Minggu, 17 Mei 2015

PEMENANG LOMBA CIPTA PUISI MENGENANG CHAIRIL ANWAR | 28 APRIL 2015

(Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara)*
JUARA 1
Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara 
(Kalimantan Selatan)


SAJAK EMAS UNTUK SEORANG PENYAIR 45: 
CHAIRIL ANWAR 

di tengah malam piatu, aku teringat seorang penyair pelopor angkatan empat lima
yang merawi hari-harinya begitu bengis, nista dan sangsi
bertahun berjalan antara tajam kerikil dan rantai belenggu
tak pernah takhluk tak mau tunduk pada kekuasaan pada takdir sekalipun
dari masa depannya yang terampas dan harapan-harapannya yang putus
menjaga dan membikin janji dengan Bung Karno
Bung Hatta, dan Sjahrir, maju bersama Diponegoro
kepada nasrani sejati dan pemeluk teguh
sebagai penyair berani mati mengabdi untuk negeri
bersatu seurat senadi di lautan api

Chairil, segala kenyataan kau ajarkan
penyaduran bagi generasimu tapi apalah mereka perduli
mereka hanya tahu kobar semangat, didih darah panasmu dan segala gejolak penghabisanmu
kau titipkan untuk penerusmu dari Krawang-Bekasi
untuk memaknai dan mengenalkan arti mempertahankan nyawa
dan bagaimana cara untuk disebut Merdeka!
bagi yang terserak si mati kepada yang menggebuh si hidup

daun-daun cemara menderai, meski gugur layu tapi jiwa juangmu tak pernah kering
kami mengenangmu pada senja saat di pelabuhan kecil terbayang kami padamu, Chairil
terasa tangan kasarmu membelai dari kehidupan kebinatanganmu
begitulah rahasia maut mempertunjukkannya kepada kita
sekalipun jam dinding berdetak kita tak dapat menerka
yang kita punya hanya teguh perlawanan dari kulit dada yang terkoyak
dan kepercayaan dari hati pendahulu

Tuhan tak hanya berada dalam kepul asap punting rokokmu yang bertebaran, Chairil
melainkan berjalan beriring dengan diri dan bayanganmu menyusur setiap malam
menyisir dalam hening dan sepimu
dalam kesendirianmu, dalam kegelisahanmu

Chairil, betapa sayang kau mati muda
padahal sebelum sempat berpeluk dengan cintamu, karena ajal menjeputmu lebih dulu
kepada Sri Ajati, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Ina Mia
sampai kekasih-kekasih manis dan kerabatmu yang jauh di seberang-seberang pulau

di Karet, 3-4 kaki di bawah tanah engkau tenang
tapi di atas tanah kesaksian ini kami tergetar-getir, terpingkal-pingkal
menyalakan dan memberi ruh pada larik-larik dan bait-bait sajak emasmu
sementara duka terus bertakhta membungkam segala hakikat kata
begitu tentramkah kematian itu Chairil? sungguh kita tak bisa berpaling
kapal-kapal dan perahumu telah jauh berlayar membawa sedu sedanmu di keluasan lautan lain
angin pegunungan dan cuaca mendayu berputar pada luka musim yang lain
tapi malam tetap seperti dahulu setia menyua menjamu bulan, bintang dan mimpi terang
dalam doa melati dan perjuangan mawar
kami minta seribu tahun lagi melanjutkanmu, Binatang Jalang


Banjarmasin-Karet, 2015


*
terlahir di Kalimantan Selatan, 5 Juni 1994, menikmati hidupnya dengan membaca, menulis, belajar dan berbagi. Sampai sekarang masih aktif bersastra dan berkesenian di Sanggar Buluh Marindu yang didirikannya di kota Seribu Sungai, Kalimantan Selatan. Alamat: Padang Barikin, rt. 05, rw. 03 kec. Haruyan, kode post. 71363, kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Email. rezqieatmanegara@yahoo.com, Kontak. 085248005888

Sabtu, 16 Mei 2015

DUNIA DAN PUISI HARUS DIBACA*


Membaca puisi Raedu Basha seperti masuk pada dunia yang entah di mana. Puisi-puisinya memaksa kita untuk membaca di luar puisi. Puisi-puisinya memaksa pembaca untuk jauh meneropong mengetahui apa yang ada di balik puisi. Puisi-puisi yang dicipta biasa dikaitkan dengan peristiwa tertentu atau kata tertentu. Basha termasuk orang yang rajin menyimpan kata (menurut saya). Ini jelas terlihat pada pola-pola kata yang dibawanya seperti “Mataparanga”  dan “Arhoci”. Ia berupaya memberi kesan mendalam pada puisinya.
Puisi-puisi Raedhu Basha juga selalu membawa saya pada peristiwa tertentu atau peristiwa tertentu dalam kehidupannya. Ada kata “Balian”, “Panglima Bukha”, “Osci”, “Campania”, “Tarthus”, dan lain sebagainya. Tentu ini adalah kata yang bisa muncul karena sebuah peristiwa. Dan ini sangat menyulitkan. Jika mungkin saja puisi ini dibentuk seperti puisi esay. Mungkin akan lebih mudah dibaca tetapi belum tentu menarik dibaca. Puisi-puisi dalam buku ini sangat padat makna dan peristiwa.
Saya memandang puisi Raedhu dalam sudut pandang mimetis.Ya, tidak ada puisi yang tercipta dari kekosongan. Ia mungkin dari alam, masuk ke tubuh, dan menjelma dalam kata jadi puisi. Membaca puisi-puisi Raedhu Basha seperti berdiri di gerbang dunia. Pertanyaanya adalah ‘apakah kita mau memasukinya atau tidak?’ Saya umpamakan puisi-puisi ini seperti jendela dunia. Kita bisa melihat nilai estetis yang sangat tinggi dari puisinya.Tidak hanya melihat lewat jendela, jika kita mau mungkin kita bisa melompati jendela dan masuk di dalam (puisi) nya.
Saya yakin Raedhu adalah orang yang suka membaca, menonton, mendengarkan, dan berani mencoba hal-hal baru. Ini sangat terbukti dari puisi-puisinya yang beragam dan punya kedalaman yang luar biasa.
Selain menjadi jendela dunia, tentu kita dipaksanya untuk mengetahui “apa itu Madura?” Ya, bagi orang seperti saya yang baru sekali ke Madura (itu pun karena Ziarah). Saya tidak begitu tahu banyak tentang Madura. Tetapi setelah membaca Raedhu, oh Waowwww … saya dipaksa menjelajahi Madura. Dalam puisinya, Raedhu seperti anak Madura yang tak mau melupakan daerahnya walau ia sedang “merantau” kemana-mana. Itu Nampak pada larik puisinya, seperti “Kacong” atau “Kacong Cebbingku” dan lainnya.

Lalu dengan puisi ini, tugas besar kita adalah ‘bagaimana orang agar mau dan bisa membacanya?’
Ya, dalam lingkup yang lebih luas saya berpendapat “puisi tidak boleh terhenti padateks.” Puisi harus menjelma dalam bentuk yang lebih disuka. Inilah tugas para deklamator, musikus, pelukis, dan penyair sendiri agar “memaksa” orang untuk membaca karya sastra. Kan eman-eman, puisi sebagus ini hanya sebagian kecil yang “membaca”?

Semangat.
Penghalang adalah river! (JKT48)

by : Zulfa Fahmy
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Unnes Semarang
HP. 085226445396 | E-mail : mazfafa@gmail.com


*disampaikan pada NgopiSastra #5 PSK | Pelataran Sastra Kaliwungu, Bedah Buku dan Diskusi “MataPangara” karya Raedu Basha, di Saung Juragan Kaliwungu, Sabtu 28 Pebruari 2015


Puisi Eko Tunas

Tidak Ada Tidak ada yang tahu Apa bakal terjadi Laut belum bersaksi Satu pesawat tempur Mau bombardir kota Muncul dari sisi g...