Rabu, 01 Mei 2013

Cerpen Abi Arjun Naja : Ketika Cinta



Ketika Cinta
Oleh : Abi Arjun Naja*

Belum puaskah kau tandai penantian ini dengan rindu. Rindu yang tak henti menebar ragu. Menelan gelisah dalam kalbu, hanya karena menunggu waktu, dengan segudang tanda tanya, adakah kau simpan harapanku dalam bejana hatimu?
Udhoh, aku ini manusia biasa, bukan malaikat, aku harap kau bisa mengerti tentang gelisah hati ini. Udhoh, telah banyak orang-orang ingin melamarku, yang datang ke rumah adalah orang-orang istimewa. Umumnya memiliki lembaga pendidikan dan pondok pesantren di tanah kelahiran mereka. Ada yang satu kabupaten, ada pula yang datang dari luar satu propinsi hanya untuk mendaftarkan diri menjadi mertuaku.
Udhoh, mereka sangat cantik, namun aku hanya mau menjadi imammu. Aku hanya ingin menemanimu, tak hanya di dunia ini, hingga akhirat nanti.
Lamaranku yang mauquf, tidak membuatku putusasa untuk memilikimu. Rasa itu semakin menggebu-gebu bukan karena kecantikan wajahmu yang berhasil meluluhkan hatiku. Namun kecantikan dan kelembutan hatimu yang takku temukan dari teman-teman yang lain. Semoga penilaianku tentangmu tidak berlebihan. Penilaian ini aku buat bukan untuk merayumu agar kamu mau menjadi istriku, melainkan sebagai wujud kekagumanku atas karya cipta Allah, yang telah mengenalkanku denganmu.
Udhoh, setelah kau pulang menimba ilmu dan al quran yang engkau hafal, aku pun telah usai dalam pengembaraan spiritualku, jelajah deso milang kori, tunggulah kehadiranku.
Aku berharap kedatanganku akan mengetuk hatimu, untuk menyunting dirimu dengan selalu berharap ridla Allah dan kita sah menjadi suami-istri, menjadi iman dan makmum yang saling berlomba meraih ridla Allah Subhanahu Wa Ta`ala, Aamiin.

ttd
Miftahussurur

***
Udhoh (panggilan akrab Raudhoh) serba salah membaca pesan instan yang dilihat pada BlackBerry barunya setelah PIN BB kiriman di invetnya. Udhoh tak berhenti berpikir memaknai pesan pada tiap-tiap aksara seperti mentarkib makna-makna dalam tiap lafadz pada Kitab Fathul Mu’in. Namun Udhoh seorang santri atau alumni pada sebuah pesantren yang terkenal bahkan tidak henti-hintinya dia selalu haus dengan ilmu, oleh karenanya dia pandai menyimpan kegalauan hatinya. Udhoh hanya dapat menyimpan rapat-rapat kegalauan hati Miftahussurur dalam almari hatinya. Udhoh tidak ambil pusing dengan kegalauannya. Kanjeng Nabi Sholallahu alaihi wasalam saja juga pernah galau ketika ditinggal oleh istri tercintanya, Khodijah al Kubro.
Namun Udhoh tak mau kegelisahan orang yang telah sungguh-sungguh ingin memilikinya seutuh hati, diketahui orang lain, termasuk Abah dan Umi yang sangat dia takdzimi. Udhoh hanya mampu menumpahkan segala keresahan yang dialami kepada Allah SWT. Setiap malam ia selalu berdoa sebagaimana doanya Nabi Musa a.s pada saat dikejar tentara Firaun Allahumma laka alhadu wailaka almustaka wa anta musta’an , keteguhan Udhoh bukan lantaran keturunan Aba dan Umi melainkan karena keyakinan yang dimilikinya.
Keyakinan yang tumbuh dari pengembaraannya, menekuni kitab-kitab kuning, kitab-kitab klasik ulama terdahulu (Nashoihul Ibad, Minhajul Abidin, Ihya’Ulumuddin, dll.) yang telah diyakini kebenarannya.
“Udhoh, sampai kapan kamu akan larut dengan kitab kuning? Usiamu sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Tak baik santri di usiamu, menunda-nunda pernikahan.” Itu angan-angannya yang terus memabalut dalam pikiran dan hati kecilnya.
Udhah segera menghentikan membaca kitab kuning Fathulbarry , yang baru dibeli oleh kakaknya, oleh-oleh dari Makkah, Udhoh menghela nafas panjang dan menunduk dengan takdhim suara itu terngiang dalam telinga hatinya yang dalam.
Sejak satu bulan lamanya Udhoh memang sudah dirumah, boyong dari pesantren. Setelah dirasa cukup oleh orang tuanya, karena Udhoh hanya sekedar tabarukan disalah satu pesantren yang diasuh oleh Kyai sepuh di sebuah kota pelajar. Maka orang tuanya datang menjemput dan pamitan pada Pengasuh pesantren tersebut dengan ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas bimbingan kyai dan tak lupa memohonkan doa untuk Udhoh agar kelak menjadi santri yang istiqomah dalam keteguhan imannya dan kesabaran atas karunia dan cobaan dari Allah Swt.
Tiga bulan lamanya pesan instan itu dibacanya, dan Miftahussurur tidak BB lagi, entah kesengajaan untuk menjaga ketenangannya, karena Kang Miftahussurur tahu kalau Udhoh sedang tabarukan Al Qur’an di Pesantren yang diasuh kyai sepuh disebuah kota pelajar. Dan Raudhoh berada dalam kesendirian. Berbuku-buku rindu yang telah disimpan rapi dalam almari hatinya. Hingga Udhoh pun tak bisa menafikan perasaan rindu kepada Miftahussurur, santri dan ustadz yang sangat di kagumi kepiawaian menguasai kitab kuning dengan keluasan ilmu pengetahuannya, dan yang pernah datang melamarnya. Santri yang pernah menawarkan diri menjadi imam setulus hati. Santri yang sempat membuat Raudhoh bahagia, karena Raudhoh bisa dengan cepat mengakhiri masa lajangnya. Masa yang penuh dengan goda dan tipu daya. Raudhoh sangat mendalam berteman sepi dan sunyi meremas dalam lamunan indah terbayang : Kang Miftahussurur, aku juga manusia. Kapan kau akan datang dan melamarku, hanya kamu, seorang santri yang telah berhasil memikat hatiku. Sudah berpuluh-puluh santri yang melamarku, namun tak satupun aku terima. Aku akan setia menunggu hadirmu, hingga kamu datang ke rumahku dan melamarku. Sungguh, penolakan (dalam kemauqufan lamaran) Aba terhadap lamaranmu, masih menyisakan misteri bagiku. Bisik Raudhoh dalam kesunyian.
“Assalamu’alaikum Raudhoh!” Suara yang sangat dikenal Raudhoh karena suara itu yang sangat dicintainya, dan suara itu berhasil membuyarkan lamunan. Raudhoh terkejut. Raudhoh segera berbenah diri, tak ingin lamunan kerinduannya terhadap Miftahussurur, diketahui Umi.
“Wa…’alai…..kum…salam, Umi!” Jawab Udhoh gugup.
“Tak biasanya, kamu gugup anakku!”
Udhoh terdiam. menundukkan pandangan. Raudhoh tak mampu menyampaikan risalah rindu yang semakin bertahta dalam hatinya, mengkristal bagai karang dalam lautan.
“Katakan saja, Udhoh! Insya Allah, Umi akan menjaga rahasia ini!”
Roudhoh memilih diam sesekali menatap wajah Umi. Wajah yang sangat dihormati.
“Raudhoh, siapa yang telah berhasil mengusik ketenangan batinmu, Raudhoh ! Siapa santri yang beruntung itu, katakan kepada Umi, betapa pun kamu berusaha menyembunyikan rahasia, naluri seorang ummi tidak bisa dibohongi. Umi yang telah melahirkanmu dan Umi pula yang paling mengerti perubahan sikapmu!”
Raudhoh tetap kokoh berusaha menyimpan berbuku-buku rindu dalam lemari hatinya.
“Raudhoh, Umi mengerti apa yang kamu rasakan. Umi juga paham, mengapa kamu tidak mau bercerita pada Umi. Raudhoh memang anak Umi yang istimewa pandai menyimpan rahasia, Umi jadi curiga, dengan sikap kamu yang selalu menolak lamaran dari tiap santri yang datang ke rumah ini. Kalau Umi boleh jujur, sikapmu berubah semenjak Kang Miftahussurur datang waktu itu. Semenjak itu hingga sekarang Udhoh selalu menolak tiap santri yang mau melamar dan menjadi pendamping hidupmu”
Raudhoh sangat gelisah, saat nama Kang Miftahussyurur disebut. Namun Raudhoh tetap berusaha tenang. Raudhoh memilih bersabar untuk mendengarkan segala hal yang dikatakan Umi.
“Kami memauqufkan (menghentikan tanpa ada jawaban) lamaran Miftahussurur saat itu, bukan karena kami tidak suka kepada dia, kami hanya ingin melihat kesungguhan Miftahussurur dalam mendapatkanmu. Kami sangat senang bisa memiliki menantu seperti Kang Miftahussurur. Namun kami memiliki alasan, untuk kebaikanmu dan kebaikan Miftahussurur agar kamu lebih konsentrasi dengan Al Qur’anmu, bukan cuma hafal atau hafidzoh tapi mengerti dan memahami tafsirnya, sehingga pesantren yang didirikan Abah ini bisa lebih maju dan ada penerus yang lebih ‘alim dan ‘alamah, dan pilihanmu sangat tepat pada Miftahussurur.
Udhoh mulai tersenyum, namun Udhoh berusaha bersikap tenang, tidak mau Umi terlalu mencurigainya. Raudhoh lega. Peluang Raudhoh untuk menjadi makmum dalam kehidupan Kang Miftahussyurur terbuka lebar.
“Ya Allah inikah skenario cinta yang Engkau ciptakan untuk kami. Terimakasih atas jalan yang Engkau berikan”, Ucap Udhoh dalam hatinya.
“Raudhoh, kami telah menghubungi keluarga Kang Miftahussurur, Kami tanyakan tentang keadaan dan kabarnya kepada keluarganya, kami khawatir setelah lamaranny mauquf, Miftahussurur sudah memiliki santriwati yang lain, ternyata…?” Belum sempat Umi melanjutkan percakapannya, terdengar suara dari luar rumah mengucapkan salam, Umi segera menuju pintu. Pintu telah terbuka, ternyata keluarga Kang Mftahussurur sudah berada di halaman rumah. Umi terkejut dan segera memberi tahu suaminya dan segera memberitahu Raudhoh untuk segera menyiapkan diri, karena ada tamu penting tak terduga.
Di ruang tamu, dua keluarga telah bertemu. Keluarga besar Raudhoh dan keluarga Kang Miftahussurur berkumpul. Mereka mengadakan pertemuan penting. Namun Raudhoh masih berada dalam kamar dan segera menyiapkan minuman untuk tamu yang hadir kerumahnya.
Beberapa menit kemudian, Raudhoh datang ke tengah-tengah kedua keluarga yang sedang asyik beramah tamah. Raudhoh segera menghidangkan minuman yang telah dibawanya seraya menebar senyuman.
“Alhamdulillah, Raudhoh masih seperti dulu, sangat anggun! Kayaknya sudah siap menikah” Ucap KH. Fauzi sementara Umi dan Aba Dania hanya menganggukkan kepala. Namun Raudhoh semakin tak tenang. terkejut dan belum mampu menguasai keadaan mendengar ucapan KH. Fauzi wakil dari keluarga besar Miftahussurur.
“Hal ini menandakan kalau Raudhoh memang suka kepada Miftahussurur, bukankah begitu Bu Nyai?”, Kata Nyai Hj. Mahmuddah rombongan dari keluarga Miftahussurur kepada Nyai Hj. Wardah, Umi dari Raudhoh.
Semua yang ada dalam ruangan riang gembira, hanya Raudhoh yang belum mampu menguasai diri. Pipi lesung Raudhoh memerah.
“Duduklah Raudhoh, kami ingin bicara kepadamu, Mendekatlah anakku! Sebenarnya kami telah merencanakan suasana seperti ini, Alhamdulillah rencana itu bisa terlaksana hari ini. Tutur KH. Suud Musthofa ayah Udhoh.
Raudhoh diam, tak mengerti maksud dari penuturan orang tuanya. Namun Raudhoh tetap berusaha untuk sabar dan mendengarkan kejutan demi kejutan yang akan diterima.
“Kami mengerti mengapa Raudhoh tak mau dijodohkan dengan orang lain selain Kang Miftahussurur, namun kami hanya ingin tahu keteguhan hati Raudhoh dalam menunggu kehadiran Kang Miftahussurur, kami sengaja tak memberi tahu Udhoh, mengapa kami memauqufkan lamaran Miftahuussurur, itu agar Udhoh memperdalam pengetahuan agamanya hingga kelak kesabaran yang ditempa dalam liku-liku pertalian dalam pertautan hatinya pada Kang Miftahussurur, dapat diambil pelajaran bahwa dalam bahtera keluarga itu banyak rintangan yang dihadapi ibarat kapal di tengah lautan dengan goncangan ombak tak akan pernah tenggelam daterpa badai.
Raudhoh semakin menundukkan pandangan. Pipi lesung Udhoh semakin memerah. Sesekali Udhoh pun memandang wajah Umi dan wajah-wajah yang ada dalam ruangan penuh berkah itu.
“Raudhoh dalam lamaran (nakokke) kali ini, Miftahussurur sengaja tidak datang, karena budaya santri yang ditempa kang Miftah dengan menyandang predikat ustadz guru ngaji sangat kuat, yaitu tidak diperkenankannya seorang yang bukan muhrim bertemu dalam satu ruang, apalagi Kang Mifatahussurur punya qoidah kebaikan itu akan dimulai dari berbuat baik dan benar. Insya Allah beberapa bulan lagi setelah silaturrahim ini akan dilangsungkan ritual khitbah atau lamaran (tentunya calon penganten laki-laki disunahkan untuk datang) untuk sekedar melihat wajah dan sebagian jari-jari tangannya. Dan kami sekeluarga datang juga hanya ingin mengetahui dan meminta persetujuan darimu Udhoh. Apakah siap menjadi istri Kang Miftahussurur?”
Raudhoh hanya menunduk,tidak bisa menyampaikannya dengan kata-kata.
“Jika Raudhoh diam, berarti Raudhoh sudah menerima lamaran Kang Miftahussurur ini dan sudah siap menjadi istrinya. Sebab dalam Islam, bila ada seorang perempuan perawan dikhitbah oleh seorang muslim lalu diam, pertanda perempuan tersebut menerima khitbah tersebut dan kami yakin Raudhoh juga tahu akan hal ini”. Para tamu Abah dan Uminya tertawa kecil melihat raut muka Udhoh. Raudhoh mengangguk dan seluruh ruangan menjadi riang gembira. Lalu KH. Su’ud Mostofa menutup pertemuan dengan doa.

Robbana alaika tawakkalna wailaikal anabna wailakal mashir, alhamdulillahi ala kulli halin waqaoulin wa ala kulli ni’matin. “Ya Allah, kesabaran ini akhirnya berbuah juga.”,  Bisik Raudhoh dalam doanya.

Kaliwungu, 23 April 2013





Abi Arjun Naja 
Kelahiran Kendal 6 Desember, adalah Penyair dan Cerpenis 
Religius, karyanya telah terbit dibeberapa media cetak maupun 
elektronik. Tinggal di Kaliwungu. Bisa disapa melalui //facebook.com/abiarjunajah

UNDANGAN LAUNCHING ANTOLOGI PUISI UNTUK GUS DUR

Kepada Yth. Penulis Antologi Puisi untuk Gus Dur dan Insan Seni di Indonesia Salam Budaya  Kami sampaikan terima kasih...