Selasa, 04 Desember 2012

MUSUH-MUSUH PUISI ATAU CARA MENULIS PUISI JELEK

Oleh : Agus R Sarjono

The artist, and particularly the poet, is always an anarchist, and can only listen to the voices that rise up from within his own being, three imperious voices: the voice of Death, with all its presentiments; the voice of Love and the voice of Art.
Federico GarcĂ­a Lorca (1898 - 1936)
Menulis puisi melibatkan banyak hal yang terkadang cukup kompleks: pengalaman, kedalaman, kejujuran, kecerdasan, dan sedikit kegilaan. Apa yang dikemukakan Lorca dalam kutipan di atas banyak benarnya, karena seorang penyair pada dasarnya selalu seorang anarkis karena ia hanya akan mendengar kuasa suara yang tumbuh dan lahir dalam dalam keberadaannya sendiri: suara Kematian, suara Cinta, dan suara Kesenian.
Semua dasar kepenyairan bermuara pada ketrampilan teknis di satu sisi dan wawasan sang penyair di sisi lain. Contoh terbaik untuk ini adalah yang dialami seorang pemusik. Seorang pemusik yang setiap hari melatih keterampilannya bermain musik (piano atau gitar, misalnya) akan memiliki keterampilan teknis yang luar biasa. Namun, jika seumur hidupnya dia hanya mendengar lagu ”Maju Tak Gentar” belaka, maka seluruh keterampilan dan kecanggihannya bermain musik tak akan pergi jauh dari wilayah nada satu-satunya lagu yang dia kenal. Dalam pada itu, seorang pemusik yang menyimak bermacam jenis musik dari ribuan album akan memiliki kekayaan khasanah nada, harmoni, dan sebagainya yang luas. Namun, bila dia tidak pernah berlatih dengan tekun makan seluruh kekayaan wawasan musikalnya tidak akan dapat dipresentasikan dengan baik.
Hal yang sama terjadi pada seorang penyair. Penyair yang baik memiliki ciri yang tetap, yakni jatuh cinta pada puisi. Tanpa jatuh cinta pada puisi maka menjadi penyair adalah mustahil.
Mengingat kompleksitas urusan menjadi penyair dan menulis puisi yahud yang tak mungkin dikemukakan dalam tempo sesingkat-singkatnya seperti proklamasi, maka pada kesempatan ini justru sebaliknyalah yang akan dikemukakan disini, yakni sebab-sebab puisi jelek alias musuh-musuh puisi.
Ada banyak musuh puisi. Tapi karena tak baik terlalu banyak memiliki musuh, maka pada kesempatan ini akan dikemukakan lima buah musuh saja. Jika ingin menambah jumlah musuh, silahkan saja sejauh relevan dengan musuh-musuh yang sudah ada.
Musuh Pertama : Keumuman
Musuh pertama bagi puisi adalah keumuman alias serba umum. Dalam puisi keumuman harus dihindari. seorang penyair yang baik akan menjauh dari unsur umum dan pandangan yang serba umum baik pandangan yang umum mengenai sosial, politik, moral, agama, atau apapun.
Dalam menulis sajak tentang ibu, misalnya, akan bermunculan segera sajak-sajak semacam ini:
Oh ibu, alangkah mulia hatimu
Kau lahirkan dan besarkan aku
Membelai dan memberiku susu
Menuntun anakmu jalani kehidupan
Hingga tercapai cita-citaku.
Jika sajak itu tentang guru, maka lahirlah sajak-sajak semacam ini:
Oh guruku, kau didik aku
Mengajariku berbagai ilmu
Bagi bekal hidupku
Dari matematika sampai ilmu bumi
Kau ajari kami hingga kami mengerti
Apa yang harus kami jalani.
Dalam hidup ini.
Ubahlah temanya menjadi pengemis, maka sajak yang akan muncul adalah:
Wahai pengemis, betapa malang nasibmu
Meminta sesuap nasi setiap hari
tidur beratapkan langit beralaskan bumi
tiada yang peduli.
Dengan sajak semacam ini tak ada seorang ibu, guru, maupun pengemis yang akan terkesan dan tersentuh hatinya. Mengapa? karena sajak-sajak semacam ini berbicara mengenai ibu, guru, dan pengemis yang umum. Maka ibu, guru, maupun pengemis di sini menjadi stereotipe.
Bandingkan dengan sajak mengenai pengemis di bawah ini:
Kalau kau mati gadis kecil berkaleng kecil
kotaku hilang tanpa jiwa
dan bulan di atas sana tiada yang punya
Musuh Kedua: Simplifikasi
Musuh kedua adalah simplifikasi alias penyerhanaan yang banyak hubungannya dengan kebiasaan gebyah uyah. Pada pengalaman sehari-hari saja jika kita renungi akan kita temukan banyak hal menarik dan kadang pelik, apalagi dalam masalah-masalah yang lebih besar dan kompleks.
Contoh di atas, yakni keumuman, masih ada kena-mengenanya dengan simplifikasi. Puisi mengenai ibu, guru, dan pengemis, seringkali ditulis dengan pandangan stereotipe seolah semua ibu, semua guru, semua pengemis adalah sama. Padahal setiap orang memiliki ibu masing-masing yang berbeda-beda baik wajah, kebiasaan, kesenangan, selera akan musik dan warna, makanan kesukaan, cara berjalan, cara marah, cara tersenyum yang berbeda-beda, apalagi watak dan tabiatnya. Begitu juga dengan guru yang berbeda bentuk dan modelnya, berbeda pangkat dan kualifikasinya, berbeda pengalaman dan gaya mengajarnya. Sementara itu, pengemis pun berbeda-beda latar-belakang, alasan jadi pengemis, pengalaman hidup dan sebagainya. Sama sekali tidak sama perasaan pengemis yang habis mendapat uang seratus ribu dari orang yang menang lotre atau pinangannya diterima dengan pengemis yang habis ditendang oleh politisi caleg yang ngamuk dan murang-maring karena tak terpilih oleh rakyat.
Bahkan, tidak jarang pandangan orang atas pacar pun sama. Tidak percaya? Lihat saja sinetron-sinetron kita yang mulia. Padahal, tidak setiap kerinduan sepasang kekasih sama dengan gerak slow motion di pantai dalam rangka untuk saling berpelukan. Marah pun berbeda-beda jenisnya dan tidak selalu membentak-bentak dengan suara meggeledek dan mata terancam keluar dari sarangnya, apalagi sedih yang sangat beragam jenisnya dan tidak selalu harus menangis tersedu-sedu dengan dandanan masih menor.
Simplifikasi lain, misalnya, memandang Barat pastilah semuanya tertib dan cerdas atau sebaliknya barat pastilah semuanya bebas, ngawur, dan membenci agama. Kata barat itu sendiri sudah simplifikasi, karena ada beragam negara dengan beragam budaya dan setiap negara punya penduduk berjuta-juta yang masing-masing manusianya punya pengalaman dan kekhasan sendiri-sendiri.
Musuh Ketiga: Propaganda dan reklame
Propaganda dan reklame adalah musuh ketiga puisi. Jika ingin membuat puisi jadi sesuatu yang ngeri, maka tak ada yang lebih tepat selain menulis puisi dalam semangat propaganda atawa reklame. Propaganda dan reklame seringkali lepas dari hubungan personal dengan manusia. Ia masih berkaitan dengan pemahaman yang serba umum. Kata abstrak dikepalkan ke pembaca untuk menanamkan indoktrinasi.
Ayo pemuda ayo pemudi
Rapatkan barisan membangun negeri
Jangan biarkan jangan diberi
Neokolonialisme mengancam negeri
Dadamu dadaku bagi pertiwi
Atau
Jangan kau tebang pohon
Wahai durjana aku memohon
Biarkan pohonan subur. Ayo kita ganyang
Siapa saja yang berani menebang
Musuh Keempat: Klise atawa janda dan duda kata
Wajahmu cantik bagaikan lukisan
Aku mencintaimu aku menyayangimu
dengan sepenuh hatiku
engkaulah belahan jiwa satu-satunya
hingga akhir hayatku.
Hampir semua pilihan kata dan ungkapan di atas sudah digunakan berkali-kali untuk macam-macam kesempatan. Maka semua ungkapan dan kata di sana sudah menjadi janda dan duda berkali-kali. Sejauh menyangkut hal ini, penyair seyogyanya mencari dan menemukan kata yang masih perawan. Seorang penyair berkewajiban sebagai yang pertama meminang kata atau ungkapan selagi ia masih perawan untuk dijadikan pengantin bagi pengalaman puitiknya. Jikapun ia harus juga berurusan dan menikahi janda kata, sang penyair harus memberinya pelaminan baru dalam konteks pernikahan puitik yang baru.
Untuk urusan yang sama, Pablo Neruda menulis petikan ini:
Sejak aku mengenalmu
Kau tak mirip siapapun
Dalam pada itu, sajak mengenai pengemis atau anak nelayan miskin tidak dapat ditulis berdasar stereotipe dan diusung dengan janda-janda dan duda kata. Apalagi digabung dengan propaganda, slogan, dan reklame. Dengan mengenali baik-baik sosok dan urusan yang akan ditulis dan mengolahnya dengan cara pandang yang khas sesuai kepribadian penyairnya, bisa saja lahir sajak mengenai nelayan seperti ditulis Frederico Garcia Lorca di bawah ini:
Balada Air Garam
Sang laut
senyum di jauhan.
Gigi berbusa.
bibir cakrawala.
‘Apa yang kau jajakan, anak merana,
anak yang telanjang dada?’
‘Tuan, saya berjualan
air garam samudera.’
‘Apa yang kau bawa, anak kelam,
berbaur dengan darahmu?’
‘Tuan, saya membawa
air garam samudera.’
‘Ini asin airmata
datang dari mana, ibu?
‘Tuan, saya menangis
air garam samudera.’
‘Jiwa, pahit yang dalam ini,
dari mana munculnya?’
‘Sungguh pahit,
air garam samudera!’
Sang laut
senyum di jauhan.
Gigi berbusa.
bibir-cakrawala.
Musuh Kelima: Nasehat, Diri Nan Mulia, atawa Takabur
Memberi nasehat selalu beresiko tinggi bagi penyair. Di satu sisi ia dapat dianggap memberikan nilai-nilai moral dan budi pekerti, namun sebenarnya hal ini paradoksal karena sebuah nasehat tidak bisa tidak akan lahir dari andaian bahwa sang pemberi nasehat adalah sosok yang lebih mulia. Anggapan diri sebagai sosok mulia disadari atau tidak adalah sebuah tindakan yang takabur. Di sisi lain puisi semacam ini mengandaikan pembacanya sebagai sosok pendosa yang harus segera bertobat. Pada kenyataannya, sajak-sajak berpetuah jarang berhasil membawa pembaca pada pertobatan dan lebih sering membuat pembaca bosan dan enggan.
Tabahkan hati anda membaca sajak di bawah ini:
Wahai durjana lekaslah bertobat
Tinggalkan semua jalan yang sesat
Tidakkah kau lihat para malaikat
Kan memasukanmu ke neraka laknat.
Dalam sastra, termasuk puisi, nilai-nilai moral akan mencekam pembaca justru saat tidak disemburkan sebagai khotbah dan wejangan melainkan lewat sebuah pengalaman kongkret, baik pengalaman kongkret tokoh tertentu yang dijadikan protagonis suatu puisi maupun dari pengalaman batin aku lirik yang jujur dan manusiawi.
Sampai sekarang, dalam khasanah puisi Indonesia, belum ada sajak ketuhanan yang lebih indah dan mencekam dibanding sajak ”Padamu Jua” Amir Hamzah dan ”Doa” Chairil Anwar. Kebetulan keduanya mewakili pengalaman ketuhanan yang berbeda, yang satu pengalaman seorang mistikus yang saleh seperti Amir Hamzah dan satu lagi pengalaman seorang pendosa seperti Chairil Anwar. Kedua puisi tersebut sama sekali jauh dari pretensi memberi wejangan dan nasehat kepada siapapun. Namun, justru karena itu pembaca dicekam oleh penghayatan moral dan pengalaman ketuhahan yang sublim dan memperkaya batin.
Di tamanku, tak ada yang lebih indah
dari duri di musim bunga,
Tuhan, Hafiz rindu padamu.
Demikian petikan sajak indah Hafiz, seorang sufi besar yang mengandaikan dirinya dan khasanah taman batin dan keimanannya tak lebih dari ranting kering dan duri. Sementara orang lain boleh jadi memposisikan taman batinnya penuh bebungaan mekar aneka warna sembari memberi nasehat orang lain bagaimana tatacara menanam bunga moral agar subur dan sukses. Itu juga sebabnya Haji Hasan Mustapa sufi dan penyair besar dari tatar Sunda meskipun seorang ulama besar, tidak memberi nasehat dari posisi aku yang mulia kepada kaum pendosa, melainkan menulis sajak semacam ini:
Melenggang mencari itu,
ini lagi ini lagi
selama mencari sana
sini lagi sini lagi
selama mencari mana
ini lagi ini lagi.
selama mencari selatan,
utara lagi utara lagi
selama mencari barat
timur lagi timur lagi,
selama mencari ada
tiada lagi tiada lagi.
Mengapa demikian? Para penyair yang telah tinggi pencapaian ruhaninya mafhum bahwa memprosisikan diri sendiri sebagai sosok mulia adalah sebuah tindakan yang tak patut dan mengarah pada takabur. Mereka terlalu tawadhu untuk bertindak seperti itu. Boleh jadi mereka enggan pengalaman pelacur dan ”sang ulama” dalam kisah sufi kembali berulang. Saat itu seorang ”ulama” dengan sorban menjulang memaki-maki seorang pelacur sebagai mahluk hina, durjana, kerak neraka, dan semacamnya. Pelacur itu sambil termangu dengan hati kecut berkata: ”Tuan, benarlah saya seperti yang tuan katakan. Tapi adakah tuan sebagaimana yang tuan bayangkan?”
[Majalah Sastra Horison, Nopember 2010]

Minggu, 02 Desember 2012

Cerpen : Lukisan Kaligrafi

Oleh: A. Mustofa Bisri

Bermula dari kunjungan seorang kawan lamanya Hardi. Pelukis yang capai mengikuti idealismenya sendiri lalu mengikuti jejak banyak seniman yang lain: berbisnis; meski bisnisnya masih dalam lingkup bidang yang dikuasainya. Seperti kebanyakan bangsanya, Hardi sangat peka terhadap kehendak pasar. Dia kini melukis apa saja asal laku mahal. Mungkin karena kecerdasannya, dia segera bisa menangkap kela-kuan zaman dan mengikutinya. Dia melukis mulai perempuan cantik, pembesar negeri, hingga kaligrafi.

Menurut Hardi, kedatangannya di samping silaturrahmi, ingin berbincang-bincang dengan Ustadz Bachri soal kaligrafi. Ustadz Bachri sendiri yang sedikit banyak mengerti soal kaligrafi Arab, segera menyambutnya antusias.

Namun, ternyata tamunya itu lebih banyak berbicara tentang aliran-aliran seni mulai dari naturalis, surealis, ekpresionis, dadais, dan entah apa lagi. Tentang teknik melukis, tentang komposisi, tentang perspektif, dan istilah-istilah lain yang dia sendiri baru dengar kali itu. Sepertinya memang sengaja menguliahi Ustadz Bachri soal seni dan khususnya seni rupa.

Yang membuat Ustadz Bachri agak kaget, ternyata, meskipun sudah sering pameran kaligrafi, Hardi sama sekali tak mengenal aturan-aturan penulisan khath Arab. Tak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq’ah dan Kufi. Apalagi falsafahnya. Katanya dia asal “menggambar” tulisan, mencontoh kitab Quran atau kitab-kitab bertulisan Arab lainnya. Dia hanya tertarik dengan makna ayat yang ia ketahui lewat Terjemahan Quran Departemen Agama, lalu dia tuangkan ayat itu ke dalam kertas atau kanvas. Bila ayat itu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, maka dia pun melukis pemandangan, lalu di atasnya dituliskan ayat yang bersangkutan. Kalau tidak begitu, dia tulis ayat yang dipilihnya dalam bentuk-bentuk tertentu yang menurutnya sesuai dengan makna ayat. Ada hurufnya yang ia bentuk seperti mega, burung, macan, tokoh wayang, dan sebagainya.

Ustadz Bachri bersyukur atas kedatangan kawannya yang -meskipun agak sok- telah memberinya wawasan mengenai kesenian, terutama seni rupa.
***

RINGKAS cerita, begitu si tamu berpamitan seperti biasa Ustadz Bachri mengiringkannya sampai pintu. Nah, sebelum keluar melintasi pintu rumahnya itulah si tamu tiba-tiba berhenti seperti terkejut. Matanya memandang kertas bertulisan Arab yang tertempel di atas pintu, lalu katanya, “Itu tulisan apa? Siapa yang menulis?”

Ustadz Bachri tersenyum, “Itu rajah. Saya yang menulisnya sendiri.”

“Rajah?”

“Ya, kata Kiai yang memberi ijazah, itu rajah penangkal jin.”

“Itu kok warnanya aneh; sampeyan menulis pakai apa?” Matanya tanpa berkedip terus memandang ke atas pintu.

“Pakai kalam biasa dan tinta cina dicampur sedikit dengan minyak za’faran. Katanya minyak itu termasuk syarat penulisan rajah.”

“Wah,” kata tamunya masih belum melepas pandangannya ke tulisan di atas pintu, “sampeyan mesti melukis kaligrafi.”

“Saya? Saya melukis kaligrafi?” katanya sambil tertawa spontan.

“Tidak. Saya serius ini,” tukas tamunya, “sampeyan mesti melukis kaligrafi. Goresan-goresan sampeyan berkarakter. (“Ini apa pula maksudnya?” Ustadz Bachri membatin, tak paham). Kalau bisa di atas kanvas. Tahu kanvas kan?! Betul ya. Tiga bulan lagi, kawan-kawan pelukis kaligrafi kebetulan akan pameran; Nanti sampeyan ikut. Ya, ya!”

Ustadz Bachri tidak bisa berkata-kata, tapi rasa tertantang muncul dalam dirinya. Kenapa tidak, pikirnya. Orang yang tak tahu khath saja berani memamerkan kaligrafinya, mengapa dia tidak? Namun, ketika didesak tamunya, dia hanya mengangguk asal mengangguk.

Setelah tamunya itu pergi, dia benar-benar terobsesi untuk melukis kaligrafi. Setiap kali duduk-duduk sendirian, dia oret-oret kertas, menuliskan ayat-ayat yang ia hapal. Dia buka kitab-kitab tentang khath dan sejarah perkembangan tulisan Arab. Bahkan dia memerlukan datang ke kota untuk sekadar melihat lukisan-lukisan yang dipajang di galeri dan toko-toko, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membeli kanvas, cat, dan kuas.

Anak-anak dan istrinya agak bingung juga melihat dia datang dari kota dengan membawa oleh-oleh peralatan melukis. Lebih heran lagi ketika dia jelaskan bahwa dialah yang akan melukis. Meski mula-mula istri dan anak-anaknya mentertawakan, namun melihat keseriusannya, ramai-ramai juga mereka menyemangati. Mereka dengan riang ikut membantu membereskan dan membersihkan gudang yang akan dia pergunakan untuk “sanggar melukis”.

Mungkin tidak ingin diganggu atau malu dilihat orang, Ustadz Bachri memilih tengah malam untuk melukis. Istri dan anak-anaknya pun biasanya sudah lelap tidur, saat dia mulai masuk ke gudang berkutat dengan cat dan kanvas-kanvasnya. Kadang-kadang sampai subuh, dia baru keluar. Di gudangnya yang sekarang merangkap sanggar itu, berserakan beberapa kanvas yang sudah belepotan cat tanpa bentuk. Di antaranya sudah ada yang sedemikian tebal lapisan catnya, karena sering ditindas. Karena begitu dia merasa tidak sreg dengan lukisannya yang hampir jadi, langsung ia tindas dengan cat lain dan memulai lagi dari awal. Hal itu terjadi berulang kali. “Ternyata sulit juga melukis itu,” katanya suatu ketika dalam hati, “enakan menulis pakai kalam di atas kertas.”

Hampir saja Ustadz Bachri putus asa. Tapi, istri dan anak-anaknya selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang kedengaran di telinganya seperti menyindir nyalinya. Maka, dia pun bertekad, apa pun yang terjadi harus ada lukisannya yang jadi untuk diikutkan pameran.
Sampai akhirnya, ketika seorang kurir yang dikirim oleh Hardi kawannya itu, datang mengambil lukisannya untuk pameran yang dijanjikan, dia hanya-atau, alhamdulillah, sudah berhasil-menyerahkan sebuah “lukisan”.

Ketika sang kurir menanyakan judul lukisan dan harga yang diinginkan, seketika dia merasa seperti diejek. Tapi kemudian dia hanya mengatakan terserah. “Bilang saja kepada Mas Hardi, terserah dia!” katanya.

Dia sama sekali tidak menyangka.
***

MESKIPUN ada rasa malu dan rendah diri, dia datang juga pada waktu pembukaan pameran untuk menyenangkan kawannya Hardi, yang berkali-kali menelepon memaksanya datang. Ternyata pameran-di mana “lukisan” tunggalnya diikutsertakan-itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang. Wah, rasa malu dan rendah dirinya pun semakin memuncak.

Dengan kikuk dan sembunyi-sembunyi dia menyelinap di antara pengunjung. Dari kejauhan dilihatnya Hardi berkali-kali menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin mencari-cari dirinya. Ada pidato-pidato pendek dan sambutan tokoh kesenian terkenal, tapi dia sama sekali tidak bisa tenang mendengarkan, apalagi menikmatinya. Dia sibuk mencari-cari “lukisan”-nya di antara deretan lukisan-lukisan kaligrafi yang di pajang yang rata-rata tampak indah dan mempesona. Apalagi dipasang sedemikian rupa dengan pencahayaan yang diatur apik untuk mendukung tampilan setiap lukisan. “Apakah lukisanku juga tampak indah di sini?” pikirnya, “di mana gerangan lukisanku itu dipasang?”

Sampai akhirnya, ketika acara pidato-pidato usai dan para pengunjung beramai-ramai mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, dia yang mengalirkan diri di antara jejalan pengunjung, belum juga menemukan lukisannya. Tiba-tiba terbentik dalam kepalanya “Jangan-jangan lukisanku diapkir, tidak diikutkan pameran, karena tidak memenuhi standar.” Aneh, mendapat pikiran begitu, dia tiba-tiba justru menjadi tenang. Dia pun tidak lagi menyembunyikan diri di balik punggung para pengunjung. Bahkan, dia sengaja mendekati sang Hardi yang tampak sedang menerang-nerangkan kepada sekerumunan pengunjung yang menggerombol di depan salah satu lukisan. Lukisan itu sendiri hampir tak tampak olehnya tertutup banyak kepala yang sedang memperhatikannya.

“Lha ini dia!” tiba-tiba Hardi berteriak ketika melihatnya. Dia jadi salah tingkah dilihat oleh begitu banyak orang, “Ini pelukisnya!” kata Hardi lagi, lalu ditujukan kepada dirinya, “Kemana saja sampeyan. Sudah dari tadi ya datangnya? Sini, sini. Ini, bapak ini seorang kolektor dari Jakarta, ingin membeli lukisan sampeyan.” Astaga, ternyata lukisan yang dirubung itu lukisannya. Dia lirik tulisan yang terpampang di bawah lukisan yang menerangkan data lukisan. Di samping namanya, dia tertarik dengan judul (yang tentu Hardi yang membuatkan): Alifku Tegak di Mana-mana. Wah, Hardi ternyata tidak hanya pandai melukis, tapi pandai juga mengarang judul yang hebat-hebat, pikirnya. Di kanvasnya itu memang hanya ada satu huruf, huruf alif. Lebih kaget lagi ketika dia membaca angka dalam keterangan harga. Dia hampir tidak mempercayai matanya: 10.000 dollar AS, sepuluh ribu dollar AS! Gila!

“Begitu melihat lukisan Anda, saya langsung tertarik;” tiba-tiba si bapak kolektor berkata sambil menepuk bahunya, “apalagi setelah kawan Anda ini menjelaskan makna dan falsafahnya. Luar biasa!”

Dia tersipu-sipu. Hardi membisikinya, “Selamat, lukisan sampeyan dibeli beliau ini!”

“Katanya, Anda baru kali ini ikut pameran,” kata si bapak kolektor lagi tanpa memperhatikan air mukanya yang merah padam, “teruskanlah melukis dari dalam seperti ini.”

(“Melukis dari dalam? Apa pula ini?” pikirnya)

Wartawan-wartawan menyuruhnya berdiri di dekat lukisan alifnya itu untuk diambil gambar. Dia benar-benar salah tingkah. Pertanyaan-pertanyaan para wartawan dijawabnya sekenanya. Mau bilang apa?

Besoknya hampir semua media massa memuat berita tentang pameran yang isinya hampir didominasi oleh liputan tentang dirinya dan lukisannya. Hampir semua koran, baik ibu kota maupun daerah, melengkapi pemberitaan itu dengan menampilkan fotonya. Sayang dalam semua foto itu sama sekali tidak tampak lukisan alifnya. Yang terlihat hanya dia sedang berdiri di samping kanvas kosong!

Beberapa hari kemudian, beberapa wartawan datang ke rumah Ustadz Bachri. Bertanya macam-macam tentang lukisan alifnya yang menggemparkan. Tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana dia menemukan ide melukis alif itu, tentang prinsip keseniannya, dlsb. Seperti ketika pameran dia asal menjawab saja.

Ketika makan siang, istri dan anak-anaknya ganti mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan tentang lukisan alifnya itu pula.

“Kalian ini kenapa, kok ikut-ikutan seperti wartawan?!” teriaknya kesal.

“Tidak pak, sebenarnya apa sih menariknya lukisan Bapak? Kok sampai dibeli sekian mahalnya?” tanya anak sulungnya.

“Kenapa sih Bapak hanya menulis alif?” tanya si bungsu sebelum dia sempat menjawab pertanyaan kakaknya, “mengapa tidak sekalian Bismillah, Allahu Akbar, atau setidaknya Allah, seperti umumnya kaligrafi yang ada?”

Istrinya juga tidak mau kalah rupanya. Tidak sabar menunggu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya.

“Terus terang saja, Mas, sampeyan menggunakan ilmu apa, kok lukisanmu sampai tidak bisa difoto?”

Ustadz Bachri geleng-geleng kepala. Kepada para wartawan dan orang lain, dia bisa tidak terus terang, tapi kepada keluarganya sendiri bagaimana mungkin dia akan menyembunyikan sesuatu. Bukankah dia sendiri yang mengajarkan dan memulai tradisi keterbukaan di rumah.

“Begini,” katanya sambil menyantaikan duduknya; sementara semuanya menunggu penuh perhatian,

“terus terang saja; saya sendiri sama sekali tidak menyangka. Kalian tahu sendiri, saya melukis karena dipaksa Hardi, tamu kita yang pelukis itu. Saya merasa tertantang.”

“Saya sendiri baru menyadari bahwa meskipun saya menguasai kaidah-kaidah khath, ternyata melukis kaligrafi tidak semudah yang saya duga. Apalagi, kalian tahu sendiri, sebelumnya saya tidak pernah melukis. Lihatlah, di gudang kita, sekian banyak kanvas yang gagal saya lukisi. Bahkan, saya hampir putus-asa dan akan memutuskan membatalkan keikutsertaan saya dalam pameran. Tapi, Hardi ngotot mendorong-dorong saya terus.”

“Lalu, ketika cat-cat yang saya beli hampir habis, saya baru teringat pernah melihat dalam pameran kaligrafi dalam rangka MTQ belasan tahun yang lalu, seorang pelukis besar memamerkan kaligrafinya yang menggambarkan dirinya sedang sembahyang dan di atas kepalanya ada lafal Allah. Saya pun berpikir mengapa saya tidak menulis Allah saja?”

Ustadz Bachri berhenti lagi, memperbaiki letak duduknya, baru kemudian lanjutnya, “Ketika saya sudah siap akan melukis, ternyata cat yang tersisa hanya ada dua warna: warna putih dan silver. Tetapi, tekad saya sudah bulat, biar hanya dengan dua warna ini, lukisan kaligrafi saya harus jadi. Mulailah saya menulis alif. Saya merasa huruf yang saya tulis bagus sekali, sesuai dengan standar huruf Tsuluts Jaliy. Namun, ketika saya pandang-pandang letak tulisan alif saya itu persis di tengah-tengah kanvas. Kalau saya lanjutkan menulis Allah, menurut selera saya waktu itu, akan jadi wagu, tidak pas. Maka, ya sudah, tak usah saya lanjutkan. Cukup alif itu saja.”

“Jadi, tadinya Bapak hendak menulis Allah?” sela si bungsu.

“Ya, niat semula begitu. Yang saya sendiri kemudian bingung, mengapa perhatian orang begitu besar terhadap lukisan alif saya itu. Saya juga tidak tahu apa yang dikatakan Hardi kepada kolektor dari Jakarta itu, tetapi dugaan saya dialah yang membuat lukisan saya bernilai begitu besar. Termasuk idenya memberi judul yang sedemikian gagah itu.”

“Tetapi, sampeyan belum menjawab pertanyaan saya,” tukas istrinya, “sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan itu ketika difoto tidak jadi dan yang tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?”

“Wah, kamu ini ikut-ikutan mempercayai mistik ya?! Ilmu apa lagi? Saya tadi kan sudah bilang, alif itu saya lukis hanya dengan dua warna yang tersisa. Sedikit putih untuk latar dan sedikit silver untuk huruf alifnya. Mungkin, ya karena silver di atas putih itu yang membuatnya tak tampak ketika difoto.”

Istri dan anak-anaknya tak bertanya-tanya lagi; tetapi Ustadz Bachri tak tahu apa mereka percaya penjelasannya atau tidak. *

Selasa, 27 November 2012

Logo : Plataran Sastra Kaliwungu






"pitakaset"
karya Setia Naka Andrian
Ahad, 25 Nopember 2012

Diksi-Diksi Dalam Puisi


Hari ini, kata yang terpopuler di Kompasiana adalah tidak lain tidak bukan: DIKSI.  Banyak polemik, pertanyaan, gonjang-ganjing belum lagi seabrek komentar yang berputar di, masih kata yang sama, DIKSI. Sebenarnya apa sih diksi itu?
Menurut wikipediaDiksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Menurut KBBIDIKSI berarti pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)

Diksi Dalam Puisi
Sebenarnya diksi tidak hanya dipakai dalam menulis puisi. Dalam menulis cerpen, novel, essai, artikel, sampai karya ilmiah sekalipun, diksi juga diperlukan. Tapi baiklah kita membicarakan diksi dalam puisi saja kali ini (sesuai dengan topik yang sedang menghangat di kompasiana saat ini).
Saya sendiri senang menulis puisi dan menyadari salah satu unsur penting dalam menulis puisi adalah pemilihan diksi. Karena puisi adalah bentuk karya tulis yang tidak memakai banyak kata-kata, cendurung tidak deskriptif dan naratif, maka pemilihan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan maksud dan nuansa tulisan haruslah dicermati dengan seksama. Termasuk di dalamnya menghindari pengulangan kata yang sama terlampau sering, pemilihan sinonim yang mewakili, sampai ke penggunaan tanda baca dan susunan bahasa. Misalnya ketika kita ingin mengungkapkan rasa kesepian, kata mana yang akan kita pilih; sunyi, diam, nelangsa, sendiri, sedih, sepi, senyap atau hening? Meski berkonotasi sama, tiap kata yang terpilih akan memberi warna yang berbeda apabila disandingkan dengan kata-kata lainnya dalam keseluruhan puisi.
Bagaimana cara memilih diksi yang tepat? Dengan banyak membaca, baik itu puisi, artikel, novel, surat kabar sampai ke tulisan kritikan sekalipun. Sebab membaca akan memperbanyak kosa-kata. Dengan  mengetahui banyak kosa -kata, penulis puisi akan mempunyai pilihan yang lebih beragam dan memberikan warna dan jiwa tersendiri bagi puisinya.
Sekali lagi, diksi adalah pilihan kata, yang merupakan satu kesatuan dari keutuhan puisi. Jadi bukan berarti memakai kata-kata yang artinya baru diketahui setelah memeriksa KBBI, lantas puisi tersebut baru dianggap keren dan mengandung nilai sastra. Penyair-penyair besar Indonesia banyak menggunakan diksi yang sederhana dan gampang dimengerti, tapi puisi yang dihasilkannya sungguh indah. Kita ambil contoh puisi karya Sapardi Djoko Damono:
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”
(Perahu Kertas - Kumpulan Sajak, 1982)
Untuk menghasilkan puisi yang bagus, selain diksi, kemahiran menggunakan imaji kata-kata, bahasa figuratif (majas) dan rima adalah unsur-unsur dalam penulisan puisi yang tidak boleh luput diperhatikan. Tapi apakah dengan menguasai semua teori-teori tersebut, maka maha karya puisi akan berhasil dihadirkan? Banyak penyair-penyair yang justru membebaskan diri dari semua ikatan teori, menjelajah imajinasi kata-kata seliar-liarnya, dan jadilah puisi yang luar biasa.  Seperti puisi karya Sutardji Calzoum Bachri berikut ini:
Sepisaupi
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi
(1973)
Lalu, bagaimana dengan penulis-penulis puisi di Kompasiana ini? Dari sekian banyak puisi atau tulisan yang ditag di kolom puisi  di Kompasiana,  memang tidak semuanya bagus. Beberapa bahkan terbaca sebagai curhat. Tapi dengan sering menulis puisi, proses pembelajaran akan terbentuk dengan sendirinya dan pada akhirnya akan menghasilkan tulisan yang berkarakter. Saya perhatikan justru sekarang ini semakin banyak Kompasioners yang puisinya semakin cemerlang, seperti cahaya matahari pagi yang hangat dan menjanjikan. Ah, bukankah memang tidak ada yang begitu mulai menulis langsung bisa menjadi penyair yang hebat? Saya yakin Joko Punirbo, WS Rendra dan Alfrizal Malna dulunya juga melewati proses pembelajaran sebelum bermetamorfosa menjadi seperti sekarang.
Sebagai contoh (lagi), saya postingkan dua puisi Kompasioners yang saya nilai bagus. Sengaja saya pilih kedua penulis ini untuk mewakili, mengingat mereka berdua sudah menghasilkan puisi berrmutu dalam usia yang relatif muda (status: masih mahasiswa).
Sajak Cinta Buat Nda - Pringadi Abdi
di palembang, nda. hanya di palembang,
burung-burung tidak lagi kepingin terbang, udara
dingin menusuk tulang, dan syalmu menanti
aku datang
rindu ini begitu akut, mengalahkan gagak-gagak
di tiang listrik yang khusyuk
menanti kematian
di palembang, nda, jembatan ampera masih tegak
membelah sungai musi yang keruh;
cinta ini selalu penuh, meski terkadang angkuh
tetapi sungguh
tak ada kata-kata dari kesunyian
yang lebih indah dari kenangan perjalananku
denganmu
Kau Gemakan Laguku Saat Jendela Terbuka - Andi Gunawan
:Yessa Putra Noviansyah
Hari-hari merupa hitam putih sesekali terselip abu. Umpama tembakau dalam kemasan petang, kunikmati selingan kelabu yang menggelayuti mau sebelum datang merah.
Kau mengetuk pintu dan kubiarkan masuk lewat jendela. Pintu terlalu lapang saat terbuka -mengaburkan asap yang ingin kujaga baunya dalam kubusku.
Demi kelayakan predikat, kubagi sesesap jujur padamu yang masuk lewat jendela berkarat. Kepulannya merasuki celah yang rahasia, kenapa kau buka pintu?
Jadi teringat pendapat seorang teman yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk seni yang paling subjektif. Berbeda dengan lakon, tari atau lukisan, puisi tidak dapat dinilai secara visual. Berhubung ia lebih banyak bermain di ranah rasa dan emosi, tidak seperti cerpen atau novel yang dapat ditelusuri narasi, plot dan karakter tokoh-tokohnya, maka penilaian terhadap bagus tidaknya sebuah puisi cenderung menjadi ambigu. Menuruku, kedua puisi tulisan Pringadi Abdi dan Andi Gunawan adalah contoh puisi yang bagus. Pemilihan diksi yang menarik: Hari-hari merupa hitam putih sesekali terselip abu (Kau Gemakan Laguku Saat Jendela Terbuka); kenapa abu, bukannya kelabu? Kupikir abu, selain mewakili warna, juga merupa sebagai abu dari sisa pembakaran, yang ternyata tepat sekali disambung dengan kalimat berikutnya:Umpama tembakau dalam kemasan petang. Atau rima yang manis sekali di puisi Sajak Cinta Buat Nda: di palembang, nda. di palembang.// burung-burung tidak lagi kepingin terbang, udara//dingin menusuk tulang, dan syalmu menanti. Kata-kata berakhiran ‘g’ dalam palembang, burung, terbang dan tulang, terbaca ritmis meski tidak selalu disandingkan menjadi kata terakhir di baris. Pengulangan kata di palembang, di palembang, adalah penekanan lokasi yang disambung dengan gambaran jembatan ampera di bait terakhir yang berhasil membawa kita ke dalam perjalanan cinta nda dengan si penyair.
Kalaupun ada yang tidak sependapat dengan apresiasiku dalam menilai kedua puisi di atas, silakan saja. Rasa memang tidak dapat dipaksa. Tapi kalau ada yang menilai semua puisi di Kompasiana adalah karya sampah dan tidak ada yang bagus, ini sama saja dengan orang buta yang memegang kaki seekor gajah lalu berasumsi bahwa dia telah menjelajahi dan mengerti keseluruhan fisik dari gajah.
Terakhir, saya percaya puisi yang ditulis dari hati yang jujur hasilnya akan jauh lebih bagus daripada puisi yang hanya berkutat di seputaran diksi dan teori kepenulisan saja. Puisi tersebut akan terlihat keren, tapi kosong. Jadi, wahai penulis puisi, gunakan diksimu segila-gilanya, seliar-liarnya, dan menulislah dari hati.
*****

Terima kasih, Pringadi Abdi dan Andi Gunawan yang puisinya saya apresiasi tanpa ijin
Terima kasih, puisi
Terima kasih, semua penulis puisi di Kompasiana
(tumben saya cerewet, biasanya kan pendiam :p)

Jumat, 02 November 2012

Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) : Air Zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal

Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.

Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian saya dikenal-sebagai "dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.

Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang - setelah memperoleh 4 orang anak - perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.

Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.

Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an.

Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.

Pergi Haji

Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.

Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, "Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi.


Keterangan : 
Tulisan ini kami ambil dari http://styagreennotes.blogspot.com/2010/12/willibrordus-surendra-broto-rendra-ws.html

Selasa, 03 Juli 2012

RUSUKMU TERTUKAR


kau ceritakan padaku  

bergaris tebal nama pemilik cinta dipangkal sudut punggungku. 
tertulis jelas 
dengan stempel hasil perjanjian keras

tapi kenapa aku malah cinta dia? 
lebih bisa mengerti aku
lebih mampu menenangkanku 

kenapa begini? 
apa .... jangan-jangan rusukmu tertukar? 
hahahaha 

coba kau cari di rumah tetangga 
barangkali rusukmu tertinggal disana 
kau mungkin lupa menaruhnya 
saat asik mengumbar cinta. 

apa jangan-jangan hanya kau saja yang PD mengakui ini rusukmu? 
maaf ya 
selamat mencari 
sepertinya rusukmu tertukar

29 Juni 2012
: Nadine Himaya

Minggu, 27 Mei 2012

? !

Puisipuisi yang kutulis sewaktu silam, ternyata bukan puisi sungguhan. Iya, hanya coretan tanpa makna. dengan menjunjung tinggi keindahan ber-kata ternyata belum cukup untuk di vonis sebagai Puisi. Dulu pernah terlintas bahwa kata-kata yang kutulis itu katakan puisi, kuduga itu adalah puisi paling puisi tanpa pernah sadar kalau ternyata hanya onggokan abjad yang berjejer seperti batu bata.

tiap larik yang kususun sampai keningku mengernyit itu terlalu dangkal ternyata, Sungguh, aku heran bahkan terhadap tulisanku yang kusangka puisi itu, kerap kali aku berbangga dan membanggakan puisi-puisiku yang selanjutnya kucurigai itu bukan puisi yang sebenarnya sebagai sesuatu yang layak untuk di publikasikan, Dan salah ternyata.

Lalu bagaimana agar bisa di katakan puisi tanpa harus bisa di curigai bahwa itu bukan puisi? dalam arti, puisi sungguhan, puisi yang benar-benar puisi, Ah....entah, akupun agak sungkan terlalu dalam mencari data tentang agar puisiku terlegalisir. semacam Intregitas pemaknaan sebagai puisi sungguhan atau akreditasi sebuah puisi! akupun mulai malu menyimak tulisanku yang kuanggap puisi itu. merasa tidak layak pakai atau istilahnya produk gagal.

seperti yang kukatakan, penaku seakan tumpul untuk menulis sebuah makna, makna yang mampu memberi keluwesan pembaca agar bisa terhayati dan teresapi sebagai sebuah puisi, mata penaku buta, seperti kehilangan tongkat. hanya bisa merangkak ke depan tanpa tuntunan. Setelah aku sadar bahwa tulisanku itu bukan puisi ternyata, mulai saat itulah aku belajar menulis puisi, tidak lagi berteori menulis puisi. belajar dengan cara membaca apapun, sebab dengan membaca ibarat menyalakan api di dalam kegelapan. kegelapan itu diandaikan ketidaktahuan, dan api adalah jembatan yang menghubungkan dua jalan yang terpisah.

Terus sampai kapan aku akan belajar menulis sehingga itu layak di katakan puisi? setidaknya ada pengakuan dari orang lain yang sanggup dan bertanggung jawab bahwa tulisanku adalah mutlak puisi. barangkali sampai aku jadi kenangan! sampai kelak tak ber-waktu.

kalau mengingat bagaimana aku dengan rasa pongahku mengatakan (ini) adalah Puisiku! ah...betapa malunya aku! Sungguh, tidak di nyana, kalau (itu) bukan puisi ternyata. bahwa aku merasa menjadi bocah lagi, yang hanya di permainkan kata, di jadikan mainan 28 abjad. aku senang. aku bahagia, aku riang namun tidak bisa semena-mena mengatakan (ini) adalah puisi! oh...betapa Malunya aku ini, di permalukan atau justru mempermalukan.

aku masih ingat, ketika banyak yang minta belajar membuat puisi, dan aku menunjukkan materi dan teorinya. aku merasa menjadi penyair, merasa mempunyai Hak untuk memberi tahu. merasa bahwa aku menjadi guru dari orang yang bertanya, namun kini, setelah aku mulai curiga dengan cara kepenulisanku, tatacara dalam menulisku perlu di Operasikan lebih lama, perlu daya untuk membuat tulisan lebih bermakna tanpa mengikut sertakan prinsip orang lain. dan sekali lagi, aku Malu dengan apapun yang bertautan dengan penulisanku, sungguh.

yang kukira puisi, hanya metafor kencur ternyata
yang kusangka puisi, hanya tumpukan kata ternyata
yang kuduga puisi, hanya ambisi maya ternyata

Ternyata, tulisanku belum cukup umur untuk menerima pengakuan sebagai puisi, tulisanku belum mampu menyandang gelar sebagai puisi, tulisanku belum baligh! kau tau? aku bukan penyair yang kausebutsebut itu. bahkan selamanya aku akan menjadi Murid dan siapapun atau apapun adalah guruku untuk menulis.

Dan akhir kata, aku tidak boleh dengan bangganya bahwa tulisanku sudah layak di kategorikan puisi, perlu penyelidikan lebih lanjut tentang tatanan menulisku seterusnya, Belajar...belajar....belajar menulis puisi sampai aku menjadi kenangan. sekalipun sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti apa itu puisi.

sumber : 
www.facebook.com/notes/usman-arrumy/-/10151651511226777

Rabu, 02 Mei 2012

Senandungkan Puisi di Tengah Kebun Teh

Siang berlangit cerah. Di tengah tanaman teh yang menghampar bak permadani hijau di kawasan Kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, seorang pria tiba-tiba muncul. Lelaki berkaos cokelat motif wayang dengan menyematkan pucuk-pucuk teh di telinganya itu kemudian membacakan puisi dengan lantang penuh ekspresi. Mengapa harus di kebun teh, berikut laporannya.

Unbekannte
Meiner
goldgelochten
Schonen....

SENANDUNG puisi berbahasa Jerman karya penyair Heinrich Heine itu dibacakan oleh Sigit Susanto, pegiat sastra milis Apresiasi Sastra (Apsas) di sela-sela launching buku "Merajut Sunyi, Membaca Nurani; Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini", kemarin.
Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Lerengmedini, Boja, itu dilakukan di area Kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, Dusun Medini, Desa Ngesrep Mbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
Sebait puisi yang berarti Keindahanku yang berombak emas itu merupakan bait dari puisi berjudul Unbekannte (Orang Tak Dikenal). Selain Sigit, beberapa peserta dalam rombongan bertajuk Wisata Sastra di Kebun Medini secara bergantian juga membacakan puisi.
Sebagian penyair membacakan puisi yang dimuat dalam buku yang diterbitkan Komunitas Lerengmedini. Buku itu berisi tulisan 12 penulis, di antaranya Bustan Basir Maras yang membaca puisi karyanya berjudul “Memetik Teh di Kebun Puisi; sajak untuk Rama Iman Budhi Santosa”. Kemudian, Setia Naka Andrian (Izinkan Aku Memetik Pialamu), Kelana (Perjalanan Merah), dan Fitriyani (Untuk Pendaki).
Rombongan diikuti oleh 33 orang berasal dari Boja dan jejaring penggerak literasi di luar daerah, di antaranya Ahmad Daurie Bintang Reborn (Bogor), Ubaidillah Muchtar (Lebak Banten), Bustan Basir, M Aswar, Wage Dagsinarga, M Iqbal, Irul (Yogyakarta), Kelana, Ali Murtadlo, Angga, Narti Kepal (Kebun Sastra Kendal), serta Bahrul Ulum (PSK Kaliwungu), dan Setia Naka Andrian (Rumah Diksi, Brangsong).
Sebelum pembacaan puisi di tengah Kebun Teh Medini, launching buku secara simbolik dilakukan dengan pemberian buku oleh Sigit Susanto (salah satu penggagas Komunitas Lerengmedini) kepada Iman Budhi Santosa.
Setelah pemberian buku, Iman, penyair senior asal Yogyakarta itu memberikan testimoni keberadaan kebun Medini yang sempat didiami pada 1971-1975.
“Bagi saya, kebun Medini dan kehidupan orang-orangnya menjadi puisi bagi saya. Ibu-ibu tua pemetik teh, tukang gawang kayu, dan pekerja pabrik lainnya memberikan banyak pelajaran hidup bagi saya. Dalam kesunyian di kebun Medini ini, saya menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya,” ujar penyair yang memperoleh Anugerah Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Award 2012 dan pendiri Persada Studi Klub (PSK) dan Komunitas Penyair Muda Malioboro itu.
Iman yang saat itu mengenakan kemeja putih berlengan pendek menambahkan, selama dirinya bekerja di Medini, ada beberapa sastrawan yang sempat berkunjung  ke sana, seperti  Umbu Landu Paranggi, F Rahardi, Ragil Suwarna Pragolapati, Darmanto Yatman, dan Linus Suryadi  AG.
Dia, seusai menjalani massa percobaan tiga bulan di pembibitan, ditugaskan memegang Afdeling Babadan. Lalu, 1974 pindah ke Afdeling Medini.
“Tak disangka-sangka 1975 saya harus mengundurkan diri karena terjadi konflik kecil dalam pekerjaan,” tutur lelaki kelahiran Magetan, 28 Maret 1948 itu.
Dalam kesempatan itu, Iman juga mengajak sahabat lamanya yang saat ini masih tinggal di Dusun Medini, Supamin (62). Di hadapan peserta yang memadati brak (gubug) Kebun 2 Afdeling Medini itu, Iman sempat beberapa kali megusap matanya yang berkaca-kaca.
Dia merasa trenyuh dan prihatin melihat kehidupan orang-orang yang dikecilkan keadaan. “Mereka itu berperan besar, namun dianggap kecil. Mereka mendapat upah tak seberapa padahal kerjanya luar biasa,” paparnya.
Usai launching, rombongan melakukan ziarah ke makam Kiai dan Nyai Kidang, dua orang yang dipercaya menjadi tokoh yang mbubak yasa (perintis) kawasan Medini. 
Koordinator Komunitas Lerengmedini, Heri C Santoso menyatakan, acara tersebut merupakan rangkaian acara Parade Obrolan Sastra V yang digelar oleh Lerengmedini bekerja sama dengan milis Apsas, 26 April-2 Mei 2012.  Menurut Heri, acara sastra digelar di tengah kebun sebagai bagian dari ikhtiar kerja budaya untuk mendekatkan manusia ke alam. “Dengan dekat dengan alam, manusia bisa belajar dengan kearifan nilai-nilai di dalamnya,” tutur Heri. 
Selain wisata di Kebun Medini juga telah digelar aksi ritual membaca puisi dengan cara maraton mulai dari Pasar Boja hingga Pondok Maos Guyub Sabtu (28/4). Rangkaian Parade akan ditutup dengan menghadirkan sastrawan Remy Sylado, pada Rabu (2/5) di Pondok Maos Guyub, pukul 19.30-22.00. (Muhammad Syukron-39)

Kamis, 12 April 2012

DI MASJID

di masjid
kusaksikan para pejalan kaki
pengendara maupun musafir
berbondong-bondong menuju pusat panggilan
pakaian wangi dan rapi
ada yang berdasi ada yang berkopyah haji
ada yang hanya berpeci dan bersarung lusuh

di masjid
sajadah-sajadah mereka gelar
untuk tempat sujud
menenggelamkan kepala dalam-dalam
membaca mantra-mantra surga
tahmid tasbih tahlil takbir maupun istighfar
[mereka sangat khusuk Tuhan

namun aneh
di antara jamaah sholat jum`at itu
kusaksikan dengan matakepalaku sendiri
setan dan iblis berjamaah bersama mereka dan aku
di shof depan tengah maupun belakang
mereka pun asyik berdoa kepada Tuhannya
yang diamini pula oleh para manusia

Tuhan
?

Masjid Baitussyukur, 2 Maret 2012//sehabis sholat jum`at
.:
(c)
[bahrul ulum a. malik]

Senin, 19 Maret 2012

Membaca Puisi Bahrul Ulum A. Malik : Interogatif Tubuh dan Wirid yang Subuh

: Setia Naka Andrian

Membaca puisi Bahrul Ulum A. Malik adalah membaca pertanyaan dan seketika terjawab dari wirid yang mengalir dari ingatan yang dicatatnya. Bahrul Ulum A. Malik (BUAM) sangat berhati-hati dalam mencatat ingatan dan segala hal pernah diperoleh atau segala sesuatu yang sempat dialaminya. Barangkali ia sangat jarang berbohong. Saya merasakan bahwa BUAM benar-benar setia pada catatan perjalanan hidupnya. Tindakan serta segala hal mengenai tingkah laku menjurus pada harkat dan martabat sebagai hamba yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi. Mengandalkan pikiran, selalu cermat dan tidak emosional dalam menghadapi masalah.
Hal tersebut nyata dalam puisi “Subuh”, //Bismillah/ menyebutMu lirih dalam doa subuhku, Tuhan// hamba yang kemarin siang mengetuk pintu rumahMu// sepi, tak ada siapasiapa, suwung!!// bismillah/ salamku pada sisa hujan semalam/ bangunkan sadarku untuk langit// mencoba mengetuk pintu pagi/ tetap seperti kemarin, tak ada siapasiapa// bismillah/ kuharus bisa berdiri sendiri tanpa tatih.// melangkah mandiri/ ke istanaMu lagi tanpa sembunyisembunyi// bismillah/ ku pastikan Kau ada// di subuh dingin ini, Tuhan//
Apa yang telah dicatat oleh BUAM serupa dengan yang diungkapkan oleh Kant dalam Poedjawijatna pada Pembimbing Kearah Alam Filsafat (1978), tentang kemampuan budi untuk mencapai pengetahuan, menyampaikan arah kemapuan budi. Bahwa dengan budi murni orang tak mungkin mengenal yang di luar pengalaman, karena pengetahuan budi itu selalu mulai dengan pengalaman. Metafisika murni tak mungkin.
Dalam buku yang sama, terungkap bahwa murid Kant tidak puas dengan batasan budi itu, mereka akan bermetafisika. Sedangkan perlu diingat, bahwa mereka selalu dibawah pengaruh Kant dan filsuf-filsuf sebelumnya yang amat memperhatikan kesadaran dan pengalaman. Tidak heran bahwa dasar perenungan dalam sistem-sistem ini dicari dan didapat pada dasar-dasar tindakan, ialah manusia (baca: aku) sebagai dasar sekonkret-konkretnya. Bahwa dari suatu dasar ‘nyata’ menurunkan kesimpulan-kesimpulan serta memberi keterangan keseluruhan, bila ‘ada’ itu disebut sebagai idealisme yang mengakar pada diri manusia.
Hampir ada kemiripan dari 22 (dua puluh dua) puisi yang disuguhkan untuk diskusi ini, dalam hal proses penciptaan dan strategi tertentu yang mendasari ‘wirid’nya yang begitu berhati-hati. Segala sesuatu dilakukan dengan sangat hati-hati. Dalam puisi berikutnya berjudul “RestuMu Ya Rabb”, //Rabb/ dalam semak belukar berakar// dalam rimba yang ku jamah/ dalam lubang yang menjerat// hamba yang dhaif lemah ini/ tersesat pada malam liang/ mencuri ajal di gerbang awan// hamba sendirian/ tuhan// hamba tak brani menatap atau bicara langsung padaMu// jiwa ini kosong mlompong/ jasad ini tak berarti apaapa// dibanding seikat kembang/ yang kelak kutabur di pusaraku sendiri// hamba tak brani bertaruh// nyawa kunciku Kau genggam/ kanan bidari sunyi kiri duri menari// entah Kau beri mana hamba// pada Engkau hamba tunduk tawadhuk/ seluruhku kembali tuhan// satu permintaan terakhir hamba// restu...//
Perihal yang tersebut di atas memberikan sepetak gambaran dan penerangan yang mampu memprediksi bahwa BUAM akan selalu dihadapkan pada pelbagai tindakan yang menyeluruh. Sebagi dirinya sendiri, dari, oleh dan untuk diri sendiri pula. Manusia mengakui keberadaannya, ia ‘ada’ atas dirinya. Lahir sebagai pribadinya, dan akan meneruskan kelanjutan-kelanjutan dalam kelangsungan hidupnya sendiri yang berkepanjangan. Maka ia akan merasa sama sekali tidak mengikat maupun tidak pula ingin diikat oleh sesamanya. Dalam arti benar-benar berdiri sebagai individu yang mampu menaruh persoalan dan memecahkannya—menanam penyakit dalam dirinya sekaligus akan mengobatinya. Karena ia yakin kepada Allah, Tuhannya.
Namun BUAM akan merasakan juga ketika harus dihujani beberapa persoalan yang ‘sederhana’. Segala bentuk pengorbanan pun akan senantiasa menjadi persoalan yang pelik bagi sesamanya. Misal hal tersebut kurang disepakati oleh orang lain yang paling terdekat secara biologis maupun psikis, antara ia dengan orangtua, sanak saudara, hingga kepada pasangan (baca: pacar, suami/ istri). Dikarenakan ia ingin menjadi individu yang benar-benar tunggal untuk penemuan dan perenungan-perenungan tertentu dalam hal kelangsungan harkat dan martabatnya sebagai manusia seutuhnya. Pertanggungjawabannya dilakukan ketika ia harus menentukan pilihan yang ‘tersembunyi’ atas dasar perilaku yang sering dianggap menyimpang dan kurang disepakati oleh sesamanya. Namun hal itu mutlak sebagai jalan yang wajib ditempuh. Dan kali ini ia tetap tegar sebagai individu yang saling, walaupun sebenarnya ia tetap hadir untuk dirinya yang tak terpecahkan sebagai simbol utuh. Terbukti dalam puisi “Sejenak”, //sejenak saja kekasih/ kau temani aku di sini// hingga fajar atau matahari/ menemu kita berduaan.// sejenak saja kekasih/ aku ingin kau ada di sisiku// semalam saja kekasih// atau kalau tidak/ kau tak akan pernah melihatku lagi// sejenak saja//
Nampak juga secara tegas dalam puisi “Hawa Adam dan Hawa”, //kita yang pernah terusir lantaran khuldi.// untuk kedua kalinya kita terusir lagi/ lantaran apa lagi?// bukan karena khuldi kekasih.// bukan karena iblis.// bukan karena tuhan yang membenci kita.// untuk kedua kalinya kita terusir.// kali ini lantaran jibril.// hingga kita terlempar jauh,/ jauh dan hilang.// entah di mana kita sekarang...// aku ingin pulang adam,/ antarkan aku !!// tunggulah sampai embun memandikan jasadku !!//
Sehingga sangat jelas, bahwa BUAM dalam puisi-puisinya menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang begitu akut, namun ia juga menjawabnya dalam puisi itu. Karena ia begitu berhati-hati dalam mencatat segala sesuatu tentang dirinya yang benar-benar nampak (ingin) sebagai individu yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi.***
Semarang, 170212, 11.39 pm.


Setia Naka Andrian, lahir di Tabag Masjid RT 01/ RW 07, Desa Kertomulyo, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, 4 Februari 1989. Masih kerasan hinggap di Gang Langgar Sari, Gayamsari 4, Semarang; lantaran tuntutan proses studinya pada jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, hingga kini ia masih setia mengabdikan diri sebagai kacung di Teater Gema IKIP PGRI Semarang, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar Semarang, Rumah Diksi Art Creative Kendal dan Pembina Lembaga Pers Pelajar (LPP) Majalah Oasis SMA N 2 Kendal; serta ikut mengelola majalah Gradasi Semarang. Beberapa puisinya dibukukan dalam antologi bersama “Kursi Yang Malas Menunggu” Taman Budaya Jawa Tengah dan Hysteria, 2010; Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; Antologi puisi tiga tahunan Hysteria dan Dewan Kesenian Semarang “Beternak Penyair”, Penerbit Frame Publishing, Desember 2011. Beberapa cerpennya dibukukan dalam antologi bersama “Bila Bulan Jatuh Cinta” Penerbit Gradasi Semarang, 2009; Kumpulan Cerpen Pemenang Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia Bukan Perempuan, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI STAIN Purwokerto, Penerbit OBSESI Press – Grafindo, 2010; Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; antologi cerpen “Tanda”, pemenang lomba cerpen tingkat umum Se-Jawa Tengah Gelar Budaya Teater Semut Kendal, 2010; Antologi Cerpen Joglo 11 “Tatapan Mata Boneka”, Taman Budaya Jawa Tengah, 2011; Antologi Cerpen Bersama IKIP PGRI Semarang, “Perempuan Bersayap di Kota Seba”, KIAS IKIP PGRI Semarang, 2011; Email: naka_andrianez@yahoo.co.id; HP 085290066710;


GUS DUR DAN PARA PECINTA

Peluncuran Gus Punk oleh Ning Inaya Wahid didampingi Presiden PSK - Bahrul Ulum A. Malik Gus Punk - Antologi Puisi untuk Gus...