Minggu, 30 Desember 2018

Yang Terkekeh-kekeh



sila diklik 

Yang Terkekeh-kekeh

ia terkekeh-kekeh melihat bokong inul
yang digoyang-goyang di atas almari
ia tak mampu menahan syahwat kemanusiaannya
yang barangkali ia terlantarkan di gedung bioskop
bersama gus mus kawan silatnya

gus mus memegang bokong inul
di depan para kiai dan ustadz
“astaghfirullah” seru meraka
namun gus dur tetap terkekeh-kekeh
melihat pemandangan asyik itu
“ayo nul, goyang terus, kwkwkw”

Aku melongo menyaksikan percaturan mereka
Dan mencoba menebak-nebak
Tapi tak sampai ke langit jua, gus

Langit Kendal, 13072013/ 23.19
Bahrul Ulum A. Malik

***
puisi ini ada di dalam buku antologi puisi buat gus dur: Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel. Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Kudus bekerjasama dengan Penerbit Forum Sastra Surakarta (September 2013)
Pembaca Puisi: M. Lukluk Atsmara Anjaina

Buletin Sastra D`RUANG #6 Desember 2018



Cover Buletin Sastra D`RUANG #6 Desember 2018

Kamis, 13 Desember 2018

Antologi 100 Puisi untuk Gus Dur




Pelataran Sastra Kaliwungu bersama Gusdurian Kendal 
akan menerbitkan antologi 100 puisi untuk Gus Dur

Kirim 3-5 puisimu tentang Gus Dur, profil/biodata, dan photo diri  ke email: pskkendal@gmail.com sebelum 31 Desember 2018

100 puisi yang terpilih akan dibukukan, penulis diundang pada peluncuran buku dan mendapat sertifikat. Pengiriman puisi ini bersifat sukarela, penulis tidak dijanjikan mendapatkan buku tersebut. (peluncuran buku menunggu info selanjutnya)

Gratis (panitia membuka donasi sukarela dari peserta dan dermawan), terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan umum

info WA:
0896 4700 0070 • 0856 4140 2250
www.pelataransastrakaliwungu.com

Kamis, 06 Desember 2018

NH Dini, Selamat Jalan, Selamat Berpulang



Sejarah Hidup
NH Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul".
NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini adalah pembatik yang selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung, Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan.
Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi sopir lokomotif atau masinis. Tapi ia tak kesampaian mewujudkan obsesinya itu hanya karena tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api.
Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena ia memang suka cerita, suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya. Misalnya sehabis membaca sebuah karya, biasanya dia berpikir jika hanya begini saya pun mampu membuatnya. Dan dalam kenyataannya ia memang mampu dengan dukungan teknik menulis yang dikuasainya.
Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Semarang dalam acara Tunas Mekar.

Karier
Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telanjur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.
Beberapa karya Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama NH Dini, ini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan. Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki. Terlepas dari apa pendapat orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan. Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya. Ia seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, seperti komentar Putu Wijaya; 'kebawelan yang panjang.'
Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang wanita. Namun banyak orang berpendapat, wanita yang dilukiskan Dini terasa “aneh”. Ada pula yang berpendapat bahwa dia menceritakan dirinya sendiri. Itu penilaian sebagian orang dari karya-karyanya. Akan tetapi terlepas dari semua penilaian itu, karya NH Dini adalah karya yang dikagumi. Buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan pembicaraan sebagai karya sastra.
Bukti keseriusannya dalam bidang yang ia geluti tampak dari pilihannya, masuk jurusan sastra ketika menginjak bangku SMA di Semarang. Ia mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah. Ia bergabung dengan kakaknya, Teguh Asmar, dalam kelompok sandiwara radio bernama Kuncup Berseri. Sesekali ia menulis naskah sendiri. Dini benar-benar remaja yang sibuk. Selain menjadi redaksi budaya pada majalah remaja Gelora Muda, ia membentuk kelompok sandiwara di sekolah, yang diberi nama Pura Bhakti. Langkahnya semakin mantap ketika ia memenangi lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Setelah di SMA Semarang, ia pun menyelenggarakan sandiwara radio Kuncup Seri di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang. Bakatnya sebagai tukang cerita terus dipupuk.
Pada 1956, sambil bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Sejumlah bukunya bahkan mengalami cetak ulang sampai beberapa kali - hal yang sulit dicapai oleh kebanyakan buku sastra. Buku lain yang tenar karya Dini adalah Namaku Hiroko dan Keberangkatan. la juga menerbitkan serial kenangan, sementara cerpen dan tulisan lain juga terus mengalir dari tangannya. Walau dalam keadaan sakit sekalipun, ia terus berkarya.
Dini dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun, menurutnya teknik bukan tujuan melainkan sekadar alat. Tujuannya adalah tema dan ide. Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.
Ia mengakui bahwa produktivitasnya dalam menulis termasuk lambat. Ia mengambil contoh bukunya yang berjudul Pada Sebuah Kapal, prosesnya hampir sepuluh tahun sampai buku itu terbit padahal mengetiknya hanya sebulan. Baginya, yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, sebelum tidur ia tulis tulis dulu di buku catatan dengan tulis tangan.
Pengarang yang senang tanaman ini, biasanya menyiram tanaman sambil berpikir, mengolah dan menganalisis. la merangkai sebuah naskah yang sedang dikerjakannya. Pekerjaan berupa bibit-bibit tulisan itu disimpannya pada sejumlah map untuk kemudian ditulisnya bila sudah terangkai cerita.
Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di KobeJepang, pada 1960. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (lahir pada 1961) dan Pierre Louis Padang (lahir pada 1967). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis.
Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti ke mana suaminya ditugaskan. Ia diboyong ke Jepang, dan tiga tahun kemudian pindah ke Phnom PenhKamboja. Kembali ke negara suaminya, Prancis, pada 1966, Dini melahirkan anak keduanya pada 1967. Selama ikut suaminya di Paris, ia tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace). Dia turut serta menyelamatkan burung belibis yang terkena polusi oleh tenggelamnya kapal tanker di pantai utara Perancis.
Setahun kemudian ia mengikuti suaminya yang ditempatkan di ManilaFilipina. Pada 1976, ia pindah ke Detroit, AS, mengikuti suaminya yang menjabat Konsul Jenderal Prancis. Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.
Mantan suaminya masih sering berkunjung ke Indonesia. Dini sendiri pernah ke Kanada ketika akan mengawinkan Lintang, anaknya. Lintang sebenarnya sudah melihat mengapa ibunya berani mengambil keputusan cerai. Padahal, waktu itu semua orang menyalahkannya karena dia meninggalkan konstitusi perkawinan dan anak-anak. Karena itulah ia tak memperoleh apa-apa dari mantan suaminya itu. Ia hanya memperoleh 10.000 dollar AS yang kemudian digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang.
Dini yang pencinta lingkungan dan pernah ikut Menteri KLH Emil Salim menggiring Gajah Lebong Hitam, tampaknya memang ekstra hati-hati dalam memilih pasangan setelah pengalaman panjangnya bersama diplomat Perancis itu. la pernah jatuh bangun, tatkala terserang penyakit 1974, di saat ia dan suaminya sudah pisah tempat tidur. Kala itu, ada yang bilang ia terserang tumor, kanker. Namun sebenarnya kandungannya amoh sehingga blooding, karena itu ia banyak kekurangan darah. Secara patologi memang ada sel asing. Kepulangannya ke Indonesia dengan tekad untuk menjadi penulis dan hidup dari karya-karyanya, adalah suatu keberanian yang luar biasa. Dia sendiri mengaku belum melihat ladang lain, sekalipun dia mantan pramugrari GIA, mantan penyiar radio dan penari. Tekadnya hidup sebagai pengarang sudah tak terbantahkan lagi.
Mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis cerita pendek yang dimuat berbagai penerbitan. Di samping itu, ia pun aktif memelihara tanaman dan mengurus pondok bacanya di Sekayu. Sebagai pencinta lingkungan, Dini telah membuat tulisan bersambung di surat kabar Sinar Harapan yang sudah dicabut SIUPP-nya, dengan tema transmigrasi.
Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tidaklah mudah. Baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari. Tahun-tahun sebelumnya ia mengaku masih menjadi parasit. Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.
Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000.
Dini kemudian sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Karena ia sakit, ia juga menjalani USG, yang hasilnya menyatakan ada batu di empedunya. Biaya operasi sebesar tujuh juta rupiah serta biaya lain-lain memaksa ia harus membayar biaya total sebesar 11 juta. Dewan Kesenian Jawa Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Hatinya semakin tersentuh ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, baik sebesar 10 ribu, atau 25 ribu. Setelah ia sembuh, Dini, mengirimi mereka surat satu per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya. Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di SlemanYogyakarta. Ia yang semula menetap di Semarang, kini tinggal di kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini membawa serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang.
Alhasil, Dini di Yogya tetap menekuni kegiatan yang sama ia tekuni di Semarang, membuka taman bacaan. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di lingkungan untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar, dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum. Semua buku ia seleksi dengan hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986 itu, sekarang diteruskan di aula Graha Wredha Mulya. Ia senantiasa berpesan agar anak-anak muda sekarang banyak membaca dan tidak hanya keluyuran. Ia juga sangat senang kalau ada pemuda yang mau jadi pengarang, tidak hanya jadi dokter atau pedagang. Lebih baik lagi jika menjadi pengarang namun mempunyai pekerjaan lain.
Dalam kondisinya sekarang, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidupnya. Ia merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Mungkin karena itu pulalah NH Dini tidak mudah menerima tawaran-tawaran yang mempunyai nilai manipulasi dan dapat mengorbankan harga diri.
Ia juga pernah ditawari bekerja tetap pada sebuah majalah dengan gaji perbulan. Akan tetapi dia memilih menjadi pengarang yang tidak terikat pada salah satu lembaga penerbitan. Bagi Dini, kesempatan untuk bekerja di media atau perusahaan penerbitan sebenarnya terbuka lebar. Namun seperti yang dikatakannya, ia takut kalau-kalau kreativitasnya malah berkurang. Untuk itulah ia berjuang sendiri dengan cara yang diyakininya; tetap mempertahankan kemampuan kreatifnya.
Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. Begitulah spontanitas penuturan pengarang yang pengikut kejawen ini. la tak sungkan-sungkan mengungkapkan segala persoalan dan kisah perjalanan hidupnya melalui karya-karya yang ditulisnya
Sebelum wafat, NH Dini tinggal di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran.

Kematian
Nh. Dini meninggal dunia tanggal 4 Desember 2018 pada usia 82 tahun karena kecelakaan lalulintas.[1][2] Nh. Dini meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan tol Tembalang. Jenazah dikremasi dan dimakamkan di Ambarawa pada 5 Desember 2018.

Sumber: 

Minggu, 02 Desember 2018

Perayaan Kecil PSK


Pemantik Puisi, Heri CS

Barangkali, bagi siapapun tentunya tak akan melewatkan moment hari ulang tahunnya, begitupun sebuah komunitas. Sebagai sebuah komunitas, memperingati hari ulang tahun merupakan sesuatu yang musti dilakukan sebagai pembuktian terhadap konsistensi komunitas tersebut. Selain itu juga sebagai riwayat kelahiran sebuah komunitas itu sendiri dan sebagai ajang intropeksi komunitas untuk berbenah dikemudian hari.

Hal itu turut diyakini oleh Komunitas Sastra Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), yang pada tanggal 9 Desember besok merayakan kelahirannya yang ketujuh. Sungguh, merupakan usia yang begitu belia bagi umur sebuah komunitas. Tetapi eksistensi dan keistiqomahan sebuah komunitas yang kini hendak berusia 7 tahun patut diacungi jempol.

Merayakan kelahiran tak selamanya musti dirayakan dengan pesta dan kegiatan yang penuh hingar bingar. Tetapi bagaimana perayaan itu dapat mengena bagi siapapun yang menghadirinya. Sebagai awal dari rangkaian perayaan kecil ini, PSK mengadakan Pelatihan Menulis Puisi yang diadakan di Gedung MI NU 04 Kumpulrejo Kaliwungu, Minggu (2/12). Dengan menggandeng Heri Condro Santoso, atau yang lebih akrab disapa Heri C.S. seorang penyair, jurnalis dan pegiat Komunitas Lereng Medini, Boja.


Peserta Pelatihan Menulis Puisi

Acara pelatihan ini diikuti kurang lebih 25 peserta dari beberapa sekolah, pondok pesantren  di Kendal, mahasiswa Kendal dan Semarang serta masyarakat umum. Tercatat beberapa mahasiswa UNISS, UIN Walisongo, UPGRIS, UNNES dan UNDIP turut merayakan kelahiran PSK dengan berpartisipasi dalam Pelatihan Menulis Puisi ini.

Bahrul Ulum A. Malik, Presiden PSK mengungkapkan terima kasih atas partisipasi para peserta dan berharap setelah pelatihan ini ada beberapa peserta dapat memanfaatkan apa yang didapatkan nantinya, dengan menekuni menulis.

Kegiatan diawali dengan akustikan dan pembacaan puisi oleh Bima W.S. dan M. Lukluk Atsmara Anjaina dengan membawakan lagu Sesuatu Yang Tertunda – Iwan Fals feat Padi dan pembacaan puisi biarkanlah jiwamu berlibur, hei penyair – Wiji Thukul. Kemudian dilanjutkan materi oleh Heri C.S.

Akustikan dan Baca Puisi oleh Bima WS dan Lukluk Anjaina

Mengawali pembicaraannya Heri C.S. mengajak peserta untuk lebih dulu mencintai budaya literasi atau membaca dan menulis. Beliau mengungkapkan bahwa budaya literasi musti kita hidupkan sebelum kita jauh mengenali puisi.

“budaya baca musti kita hidupkan. Kita patut beri apresiasi kepada beberapa sekolah dan perguruan tinggi yang sudah menerapkan Gerakan Literasi” ungkap Heri C.S mengawali pembicaraan.

Lebih lanjut, Heri yang juga penulis buku Perjumpaan: Sandiaga, Martin dan Boja (Bunga Rampai Esai 2010 – 2015) ini mengajak para peserta untuk berkenalan dengan puisi. Beliau memberikan metode berkenalan dengan puisi dengan meminjam metode yang diajarkan Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan belajar mengajar di perguruan Taman Siswa yang didirikannya. Metode ini dikenal dengan sebutan metode N-3 (niteni-nirokake-nambahi). Metode ini merupakan metode paling praktis dan efisien untuk diterapkan dalam mengenali puisi.

Penyerahan cinderamata oleh Presiden PSK untuk Narasumber Heri CS

”Dengan Niteni atau memperhatikan, kita perlu menyediakan waktu untuk membaca dan mengetahui banyak penyair berserta puisinya. Kita akan lebih mudah untuk mengenal dan memahami bentuk maupun gaya kebahasaan dalam puisi dan mencoba memilih puisi yang disukai. Yang kedua Nirokake atau menirukan, kita perlu mencoba menciptakan puisi dengan cara menirukan puisi yang disukai tadi sampai benar-benar menemukan kesamaan. Dan yang terakhir Nambahi atau menambah karya dengan mengembangkan puisi-puisi itu.” ujar Heri secara gamblang.

Acara pelatihan semakin mengalir ketika beberapa peserta melempar pertanyaan tentang kegelisahan, pengalaman dan prosesnya dalam mengenali dan bergelut dengan puisi.

“Kata indah itu belum tentu puisi. Tapi puisi sudah barangtentu kata indah. Lalu kata yang indah itu yang seperti apa?” Tanya Chadori, mengawali pertanyaan dengan bercerita pengalamannya dalam menerbitkan Antologi Puisi Tuna Asmara bersama beberapa kawan-kawannya.

Photo bersama peserta setelah usai pelatihan

 “kenapa setelah dilakukan kritik sastra, karya sastra tidak dapat direvisi?” Tanya Ahmad Zainul Fuad, seorang mahasiswa Universitas Islam Walisongo, Semarang. yang kemudian ditanggapi dengan mengatakan bahwa kritik sastra digunakan untuk memperbaiki karya sastra selanjutnya yang akan diciptakan.

Kemudian acara dilanjutkan dengan praktik penciptaan puisi. Peserta diminta untuk mencipta puisi tentang apa saja yang ada dalam pikirannya kemudian dituangkan dalam kertas yang dibagikan panitia. Dari hasil penciptaan ini beberapa puisi diulas oleh Heri C.S. dan diapresiasi dengan membagikan beberapa buku puisi yang dibawanya pribadi.

Menutup kegiatan, Heri C.S. memberikan kenang-kenangan kepada PSK yang kemudian dibalas dengan pemberian kenang-kenangan kepada Heri C.S. dan sesi foto bersama. (_AnjaPSK)

Berkenalan dengan Puisi


Berkenalan dengan Puisi* 
Oleh : Heri CS** 

Heri CS

  "Puisi adalah kesunyian masing-masing …."
 Pada hakikatnya semua manusia yang dilahirkan di dunia ini dibekali kecerdasan oleh sang kuasa. Menurut teori kecerdasan ganda dari Howard Gardner dalam Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligence (1983), ada tujuh tipe kecerdasan yang dimiliki manusia dan belakangan bertambah satu lagi. Yaitu: 1) Verbal/linguistic intelligence atau kecerdasan linguistik (bahasa), 2) Musical/rhytmic intelligence atau kecerdasan musikal, 3) Logical/mathematical intelligence atau kecerdasan logika-matematika, 4) Visual/spatial intelligence atau kecerdasan visual/spasial, 5) Bodily/kinaesthetic intelligence atau kecerdasan ragawi/kinestetik, 6)  Intrapersonal intelligence atau kecerdasan intrapersonal, 7) Interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal, dan 8) Naturalistic intelligence, keahlian mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungannya. Dengan bekal-bekal tersebut, tiap orang memiliki keunikan dan keunggulan masing-masing. Ada yang menguasai beberapa modal kecerdasan tersebut. Atau, mungkin hanya satu jenis saja.
Bertolak dari teori itu, dapat dibayangkan bahwa proses mengarang utamanya sangat memerlukan modal kecerdasan verbal/linguistic intelligence, kecerdasan intra dan interpersonal, dan kecerdasan lainnya. Tapi terlepas dari itu, kemauan yang keraslah yang dalam proses menentukan seseorang bisa mencipta puisi—atau katakanlah menjadi penyair. Kemauan keras itu bisa berupa kemauan keras untuk mengasah kepekaan, menambah wawasan, menumbuhkan kemampuan berbahasa, kemampuan berpikir dan kesabaran yang cukup untuk menunjang proses kreatif kepenulisannya.
Teori mengenai apa itu puisi dan bagaimana menulis atau teori mengenai khasanah perpuisian begitu melimpah. Teman-teman bisa browsing di internet. Banyak pilihan dan banyak cara. Namun, dalam kesempatan ini, di forum Pelatihan Menulis Puisi yang digelar teman-teman Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Minggu 2 Desember 2018, saya akan meminjam metode yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Sebagian besar materi ini, saya peroleh saat mengikuti workshop mencipta puisi bersama sastrawan Iman Budhi Santosa dalam Kemah Sastra di Kebun Teh Medini III tahun 2017. Sebagian materi ini kupetik dari materi yang disampaikannya.
Dalam tradisi belajar mengajar di perguruan Taman Siswa terdapat strategi belajar ketrampilan dan kesenian yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara lazim disebut metode: N-3 (niteni-nirokake-nambahi). Metode ini saya kira praktis dan efektif jika diterapkan untuk menggali dan mengembangkan kreativitas siswa yang belum berpengalaman mencipta (membuat) puisi  di sekolah maupun dalam hidup kesehariannya.
Adapun langkah-langkah penerapan metode ‘N-3’ ini adalah sebagai berikut:
  1. Niteni (memperhatikan/mempelajari/menghayati)
·      Mengumpulkan sebanyak mungkin puisi berbahasa Indonesia karya penyair Indonesia, termasuk puisi karya penyair manca negara yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
·      Sediakan waktu yang cukup di rumah untuk membaca, mengapresiasi, mempelajari seluruh puisi yang dikumpulkan (didokumentasi). Sebaiknya proses ini dilakukan malam hari setelah belajar dan sebelum tidur. Atau kapan saja asal  punya waktu luang di antara kegiatan sehari-hari.
·      Manfaat kegiatan ini adalah untuk mengenal dan memahami bentuk maupun gaya kebahasaan  puisi. Seperti bagaimana gaya bahasa puisi ekspresif, puisi impresif, puisi simbolis, puisi balada, puisi suasana, dan lain-lain. Juga untuk mengetahui, mengenal, memahami dan menghayati tema masing-masing puisi.  Misalnya, bagaimana pesan moral puisi-puisi dengan tema kejuangan, kemanusiaan, religiositas, sosial, dan sebagainya.
·      Setelah dibaca dengan suntuk, buat catatan singkat mengenai pendapat dan perasaanmu mengenai puisi-puisi tadi. Kalau perlu, untuk menambah wawasan diskusikan dengan teman atau orang lain.
·      Usahakan masing-masing siswa peserta latihan menemukan 2 (dua) puisi, yaitu: 1) paling disukai mengenai bahasa dan pengungkapannya, 2) paling disukai mengenai tema yang diangkat dalam puisi tersebut.
·      Pelajari benar-benar kedua puisi yang paling disukai tadi. Resapkan ke dalam hati pesan yang terkandung, dan perhatikan benar teknik kebahasaan dalam menyampaikannya.
·      Selanjutnya kedua puisi itu jadikan contoh bagaimana kira-kira dalam mencari, menemukan, dan merepresentasikan tema yang diangkat ke dalam puisi dan bagaimana cara membahasakannya sehingga menjadi puisi.

  1. Nirokake (menirukan)
·      Mencoba mencipta puisi dengan meniru (berpedoman)  pada pada dua puisi yang paling disukai tadi.
·      Sedangkan langkah yang dikerjakan mengenai tema puisi, antara lain:
a. Mencari tema/masalah yang mirip dengan tema dalam puisi yang disukai.
b. Misalnya, tema puisi pertama yang disukai itu mengisahkan cinta terpendam dari seorang pemuda kepada gadis teman sekolah yang berasal dari keluarga kaya. Karena dirinya anak keluarga miskin maka dia tidak berani menyampaikan kepada gadis pujaannya. Sedangkan puisi kedua mengisahkan kebahagiaan para petani setelah panen padi yang diwujudkan dalam upacara bersih desa dengan diisi upacara selamatan dan berbagai kegiatan kesenian.
b. Usahakan tema yang akan kamu angkat menjadi puisi karyamu mirip sekali dengan tema tersebut. Tetapi, ganti sosok pemuda di sana dengan dirimu, entah sebagai laki-laki atau perempuan. Sedangkan mengenai bersih desa, angkat kejadian yang kamu alami di desa masing-masing.
·      Coba jadikan dua peristiwa dalam pikiran dan perasaanmu tadi menjadi puisi menggunakan teknik kebahasaan dan penulisan seperti puisi yang kamu sukai itu. Ubah sebagian teksnya menyesuaikan dengan kisah yang baru. Misalnya, penunjukan tokohnya dari dia menjadi aku. Desa dalam puisi yang kamu sukai tidak disebut namanya, dalam puisi baru gunakan nama desamu.
·      Sebagai latihan buatlah 2-3 puisi baru sesuai dengan petunjuk di atas.
·      Usahakan dalam berlatih sampai benar-benar menemukan kesamaan (sublimasi) yang intens antara karya yang diciptakan dengan karya yang dijadikan pedoman (tuntunan).

  1. Nambahi (menambah atau mengubah)
·      Apabila dalam berlatih tersebut hasil karya puisi yang diciptakan telah mencapai kesetaraan optimal (perihal gaya, struktur, kualitas, serta kebahasaan) dengan puisi yang dijadikan acuan, silahkan mulai melakukan pelepasan diri dari ‘fase meniru’ kemudian memasuki ‘fase kreatif’.
·      Pada tahap ini peserta latihan mulai dibebaskan dalam memilih tema dan kebahasaan puisi, walaupun inti masalah dan bahasanya tetap bersumber pada puisi yang disukai sejak awal. Contohnya:
a.  Tema puisi mengenai cinta terpendam coba dikembangkan. Misalnya, karena si gadis sesungguhnya juga menaruh hati pada si pemuda dan tahu kalau si pemuda tidak berani menyatakan cinta, maka dialah yang membuka diri dengan menyatakan cinta dan siap dilamar jadi istri kelak jika keduanya sudah memasuki usia pernikahan.
b.  Silakan dikembangkan bentuk puisinya. Misalnya, puisi awal berbentuk lirik, coba puisi baru tetap dipertahakan dengan gaya lirik. Walaupun puisi awal hanya terdiri dari dua bait, coba dikembangkan puisi baru yang kamu buat itu menjadi empat bait.

·      Salah satu cara yang mungkin  dilakukan dalam fase kreatif adalah mulai mencoba mencipta sesuai dengan tuntutan (keinginan) pribadi sehingga berbeda dengan karya orang lain. 

Metode N-3 ini secara tidak langsung juga disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono (Kompas, Selasa, 21 Maret 2017). Dalam wawancaranya dengan wartawan Kompas, Sapardi menyatakan secara eksplisit mengenai sebagian proses N-3 ini, yaitu: “Kalau mau menulis puisi, bacalah puisi sebanyak-banyaknya, kemudian tirulah. Saya malah bilang, jangan cuma meniru, tapi curilah.” Pernyataan ini menarik direnungkan dan diambil hikmahnya pada siapa pun yang tengah mencoba belajar mencipta puisi.

Proses Penciptaan Puisi
         Hampir setiap sastrawan (penyair) mempunyai kebiasaan sendiri-sendiri di dalam mencipta. Namun, umumnya tetap seperti teori yang disampaikan Goethe tentang proses penciptaan itu. Seorang kreator ibarat manusia setengah dewa yang tengah istirah dan mencari-cari materi di sekeliling untuk dicurahi rohnya. Adapun penjelasannya:
·     Manusia setengah dewa, adalah mereka yang telah melakukan proses peningkatan diri secara  fisik dan rohani sehingga kemampuan pribadinya ‘melebihi’ orang biasa. Misalnya, dapat melihat (membayangkan) apa yang tidak dilihat (dibayangkan) orang lain atau yang selama ini tergradasi.
·     Tengah istirah, artinya dia telah selesai melakukan proses pencarian. Apa yang dicari sudah ditemukan untuk kemudian diendapkan (proses internalisasi). Dengan kata lain, dia telah menemukan nilai dan wujudnya yang baru sesuai pandangan pribadinya.
·     Mencari-cari materi di sekeliling untuk dicurahi rohnya, mengisyaratkan bahwa dia sedang mencari kata, bahasa, ungkapan, untuk mewujudkan ide-ide puitik (momentum puitik) yang ditemukan. Perlu digarisbawahi, mencipta atau mencipta pada hakikatnya harus diam (istirah). Sebab, mencipta (melahirkan karya seni) memerlukan konsentrasi tinggi dan nyaris menggunakan seluruh potensi pribadi yang dimiliki. Benar-benar tak ubahnya seorang ibu ketika melahirkan bayi.

Pada hakikatnya, ide puitik atau momen puitik hanyalah ‘setitik nilai’, atau tak ubahnya sepercik nyala api. Namun, ketika berulang kali memercik akan dapat menerangi kegelapan, sehingga kita dapat berjalan berkilometer-kilometer jauhnya. Dengan demikian, keberadaan nilai tersebut benar-benar menjadi semacam ‘kiblat’ di mana seluruh ungkapan,  pernyataan, dan gambaran, dalam puisi itu bersumber maupun bermuara.

Sedangkan bagaimana mencipta puisi, proses yang lazim dikerjakan oleh banyak penyair, lebih kurang sebagai berikut:
1. Mencari ide-ide yang akan ditulis.
2. Menemukan ‘momen puitik’ dan mengonstruksikannya sesuai pikiran dan perasaan pribadinya sebagai individu maupun anggota masyarakat.
3. Menentukan judul puisi. Fungsinya sebagai ancer-ancer atau orientasi ide yang menjadi kata kunci mengenai puisi yang akan ditulis. Karena pada umumnya ide yang akan ditulis senantiasa hanya bersifat ‘samar-samar’, dan baru akan tampak jelas setelah puisi tersebut selesai ditulis.
4. Menuangkan ide-ide puitik ke dalam kata dan kalimat (bahasa) baris demi baris (sebagai wujud fisik puisi) mulai dari awal hingga selesai.
5. Melakukan koreksi, dan revisi terhadap keseluruhan wujud verbal puisi. Seperti pemilihan judul, pemilihan kata, pembangunan ungkapan (imaji), rima dan persajakan, tipografi, panjang pendeknya puisi, dan lain-lain.

Beberapa catatan tambahan yang perlu digarisbawahi dalam konteks belajar mengarang sastra/puisi, antara lain:
1.   Banyak metode yang dapat digunakan untuk belajar mencipta karya sastra: puisi, cerpen, novel, esei, dan lain-lain. Namun, metode-metode tersebut belum tentu cocok untuk masing-masing orang (pribadi). Ibarat jalan hidup, setiap orang harus mencari dan menemukan sendiri jalur yang paling tepat sesuai dengan karakter kepribadiannya. Sekali lagi, cara yang sesuai dengan pribadinya, bukan yang sesuai pribadi orang lain.
2.   Mencipta (mencipta) karya sastra bukan tuntutan studi formal, melainkan dorongan pribadi. Mencipta karya sastra pada hakikatnya bukan seperti bekerja secara praktis dalam mencari uang (nafkah). Melainkan lebih sebagai pemenuhan terhadap berbagai tuntutan psikologis pelakunya dalam mengekspresikan pikiran, perasaan, intelektualitas, pandangan hidup, serta energi kreatif dalam kehidupan pribadi.
3.   Kualitas karya seseorang mengalami peningkatan bertahap sesuai perkembangan visi, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan kepribadiannya. Artinya, jarang setiap orang langsung menghasilkan karya sastra dengan kualitas prima. Ibarat mendaki gunung, mereka akan setapak demi setapak menempuh perjalanan dari waktu ke waktu, Jatuh bangun sambil terus belajar mencari arah, strategi, serta penguatan pribadi agar sukses sampai ke puncak yang diidam-idamkan.
4.   Setiap orang tidak mampu mengekspresikan apa yang belum diketahui, dimengerti, dan dikuasai. Dalam mencipta, seseorang nyaris hanya akan mampu mengekspresikan ‘sebagian kecil’ dari apa yang dimilikinya. Mencipta puisi tak ubahnya memberi sedekah. Logikanya, orang makin kaya sedekahnya juga akan lebih banyak (besar).
5.   Tujuan utama belajar mencipta (mengarang) sastra – misalnya bagi para siswa – bukan untuk ‘menjadi’ sastrawan. Masih terlampau jauh untuk itu, karena ada sekian banyak tahapan pengembangan pribadi dan ketrampilan yang harus dilalui. Bagi para siswa, belajar mencipta puisi misalnya, sama halnya belajar menjadi cerdas dan arif sebagai manusia. Karena kecerdasan dan kearifan merupakan modal awal bersastra. Tanpa dimilikinya kecerdasan dan kearifan, apa yang ditulisnya akan senantiasa dangkal (jelek), lantaran ia tidak dapat menggali, menemukan dan mengekspresikan substansi ide-ide ke dalam tulisannya.
6.   Menulis puisi bukan berangkat dari khayal atau imajinasi belaka, melainkan justru berangkat dari logika atau penalaran manusia. Yaitu, berpikir tertib, logis, kritis, analitis, dan dialektis.

Penutup
          Berkenalan dan belajar mencipta puisi prosesnya tidak jauh berbeda dengan belajar ‘naik sepeda’. Jutaan orang bisa naik sepeda, cara belajarnya pun di mana-mana nyaris sama, yaitu trial and error. Tetapi sepertinya belum pernah ada yang mencipta (dan membukukan) bagaimana rahasia keseimbangan manusia ketika mengendarai kendaraan roda dua ini.
          Begitulah kiranya hantaran saya memperkenalkan teman-teman dengan makhluk bernama puisi. Namanya berkenalan tentunya perlu perjumpaan kemudian—lagi dan lagi, agar lebih dekat dan akrab. Tak cukup hanya di sesi saat ini saja. Ruang perjumpaan itu bisa teman-teman ciptakan dan temukan dalam proses kemudian. Kita memang bisa berjumpa dan bertemu banyak hal secara gerombolan dan berkerumun. Namun, terkait mencipta puisi, kita mesti masuk ke ruang privat dalam diri masing-masing. Karena puisi adalah kesunyian masing-masing. []
         
Boja, 30 November  2018
*disampaikan pada Pelatihan Menulis Puisi dalam rangka 7 tahun PSK
**Penyair, Jurnalis, Pegiat Komunitas Lereng Medini, Boja Kendal

UNDANGAN LAUNCHING ANTOLOGI PUISI UNTUK GUS DUR

Kepada Yth. Penulis Antologi Puisi untuk Gus Dur dan Insan Seni di Indonesia Salam Budaya  Kami sampaikan terima kasih...