannya di hadapan keluarga besar Eyang Broto, seorang tuan tanah yang kaya raya di zamannya.

“Sudahlah, Kang. Jual saja tanah itu. Serahkan saja pada mereka. Tak ada gunanya ngotot,” kata Markum, adik kandung Sanip yang sekarang memilih menjadi seorang Pegawai Negeri pada sebuah kantor pemerintahan. Ia telah lama meninggalkan sawah, menyerahkan lahannya kepada Sanip, tepatnya menjualnya kepada Sanip.
“Sekali tidak, ya tidak! Mau diberi makan apa anak sama istriku kalau tanah itu aku jual?”
Mendengar kata-kata Sanip, Markum tertunduk diam. Markum tahu tabiat Sanip. Ia paling tidak bisa meninggalkan lahan persawahan. Bahkan dulu ketika Markum membujuk agar Sanip ikut ngantor pada kantor dinas Markum, selepas Sanip lulus kuliah, hanya dibalas dengan senyuman.
“Tanah itu, Kum. Tanah itulah yang selama ini memberi kami kesempatan untuk bertahan hidup di desa ini. Tanah itu bukan hanya warisan Rama kita, tetapi juga titipan Gusti Allah, Kum. Itu amanat, Kum.”
“Sampeyan itu loh, Kang, kayak nabi saja. Pakai bawa nama Gusti Allah segala?!” sergah Markum.
“Karena aku masih punya iman, Kum!” meski nada ucapan Sanip datar, kata-kata itu diucapkannya mantap. Tatapannya tajam ke arah mata Markum. Seolah menelanjangi sanubari Markum. “Assalamu’alaikum,” Sanip berlalu dari hadapan Markum.
“Wa’alaikumsalam.”

Di desa ini hanya dia, Sanip. Orang yang paling berani menentang megaproyek itu. Aparat kelurahan pun sampai kewalahan mengurusi kemauan keras Sanip. Bahkan, Pak Lurah sudah kehabisan akal untuk membujuk Sanip. Yang menyulitkan lagi, lahan sawah milik Sanip rupanya berada tepat di tengah-tengah areal megaproyek yang direncanakan. Padahal, seluruh lahan di sekeliling tanah milik Sanip sudah dijual dan diserahkan pada pemilik proyek. Katanya, seorang pengusaha asing yang punya koneksi dengan konglomerat negeri ini..
“Pak Sanip, saya harap sampeyan memikirkannya lagi masak-masak. Pembangunan proyek ini punya tujuan baik bagi warga desa kita. Coba sampeyan saksikan, sudah berapa banyak anak muda di desa ini yang menganggur. Bahkan, mereka memilih pergi meninggalkan desa, ke kota. Apalagi, jarang dari mereka yang muda-muda ini mau menggarap lahan sawah lagi. Proyek ini tentunya akan menyerap tenaga kerja yang luar biasa besar jumlahnya. Jadi, para orang tua sudah tidak perlu lagi khawatir dengan masa depan anak-anak mereka,” kata Pak Lurah.
“Justru karena saya berpikir, Pak Lurah, makanya saya tidak mau menjual tanah itu. Saya ingin mengajari anak-anak saya tidak malu menggarap sawah. Kalau Bapak tadi bilang, banyak anak-anak muda desa ini yang tidak mau menggarap sawah, mbok dicari tahu dulu apa masalahnya? Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh Bapak sebagai Lurah. Bukan lantas menjual tanah ini kepada mereka yang datang ke sini dengan tujuan yang tidak jelas itu, Pak,” jawab Sanip.
“Kami sudah berusaha, Pak. Sudah. Tetapi….”
“Tetapi selalu tak ada hasil? Begitu?! Apa Bapak sudah lupa, dulu Bapak bisa sekolah tinggi sampai bisa menjadi lurah itu darimana duitnya? Saya kenal betul dengan almarhum ayah dari Pak Lurah. Beliau sangat tekun menggarap sawah.”
“Mak…maksud….”
“Saya ngerti Pak Lurah. Saya ngerti. Bapak akan mengatakan, zaman sudah berubah sekarang. Sawah sudah tidak bisa diandalkan. Begitu?”
“Bukan begitu maksud saya.”
“Lantas apa?”
“Ini masalah serius, Pak. Sangat kompleks,” sebentar Pak Lurah menghela napas. Menata kembali kata-kata yang ingin diluncurkannya agar Sanip percaya padanya. “Saya sendiri tidak bisa menjelaskannya.”
“Kalau tidak bisa menjelaskan dengan baik, kenapa proyek itu harus Bapak terima?”
Sanip menatap Pak Lurah dalam-dalam. Itu membuat Pak Lurah semakin terpojok.
“Bisa Bapak jelaskan?”
“Sudahlah, Pak Sanip. Sampeyan jangan membuat saya bertambah bingung.”
“Maksud Pak Lurah?”
“Hari ini saya harus melapor ke Pak Bupati.”
“Soal saya?”
“Soal perkembangan rencana megaproyek itu, Pak.” Sebatang rokok disumatnya. Satu kepulan pertamanya menutupi hampir seluruh wajah Pak Lurah, “Jadi, tolong bantu saya Pak. Saya sudah menganggap sampeyan sebagai orang tua sendiri sejak Rama meninggal.Sampeyan sudah memberi saya keteladanan tentang bagaimana memahami dan mengisi kehidupan.”
Ucapan Pak Lurah hampir saja melunakkan hati Sanip. Tetapi, ia tak lekas berubah pikiran, “Kalau begitu, katakan saja pada Pak Bupati, Saniplah orang yang mustinya ia cari. S a n i p !”

Sanip memang tidak pernah berusaha menghasut orang-orang kampung. Ia hanya melakukan apa yang dianggapnya perlu dibela. Bukan apa yang ia anggap sebagai kebenaran. Ia hanya melakukan darmanya. Kalaupun tak ada yang mendukungnya, itu bukanlah soal. Karena ia sadar, ia bukanlah seorang politisi yang butuh dukungan untuk sebuah kedudukan atau pembenaran atas apa yang ia lakukan. Itulah kenapa orang-orang desa menganggap langkah Sanip kali ini adalah sebuah kebodohan.
“Pakdhe Sanip, apa sampeyan nggak takut kalau nanti ditembak kayak di tivi-tivi itu?” tanya Tukijan.
“Iya Dhe, di tivi-tivi itu lagi rame loh penembakan warga hanya karena rebutan lahan!” timpal Sugondo.
“Saya tidak merebut lahan! Saya hanya mempertahankan apa yang saya punyai dan dititipkan Gusti Allah pada saya.”
“Wah, Pakdhe Sanip ini sudah seperti Pak Kiai omongannya! Padahal sawahnya Pak Kiai juga dijual loh Dhe. Cuma tanahnya njenengan saja yang belum,” seloroh Tukijan.
“Mendingan kalian urusi saja urusan kalian. Jangan ngurusi orang lain!”
Keduanya tertawa cekikian mendengar ucapan Sanip. “Pakdhe, apa Pakdhe lupa kalau sikap Pakdhe itu sudah mengganggu urusan orang banyak? Coba kalau Pakdhe segera menjual tanah itu, pasti proyek itu akan segera dibangun dan otomatis kami-kami yang muda ini bisa langsung ikut kerja. Ya to, Jan?” kata Sugondo.
Keduanya lantas saling pandang. Tatapan mereka menyiratkan ejekan. Sanip tak menghiraukan apa yang ia saksikan.
“Tak ada gunanya ngomong sama kalian.” Gerutu Sanip.
Lama-lama ejekan itu kian banyak berlontaran. Menghujam Sanip.

Buldozer itu kian dekat. Tubuh Sanip tetap tegap. Menantang. Orang-orang proyek dibuat kebingungan. Pono, sang mandor proyek itu pun kelimpungan. Mondar-mandir dengan handphone yang terus ditempelkan pada daun telinga kanannya.
“Saya harus bagaimana, Bos? Si tua bangka itu susah diajak ngomong!” kata Pono.
“Sikat saja!” suara dari balik handphone itu terdengar keras.
“Waduh, nggak berani, Bos!”
”Lantas apa kerjanya aparat? Aku sudah mahal-mahal bayar mereka!” bentak si pemilik suara dari balik handphone Pono terdengar bertambah keras. Hampir-hampir mengalahkan suara bising mesin buldozer.
“Iya Bos! Saya akan urus mereka.” Handphone Pono ditutup. Pono melangkah mendekati komandan pasukan.
“Ada pesan dari Bos,” kata Pono.
Si komandan mengangguk. Tanpa ba-bi-bu, sebuah kode diarahkan pada mereka, pasukan keamanan. Pelan mereka mendekati Sanip.
“Bapak sebaiknya tidak melawan. Kami hanya menjalankan tugas,” kata salah seorang aparat kemanan itu.
“Siapa yang memberi kalian tugas? Atas nama siapa?!” gertak Sanip.
“Kami hanya menjalankan perintah, Pak.”
“Perintah negara atau perintah siapa?”
Pertanyaan Sanip kali ini terbiarkan begitu saja. Tak ada jawaban.
“Kalau memang perintah negara, negara yang mana?”
“Bapak sebaiknya bekerjasama dengan kami, Pak. Kami tidak ingin menyakiti Bapak. Kami hanya ingin mengamankan Bapak. Percayalah!”
“Kalau kalian tidak ingin menyakiti saya, pernahkah dalam benak kalian terpikir, seorang bapak tua seperti saya haruskah menangisi tanah sawahnya karena tak ada lagi anak-anaknya yang mau menggarap sawah? Bisakah kalian menyembuhkan sakit hati saya?”
“Maaf Pak, kami tak punya waktu. Kami harus membawa Bapak. Mengamankan Bapak.”
‘Selalu ada waktu, nak. Kalian masih cukup muda. Berpikirlah. Bukan begini caranya membangun bangsa. Hanya manut pada perintah sementara siapa yang memberi perintah tak jua jelas. Ayo, anak muda berpikirlah!’—ucap lirih Sanip dalam hati—“Duh Gusti, apa tidak salah telinga renta saya ini mendengar kata itu? Mengamankan? Mengamankan? Apakah saya ini seorang teroris, perampok, atau bahkan pemberontak yang harus diamankan? Jagad sudah kebalik-balik!”
“Tenang Pak, tenang. Kami mohon Bapak tenang. Kami hanya menjalankan perintah. Jadi,…”
“Bagaimana saya harus tenang? Sementara sawah saya, sawah mereka, dan sawah-sawah yang lain terus saja diusik?! Mati-matian kami selalu kerjar-kejar tikus, eh muncul tikus yang lebih besar, tikus raksasa, tikus yang lebih ganas!? Apa tidak ada cara lain untuk membangun? Kalian, anak-anak muda, yang dipelihara oleh negara, seharusnya kalian tanyakan itu pada mereka. Ya, mereka yang duduk di atas singgasana. Tanyakan itu!”
“Kami ke sini dengan niat baik, Pak. Tenang….tenang.”
“Kebaikan? Kebaikan buat siapa? Buat kami, atau buat mereka? Atau buat kalian?”
“Tolong, Pak, jangan bikin suasana semakin panik.”
“Merekalah yang membuat panik, anak muda. Kalian bacalah! Baca! Ini negara nenek moyangmu! Bukan negara mereka! Ini tanah sawah kakek buyutmu! Kenapa tak kau bela?!”
“Pak Sanip, kami datang ke sini dengan baik-baik. Kami ngajak bicara Pak Sanip juga dengan baik-baik. Tolong sekali lagi, Pak Sanip jangan memaksa kami bertindak keras pada Bapak!”
“Silakan!”
“Baiklah kalau begitu. Pasukan!”
“Siap, ndan!”
“Paksa dia sekarang juga!”
“Siap! Laksanakan!”
“Tunggu!”
“Tahan!”
“Sebelum saya kalian bawa, ada satu permintaan.”
“Jangan membuat kami menunggu lagi, Pak Sanip!” pelan tangan kanan Sanip membuka buntalan karung goni yang ia bawa dari rumah. Dikeluarkannya sepasang sepatu bot usang.
Diangkatnya kini sepatu usang itu tinggi-tinggi, sembari berucap, “Ini adalah sepatu bot almarhum ayah saya. Inilah saksi bisu. Sepatu bot ini begitu lama dan setia menemani ayah saya. Bahkan, sepatu inilah yang membawa ayah saya maju ke medan perang. Lantas, setelah perang usai, ayah saya memilih mundur dari barisan tentara. Baginya, tugas untuk memerdekakan negeri ini telah dilunasi. Dan generasi berikutnyalah yang harus mengisinya. Sejak saat itu, ayah saya memakai sepatu perangnya untuk menggarap sawahnya. Ya, di sini. Sawah ini. Dan dia katakan pada saya waktu itu—Inilah iman seorang pejuang! Pantang menyerah! Pantang merendahkan martabat! Medan perang boleh saja disudahi! Senjata boleh saja ditanggalkan! Tetapi medan perjuangan harus terus digulirkan, agar hidup terus bergerak bagai ombak di tengah samudera! Hidup harus bermakna! Tanah ini harus dipertahankan! Tanah ini harus dibela! Agar kelak anak cucumu tidak lupa diri!—Karenanya, izinkan saya memberi penghormatan terakhir pada sepatu ini, anak muda.”
Pelan-pelan Sanip meletakkan sepasang sepatu itu di sisi kanan kedua lututnya yang menempel pada tanah. Diambilnya beberapa kepal tanah, lalu dibuatnya gundukan kecil di atas galengan sawah. Kini, tangan kanannya meraih bendera plastik dari saku bajunya, kemudian ditancapkan bersama sebilah bambu kecil tepat di tengah-tengah kedua sepatu itu. Sanip berdiri dengan sikap sempurna. Menghormat pada bendera merah putih, sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Syukur, dan Gugur Bunga.
Setelah semua selesai, Sanip kembali melutut, lalu menunduk, dan mencium sepasang sepatu itu. “Maafkan saya, Rama.”

::.
@kang riboet bilang#ributachwandi159@yahoo.com 

BERSAMA BURUNG


Bersama burung  aku diam  tenggelam dalam darah
Menatap senja pecah; bagai airmata luka
Ketika laut mejadi enam jembatan cinta

Bersama burung aku mengembara ke kesunyian
Melintasi kota-kota. Semua duka menjadi kisah cinta
Mengekalkan senyuman pada impian yang mungkin dapat disapa dengan ribuan nama

Bersama burung  aku nyanyikan kasidah Ayub dan syair Yusuf
Dalam labu waktu sejarah usang tanpa almanak yang menggelepar sepi
Melayari perjalanan riwayat orang-orang sufi

Bersama burung aku bergegas menyimpan “Attarku”

::.
Hafney Maulana

KEPERGIANMU


Saat kau pergi tanpa kata
hatiku lungkrah
kulepas dirimu dengan
tatapan mata yang hampa
terbayang sudah
getaran duka
derita
rindu
yang akan menyelimuti diriku

Oh, tak terasa
airmata menetes
hatipun runtuh luluh

::.
Inty Ruqoyyah Basyuni 

TOKOH KITA : GUS MUS SEORANG KIYAI DAN PENDEKAR

Nama beliau, Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), beliau kini pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang.  Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma’shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo di samping di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa, Raudlatuth Thalibin Rembang.
Menikah dengan St. Fatma, dikaruniai 6 (enam) orang anak perempuan : Ienas Tsuroiya, Kutsar Uzmut, Raudloh Quds, Rabiatul Bisriyah, Nada dan Almas serta seorang anak laki-laki: Muhammad Bisri Mustofa.  Kini beliau telah memiliki 5 (lima) orang menantu: Ulil Abshar Abdalla, Reza Shafi Habibi,  Ahmad Sampton, Wahyu Salvana, dan Fadel Irawan serta 7 (tujuh) orang cucu: Ektada Bennabi Muhammad; Ektada Bilhadi Muhammad; Muhammad Ravi Hamadah, Muhammad Raqie Haidarah Habibi; Muhammad Najie Ukasyah, Ahmad Naqie Usamah; dan Samih Wahyu Maulana.
Selain sebagai ulama dan Rais Syuriah PBNU, Gus Mus juga dikenal sebagai budayawan,Pelukis, Pujangga dan penulis produktif.
Tapi adakah yang tahu bahwa beliau adalah seorang Pendekar yang mencintai silat sebagai khasanah budayanya sendiri?
Ini kisah lucu tentang beliau (Gus Mus) dan kakaknya, Gus Kholil yang ditulis oleh Gus Yahya Cholil Staquf dalam notesnya :
Sebelum mondok di Krapyak, Yogya, Gus Mus dan Gus Kholil muda sempat mondok di Lirboyo, Kediri. Pada waktu itu Lirboyo terkenal gudangnya ilmu hikmah dan kanuragan. Maka dua santri kakak-beradik ini pun tak ketinggalan, getol mesu diri, tirakat, menekuni gemblengan untuk mempelajari berbagai ilmu kejadugan.
Sampailah akhirnya kesempatan pulang kampung di waktu liburan. Sebagai orang-orang “dhugdheng alu gembreng”, dua bersaudara ini pulang ke Rembang dengan bersengaja mengenakan pakaian dan perhiasan yang menegaskan kejadugan mereka:
1. Rambut gondrong sampai ke punggung pertanda tak mempan dicukur
2. Baju kutung dan celana komprang sebatas dengkul, semua serba hitam, khas pendekar
3. Ikat kepala batik dan terompah kayu yang tebalnya hampir sehasta yang mungkin mereka  
kira mirip kepunyaan Sunan Kalijaga; dan lain-lain.
Sepanjang perjalanan, mereka benar-benar bergaya super-pendekar yang membuat jerih siapa pun disekitarnya. Memandang langsung kepada mereka pun orang tak berani, takut dikira nantang.
Tak dinyana, begitu sampai di rumah, Mbah Bisri, ayahanda mereka marah besar!
Segala pakaian dan perhiasan kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Karena tak ada yang mampu mencukur rambut mereka —benar-benar jadug rupanya, Mbah Bisri sendiri yang turun tangan membabat habis rambut mereka. Pendek kata mereka divonis harus berhenti main jadug-jadugan!
Kenapa Mbah Bisri melakukan semua itu
“AKU SAJA CUMA KIYAI KOK KALIAN MAU JADI WALI!”


Kakak-beradik itu akhirnya dipindahkan mondoknya ke Krapyak, Yogya.


sumber : http://silatindonesia.com/2010/06/gus-mus-seorang-kiyai-dan-pendekar/

Tsunami Oh Tsunami


tsunami engkau datang tanpa salam
pergi tanpa pamitan
menghunus pedang saudara-saudara kami
di aceh negeri yang suci

tsunami
benar, engkau hanya air asin
yang meminta tempat menginap
menyeret-nyeret tubuh kerdil kami
menelan menenggelamkan jiwa raga
kau hancurkan kau porak-porandakan

tsunami
sudah bertahun peristiwa itu
tapi di otak dan hati kami
masih rapat tersimpan, nyeri

tsunami
benar, engkau hanyalah makhluk
yang diperintah Sang Khalik
untuk memperingatkan
tentang kesombongan dan kerakusan kami

TUHAN
ampuni dan kasihani
saudara kami yang telah Kau ambil
lewat tsunami yang suci ...

indonesia, 26 desember 2011,
(mengenang tsunami 26 desember 2004)

::.
bahrul ulum a. malik

Rinduku Kuselipkan Pada Kelopak Mawar Merah


rinduku
kuselipkan pada
kelopak mawar merah
yang tertata rapi
di setiap sudut keindahan

rinduku adalah
sekuntum mawar
menghias kamar mimpiku
bersama pot-pot doa

rinduku bersemayam tinggi
bertempat pada senyuman

rinduku
rindu atas kelopak mawar
harumi sela-sela renungku
pada sisi cintaMu

::.
bahrul ulum a. malik

SURAT


maaf, presiden sedang sibuk membagi sembako curian,
surat anda akan masuk daftar antrian,
mungkin akan dibaca 4 tahun kemudian,
setelah pemerintah melakukan pergantian.
::.
Fathur dan Layla

‘Kekuatan’ Media Alternatif: Sastra


Oleh: Setia Naka Andrian1
Ditulis sebagai modal kecil dalam Parade Obrolan Sastra IV2 18 Mei 2011
(ditulis kembali untuk Plataran Sastra Kaliwungu `PSK` Kendal)

Media, sering akrab di telinga kita sebagai sebuah jalan, penghubung, perantara, saluran, kendaraan, alat, instrumen, organ, peranti, perangkat, sarana, ataupun wahana. Melalui media seseorang akan ditemukan oleh orang lain. Bukan berharap untuk dikenal, namun dapat dikatakan setidaknya seseorang akan ‘kenal’ dengan sesamanya. Saling bersetubuh lewat proses kreatif yang diharapkan dapat berkesinambungan. Sebagai wujud pertemuan ketika seseorang tidak dapat bertatap muka secara langsung (pertemuan tubuh).
Memang pada jaman sekarang banyak di antara kita yang beranggapan bahwa persoalan media telah rampung dan tidak menjadi masalah lagi. Ketika semua telah terbuka lebar di depan mata kita, hingga dapat dikatakan telah menusuk-nusuk serta memaksa kelopak mata kita untuk selalu membuka setiap saat, kapan pun bila kita mau. Maka jika kita lengah sedikit saja, barang kali kita akan ketinggalan, bahkan tidak akan menemukan dan tidak mendapatkan apa-apa.
Lalu seperti apa media alternatif yang dimaksud? Apakah seperti dukun? Warung lesehan? Benar, hemat saya seperti itu. Seperti halnya dukun sebagai pilihan lain ketika tidak mampu berobat ke dokter, ketika memilih warung lesehan jika tidak sempat ada uang lebih untuk bertaruh makan di restoran.
Sehingga dapat dikatakan bahwa media alternatif, khususnya pada media sastra, dapat digaris sebagai jalan lain ketika kita belum mampu menciptakan media dengan label tangguh. Juga merupakan sebuah jalan lain ketika kita belum sanggup menembus atau menemukan media yang lebih mapan untuk menampung ide serta proses kreatif kita. Maka ya inilah, jalan lain sebelum karya kita dicap andal oleh orang lain/ media yang kredibel, teruji.
Namun pada kenyataannya media alternatif (kurang) begitu dilirik oleh khalayak. Banyak yang memandang sebelah mata dan mengucap separuh bibir saja. Saya berani mengatakan seperti ini karena setidaknya, lebih atau kurangnya saya telah sedikit membuktikan. Dapat dikatakan telah sedikit bersinggungan dengan media alternatif selama tiga tahun berjalan ini. Walaupun ada kalanya banyak juga dari beberapa penulis yang dibilang tangguh telah turut serta menyumbangkan karya dan pemikirannya dalam media alternatif tersebut. Saya pribadi angkat topi terhadapnya.
Namun saya pun masih beranggapan bahwa yang saya lakukan tersebut adalah hal yang masih sangat jauh dari sempurna. Sejauh ini masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan, mungkin juga teman-teman seperjuangan saya akan beranggapan seperti itu. Setiap bulan mengelola buletin yang benar-benar dikelola dengan dana pribadi, rela memotong uang saku dan menghabiskan waktu demi penerbitan buletin itu. Karena beberapa buletin yang bersinggungan dengan saya tersebut merupakan buletin indie, dengan segala sesuatu yang hampir dilakukan oleh diri sendiri. Ditulis sendiri, disebarkan sendiri, lalu hingga akhirnya dibaca sendiri. Benar-benar onani. Haha. Pendek kata seperti itu, walaupun juga banyak yang turut simpati dengan media yang saya kelola, maksudnya kami. Karena mau tidak mau, tidak hanya saya yang mengelola, namun ada beberapa kawan lain yang turut membantu serta menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk menjadi orang gila. Tidak digaji, juga tidak menggaji, namun memotong gaji pribadi. Hehe.
Buletin/ media alternatif tersebut merupakan bentuk media komunikasi bidang seni, budaya dan lain-lain. Sebuah zine yang banyak dianggap sebagai salah satu bentuk propaganda kiri, komunis, atheis dan lain-lain. Sebenarnya zine tidak seburuk dan sepicik stereotipe demikian. Karena seringnya dijatuhi dengan bertubi prasangka negatif terhadap segala sesuatu yang dilakukan dalam pengelolaan zine tersebut. Karena zine pun memiliki isi dan bentuk yang beragam dalam setiap terbitannya. Media tersebut berbentuk cetak, namun biasanya cetakan hanya dalam bentuk fotokopian. Karena memang media tersebut pengelolaannya masih sangat minim dana. Sejalan dengan itu, maka banyak orang menamakan media tersebut  sebagai media alternatif.
Slanjutnya, dilihat dari sebutan/ namanya. Nama ‘zine’ diambil sebagai kependekan dari fanzine dan berasal dari potongan ‘magazine’ (majalah). Berupa format hard copy yang lebih mirip dengan news letter/ buletin kecil. Dengan cetakan terbatas dan melalui ruang lingkup yang terbatas pula. Namun akhir-akhir ini telah marak berkembang, menyebar dan mengakar melalui internet, baik melalui jejaring facebook, juga dapat diunduh/ download dengan mudah, cepat dan praktis, tanpa harus bersusah untuk mengirim dalam bentuk hard copy. Tinggal klik saja, maka akan didapat sama persis, terkadang malah lebih bagus, tidak buram, bahkan berwarna.
Biasanya media ini tujuan publikasinya untuk berbagi informasi dan ide-ide ringan saja. Sehingga seringnya dijual murah (sekadar balik modal pengelolanya), atau bahkan digratiskan. Namun sebenarnya memiliki konsep yang hampir mirip dengan majalah. Hanya saja pengorganisasiannya tidak wajib untuk dilakukan secara profesional. Isi dan format terbitan tidak harus selalu sama, tidak terlalu dikejar deadline karena dipublikasikan kapanpun sesuai kehendak pengelolanya, atau setidaknya melihat situasi dan kondisi yang tepat. Jumlah cetakan pun biasanya disesuaikan dengan isi kantong pengelolanya. Karena memang pada kenyataannya lebih efisien jika dicetak, setidaknya sekadar dengan fotokopi.
Sehingga dapat digariskan bahwa zine merupakan media lain yang terlahir ketika seseorang atau komunitas tertentu yang ingin menciptakan sarana baru demi kelangsungan proses kreatifnya. Biasanya dilakukan oleh para mahasiswa dan beberapa komunitas tertentu yang kurang sepakat dengan kebijakan dalam sistem dari lembaga tertentu. Karena bisanya zine terlahir bersamaan dengan budaya perlawanan. Sebuah media bebas yang tidak begitu membutuhkan keahlian tertentu dalam pengelolaannya. Diciptakan oleh komunitas penggemar hal-hal tertentu yang sangat jarang ditemukan di ruang masyarakat pada umumnya. Terlahir sebagai media yang memiliki kebebasan penuh dalam memproduksi maupun berkreasi.
Sedikit cerita tentang beberapa media alternatif yang sempat saya kerjakan hingga saat ini. Ketika pertama dengan Buletin Lembah Kelelawar3, mulai terbentuk pada Agustus 2009. Digagas oleh beberapa kawan seperjuangan, saya sebutkan, di antaranya Sulung Pamanggih dan Widyanuari Eko Putra. Kemudian kami merangkul beberapa kawan lagi ketika merasa perlu menebarkan virus gila ini, yang sempat bersinggungan di antaranya Ibrahim, Ucup Endro Kumoro, Maftuhah dan Fitriyani. Ketika itu kami sempat gila-gilaan dalam penyebaran buletin tersebut, untuk pertahanan pengelolaan serta sambung nafas kami sempatkan dan paksakan untuk memasuki kelas kuliah di kampus. Kami membacakan puisi atau cerpen yang ada dalam buletin, lalu menjual buletin tersebut kepada para mahasiswa dengan harga sewajarnya, bahkan terkadang seikhlasnya. Tidak hanya kepada para mahasiswa saja, kami pun menjual kepada para dosen yang sedang mengajar pada jam kuliah itu. Begitu pula sering kami sebar secara gratis kepada kawan-kawan sesama pecinta sastra dan para seniman. Sungguh, itu yang kami lakukan, bertahan hingga sekitar satu tahun.
Lalu setelah itu saya beranjak menawarkan melalui Buletin Rumah Diksi4 yang saya coba untuk ditiupkan kepada kawan-kawan di Kendal dan sekitarnya. Ketika ada sedikit kemungkinan kecil dari saya untuk pulang ke kampung halaman. Namun hasilnya ya tetap begitu-begitu saja. Malah saya rasa lebih parah sari buletin yang pertama itu. Lalu kalau seperti ini siapa yang akan disalahkan? Yang menciptakan media itu atau kepada siapa pun yang mendengar media itu dan ditunggu untuk berbaik hati berpartisipasi?
Namun apa pun yang terjadi, pekerjaan gila tersebut tetap saya kerjakan, alhamdulillah hingga saat ini masih saya lakukan aktivitas penghilang kejenuhan tersebut. Hingga pada akhirnya beberapa bulan ini saya merangkul dua adik kelas saya dari SMA N 2 Kendal, sekolah yang dulu sempat saya singgahi. Kedua adik kelas tersebut adalah Elisabeth Arum Sri Mulia dan Ruwaida. Memang hal tersebut sebenarnya telah saya rencanakan sejak awal ketika saya bertekad meluncurkan buletin ini. Namun baru setelah beberapa edisi, saya mendapat pencerahan, ketika semua virus gila yang mengidap saya tidak akan berkembang dengan sehat ketika saya belum menularkan kepada orang lain. Begitulah.
Lalu selanjutnya kenapa disebut kekuatan? Apakah terdapat kekuatan dalam media alternatif? Dalam hal ini saya butuh bantuan kepada siapa pun untuk menjawabnya. Tentunya kepada khalayak yang merasa bersimpati dan mengamini media alternatif yang gila seperti ini.
Namun secara bodoh saya, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang kuat dan tidak ada kekuatan yang tersembunyi dari media alternatif tersebut bila tanpa arah dan tujuan yang jelas serta ketepatan dan kesepakatan yang tegas. Saya katakan, semua ini bukan hal yang megah. Bukan hal mewah yang setiap saat dapat dikeruk keuntungan yang serba melimpah. Semua ini terdengar biasa-biasa saja bila tidak dikelola dengan baik. Akan sia-sia bila tidak mampu dipertahankan dan dijalankan secara dinamis. Maka harus tetap bergerak dan selalu minat untuk menemukan. Karena ini semua bukanlah sesuatu yang akan mendapatkan imbalan setiap awal bulan seperti halnya yang diperoleh pegawai negeri. Semua ini adalah pekerjaan yang sangat membutuhkan ekstra kesabaran dan kekuatan. Imbalan pun akan didapatkan entah kapan, belum tahu. Hehe.
Maka kekuatan ya itu, ‘bumerang’. Bila siap amunisi dan jurus tempur maka akan menang. Jika tidak pernah berlatih maka akan lengah dan akan mati sendiri. Sejarah pun tidak akan mencatat apa-apa. Semua ini membutuhkan kawan, butuh relawan untuk sedikit berpartisipasi dan menyumbangkan setidaknya secuil dari semegah proses kreatif khalayak. Yakni dari saudara-saudara sekalian. Maka jangan saling menjatuhkan atau bahkan menendang. Marilah berjabat tangan dan bersetubuh karya. Menciptakan iklim yang jinak dan bertahan dalam dinamisnya. Semoga.
  
1 Penulis adalah koordinator rumah diksi art creative; pengelola buletin rumah diksi; sempat menjadi koordinator komunitas lembah kelelawar; juga mengelola buletin lembah kelelawar; kini dia masih mengabdikan diri sebagai kacung di teater gema ikip pgri semarang walaupun telah lulus kuliahnya di ikip pgri semarang.
facebook/ email: naka_andrianez@yahoo.co.id HP: 085290066710. mengelola  blog: http://www.panembramapicisan.blogspot.com; http://www.rumahdiksibuletin.blogspot.com; http://www.komunitassastralembahkelelawar.blogspot.com;
2 Sebuah acara rutin setiap tahun yang diselenggarakan oleh Komunitas Lereng Medini, Boja; Milis Apresiasi-Sastra (APSAS); dan Pondok Maos Guyub.
3 Buletin Lembah Kelelawar merupakan sebuah media alternatif sastra yang diterbitkan  oleh Komunitas Lembah Kelelawar, Semarang.
4 Buletin Rumah Diksi merupakan sebuah media alternatif sastra yang diterbitkan tiap bulan oleh Rumah Diksi Art Creative, Desa kertomulyo RT 01/ RW 07, Kec. Brangsong, Kab. Kendal. Jawa Tengah. 51371.

Setia Naka Andrian, lahir dan masih tinggal di Tabag Masjid RT 01/ RW 07, Desa Kertomulyo, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, 4 Februari 1989. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, mengabdikan diri sebagai kacung di Teater Gema IKIP PGRI Semarang, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar Semarang, Rumah Diksi Art Creative Kendal dan Pembina Lembaga Pers Pelajar (LPP) Majalah Oasis SMA N 2 Kendal. Beberapa puisinya dibukukan dalam antologi bersama “Kursi Yang Malas Menunggu” Taman Budaya Jawa Tengah dan Hysteria, 2010; Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; Antologi puisi tiga tahunan Hysteria dan Dewan Kesenian Semarang “Beternak Penyair”, Penerbit Frame Publishing, Desember 2011. Beberapa cerpennya dibukukan dalam antologi bersama “Bila Bulan Jatuh Cinta” Penerbit Gradasi Semarang, 2009; Kumpulan Cerpen Pemenang Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia Bukan Perempuan, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI STAIN Purwokerto, Penerbit OBSESI Press – Grafindo, 2010; Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; antologi cerpen “Tanda”, pemenang lomba cerpen tingkat umum Se-Jawa Tengah Gelar Budaya Teater Semut Kendal, 2010; Antologi Cerpen Joglo 11 “Tatapan Mata Boneka”, Taman Budaya Jawa Tengah, 2011; Antologi Cerpen Bersama IKIP PGRI Semarang, “Perempuan Bersayap di Kota Seba”, KIAS IKIP PGRI Semarang, 2011;


MANTRA

aku telah mencoba
menegakkan alif di mana-mana
sambil sesekali
kutanam doa
pada paruh ababil surga
kutebar ladang
kusebar segala mantra
jiwa bertapa
::.
2007

Rabu, 22 Februari 2012

PENYAIR-PENYAIR ITU

"Penyair-penyair itu 
diikuti oleh orang-orang yang dungu.
Tidakkah kaulihat
mereka menenggelamkan diri
dalam sembarang lembah khayalan dan kata,
dan mereka suka mengujarkan
apa yang tak mereka kerjakan
kecuali mereka yang beriman,
banyak mengingat dan menyebut Allah
dan melakukan pembelaan ketika dizalimi."

(Terjemahan QS. Asy-syu'araa, 224 - 227)

GUS DUR DAN PARA PECINTA

Peluncuran Gus Punk oleh Ning Inaya Wahid didampingi Presiden PSK - Bahrul Ulum A. Malik Gus Punk - Antologi Puisi untuk Gus...