Sabtu, 17 Agustus 2019

GUS DUR DAN PARA PECINTA

Peluncuran Gus Punk oleh Ning Inaya Wahid
didampingi Presiden PSK - Bahrul Ulum A. Malik


Gus Punk - Antologi Puisi untuk Gus Dur – diterbitkan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) bekerjasama Gusdurian Kendal dan Medan Keabadian Kata telah diluncurkan pada Minggu 20 Januari 2019 di Halaman PP Nurul Hidayah Kaliwungu Kendal, buku tersebut diberi Kata Pengantar dan diluncurkan langsung oleh Putri Gus Dur - Inaya Wahid

Buku tersebut ditulis oleh 111 penyair dari berbagai kota dan propinsi: 
1.      Afifah Zahira – Sumenep, Jawa Timur
2.      Ahmad Riadi – ahmadriadi1991@gmail.com
3.      Ahmad Saofi – Wonogiri, Jawa Tengah
4.      Akhmad Sya'ban – Kendal, Jawa Tengah
5.      Alhilyatuz Zakiyah Fillaily – Pati, Jawa Tengah
6.      Aloeth Pathi – Pati, Jawa Tengah
7.      Alvin Romadon – Brebes, Jawa Tengah
8.      Amar Alfikar – Kendal, Jawa Tengah
9.      Anam Karikardus – Tegal, Jawa Tengah
10.    Ani Nugrahani – Kendal, Jawa Tengah
11.    Anis Saidah Rahman – Kendal, Jawa Tengah
12.    Arif Arga Kusuma – Kendal, Jawa Tengah
13.    Authar Fahmi – Kendal, Jawa Tengah
14.    Ayu Farhatina – Kendal, Jawa Tengah
15.    Bachtiar Luthfi – Brebes, Jawa Tengah
16.    Bahrul Ulum A. Malik – Kendal, Jawa Tengah
17.    Bambang  Supranoto – Blora, Jawa Tengah
18.    Bara Luqmana – Kendal, Jawa Tengah
19.    Bima W.S – Kendal, Jawa Tengah
20.    Birru Rakaitadewa – Magelang, Jawa Tengah
21.    Bony Fasius – Surabaya, Jawa Timur
22.    Budhi Setyawan – Bekasi, Jawa Barat
23.    Budi Maryono – Semarang, Jawa Tengah
24.    Budiawan – Kendal, Jawa Tengah
25.    Chadori Ichsan – Kendal, Jawa Tengah
26.    Daviatul Umam – Sumenep, Jawa Timur
27.    Devi Khofifatur Rizqi – Magelang, Jawa Tengah
28.    Dewi Rahmawati – Kendal, Jawa Tengah
29.    Dhimas Wisnu Mahendra – Tangerang, Banten
30.    Dhiyah Endarwati – Kendal, Jawa Tengah
31.    Dian Alima – Kendal, Jawa Tengah
32.    Dian Rusdiana – Bekasi, Jawa Barat
33.    Diki Santoso – Kendal, Jawa Tengah
34.    Dimas Indiana Senja – Brebes, Jawa Tengah
35.    Djoko Susilo – Kendal, Jawa Tengah
36.    Eka Ariza Asyauki – Kendal, Jawa Tengah
37.    Eko Tunas – Semarang, Jawa Tengah
38.    Endah Susilawati – Kendal, Jawa Tengah
39.    Ermin Siti Nurcholis – Kendal, Jawa Tengah
40.    Fahmi Bani Islami – Karawang, Jawa Barat
41.    Fahmi Wahid – Balangan, Kalimantan Selatan
42.    Faidi Rizal Alief – Sumenep, Jawa Timur
43.    Fajar Umbaran – Sragen, Jawa Tengah
44.    Falikhatul Ifriz – Jepara, Jawa Tengah
45.    Farida Syaqiban – Blora, Jawa Tengah
46.    Fathiyatul Bariroh – Probolinggo, Jawa Timur
47.    Fatimatul Mualifah – Kendal, Jawa Tengah
48.    Finas Aznie Nazira – Kendal, Jawa Tengah
49.    Firman Wally – Kota Ambon, Maluku
50.    Gunoto Saparie – Jakarta, DKI Jakarta

H. Abdul Muis, Pengasuh PP Nurul Hidayah Kaliwungu

51.    Gus Wahib – Demak, Jawa Tengah
52.    Haniek Himatul Hanifah – Kendal, Jawa Tengah
53.    Haryanto – Kendal, Jawa Tengah
54.    Helmiyah Marsya – Sumenep, Jawa Timur
55.    Heri Cs. – Boja Kendal, Jawa Tengah
56.    Herry S Juve’ns – Sumenep, Jawa Timur
57.    Heru Mugiarso – Grobogan, Jawa Tengah
58.    Ibna Asnawi – Sumenep, Jawa Timur
59.    Inok Evi Sulkhanah – Brebes, Jawa Tengah
60.    Irma – Brebes, Jawa Tengah
61.    Isfah Umamah – Sumenep, Jawa Timur
62.    Izul Adib – Kendal, Jawa Tengah
63.    Jack Efendi – Mojokerto, Jawa Timur
64.    Jamal Ke Malud – Tangerang Selatan, Banten
65.    Khafidhotul Mukaromah – Kendal, Jawa Tengah
66.    Khalil Satta Èlman – Sumenep, Jawa Timur
67.    Lazmi Mahmudah – Kendal, Jawa Tengah
68.    Lestari – Karanganyar, Jawa Tengah
69.    Lukas Jono – Salatiga, Jawa Tengah
70.    M. Imam Ilman – Ogan Ilir, Sumatera Selatan
71.    M. Lukluk Atsmara Anjaina – Kendal, Jawa Tengah
72.    Makhfud Syawaludin – Pasuruan, Jawa Timur
73.    Mangir Chan – Kudus, Jawa Tengah
74.    Maria Ulfa – Sumenep, Jawa Timur
75.    Maria Ulfa D.P. – Brebes, Jawa Tengah
76.    Maulana Yusuf Akbar – Kendal, Jawa Tengah
77.    Mifrohatun Nisa – Kendal, Jawa Tengah
78.    Muhamad Sulkhan – Kendal, Jawa Tengah
79.    Muhammad Asyhar Afif – Pati, Jawa Tengah
80.    Muhammad Daffa – Banjarbaru, Kalimantan Selatan
81.    Muhammad Khudloifi Ghifrillah – Sidoarjo, Jawa Timur
82.    Muhammad Mahzum – Kendal, Jawa Tengah
83.    Muhammad Ulul Fahmi – Kendal, Jawa Tengah
84.    Muslichin – Kendal, Jawa Tengah
85.    Mustikawati – Pati, Jawa Tengah
86.    Nanang Iskandar – Kendal, Jawa Tengah
87.    Nunuk Wahyuningsih – Banjarnegara, Jawa Tengah
88.    Nurul Khasanah – nurulkhasanah734@gmail.com
89.    Raedu Basha – Sumenep, Jawa Timur
90.    Rahem Er-S – Sumenep, Jawa Timur
91.    Ratna Wulandari – Sumenep, Jawa Timur
92.    Restianingsih - ristianingsihfans@gmail.com
93.    Rezqie M. A. Atmanegara – Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
94.    Roso Titi Sarkoro – Temanggung, Jawa Tengah
95.    Sami’an Adib – Jember, Jawa Timur
96.    Setia Naka Andrian – Kendal, Jawa Tengah
97.    Shafira Rahmadania Efendy – shafirania03@gmail.com
98.    Siti Hidayah – Kendal, Jawa Tengah
99.    Sofi Aisa Dewi – Kendal, Jawa Tengah
100.  Sofyan RH. Zaid –  Sumenep, Jawa Timur

Bapak Juliari P. Batubara yang telah membantu mencetak buku Gus Punk

101.  Sri Maullasari – Pati, Jawa Tengah
102.  Sujud Arismana – Pekanbaru, Riau
103.  Suryanto – Kotabumi, Lampung
104.  Syamsul Ma’arif – Kendal, Jawa Tengah
105.  Tanjung Alim Sucahya – Kendal, Jawa Tengah
106.  Tartila Q. Aini – Sumenep, Jawa Timur
107.  Taufan Rosyadi Yusuf – Sleman, DI Yogyakarta
108.  Tri Sadono – Temanggung, Jawa Tengah
109.  Widya Ningrum – Kudus, Jawa Tengah
110.  Zakiyatul Miskiyah – Sumenep, Jawa Timur
111.  Zakiyatur Rosidah – Bojonegoro, Jawa Timur

Sebagai bentuk tangungjawab, Penerbit PSK memberikan satu buku tersebut secara cuma-cuma kepada setiap kontributor Gus Punk. Buku bisa diambil di sekretariat PSK, Jl. Kauman No. 09 Kumpulrejo 02/03 Kaliwungu Kendal Jawa Tengah, bagi kontributor yang jauh kami siap memaketkan buku tersebut dengan cukup mengganti ongkir.

Gus Punk (Photo Dokumentasi PSK)

Untuk itu, PSK menyampaikan beribu terima kasih kepada:
1.    Ning Inaya Wahid  
2.    Para Kontributor Antologi Puisi Gus Punk
3.    Gusdurian Kendal
4.    Medan Keabadian Kata
5.    Djoko Susilo, Kartunis, Pelukis Gus Dur “Gus Punk”
6.    Ahmad Irfan, yang telah membuat cover Gus Punk
7.    Setia Naka Andrian, Bilik Grafis
8.    PP Nurul Hidayah Kaliwungu Kendal
9.    PAC IPNU-IPPNU Kaliwungu Kendal
10.  Bapak Juliari P. Batubara, yang telah membantu mencetak buku Gus Punk
11.  Komunitas Seni se-Kabupaten Kendal
12.  Teman-teman PSK

Pembacaan Puisi oleh Lukluk Anjaina


Bagi teman-teman diluar kontributor Gus Punk yang hendak memiliki buku tersebut, cukup dengan mentransfer Rp 50.000 + ongkir ke rekening BRI 3407-0104-5570-530 a.n. Pelataran Sastra Kaliwungu. Silahkan hubungi kontak kami: 085641402250 (Ulum) atau 085866986066 (Lukluk).


Gus Punk

Sabtu, 20 Juli 2019

Arswendo Atmowiloto (Profil)


Arswendo Atmowiloto (Foto: Media Indonesia/M. Irfan)



Arswendo Atmowiloto (lahir di SurakartaJawa Tengah26 November 1948 – meninggal di Jakarta19 Juli 2019 pada umur 70 tahun[1]) adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Ia menulis cerpennovel, naskah drama, dan skenario film.[2]

Pendidikan dan Karier

Arswendo pernah kuliah di IKIP Solo. Namun tidak tamat. Ia pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, di Solo (1972), wartawan Kompas dan pemimpin redaksi HaiMonitor, dan Senang.
Tahun 1979 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.[3]
Ia pernah mengelola tabloid Bintang Indonesia setelah menemui Sudwikatmono, penerbitnya. Arswendo berhasil menghidupkan tabloid itu. Tapi, Arswendo hanya bertahan tiga tahun. Ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak BianglalaIna (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Selain aktif menulis, ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron.

Kontroversi

Pada tahun 1990, ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat. Ketika itu, Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat Muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman 5 tahun penjara.

Kehidupan pribadi

Nama aslinya adalah Sarwendo, dengan nama baptis Paulus. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan pop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
Arswendo mulanya beragama Islam, namun berpindah agama menjadi Katholik mengikuti agama sang istri.
Kakaknya, Satmowi Atmowiloto, adalah seorang kartunis.

Karya

Dalam penulisan tidak jarang dia menggunakan nama samaran. Untuk cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), di harian Kompas, ia menggunakan nama Sukmo Sasmito. Untuk Auk yang dimuat di Suara Pembaruan ia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang ia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah Said Saat dan B.M.D Harahap.

Sinetron

  • 1 Kakak 7 Ponakan (RCTI, 1996)
  • Keluarga Cemara (RCTI, 1996-2002)
  • Deru Debu (SCTV, 1994-1996)
  • Jalan Makin Membara II (SCTV, 1995-1996)
  • Jalan Makin Membara III (SCTV, 1996-1997)
  • Imung (SCTV, 1997)
  • Ali Topan Anak Jalanan (SCTV, 1997-1998)

Penghargaan

Tahun 1972 ia memenangkan Hadiah Zakse atas esainya "Buyung -Hok dalam Kreativitas Kompromi". Dramanya, Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, memperoleh Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973. Pada tahun 1975 dalam sayembara yang sama dia mendapatkan Hadiah Harapan atas drama Sang Pangeran. Dramanya yang lain, Sang Pemahat, memperoleh Hadiah Harapan I Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-Anak DKJ 1976. Selain itu, karyanya Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985), dan Mendoblang (1987) mendapatkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1981, 1985, dan 1987. Tahun 1987 Arswendo memperoleh Hadiah Sastra Asean.[4]

Wafat

Pada Jumat, 19 Juli 2019 sastrawan, wartawan, dan budayawan ini wafat. Beliau wafat pada 17.50 di rumahnya, setelah mengalami sakit kanker prostat.[1]

Selasa, 09 Juli 2019

PSK PENERBIT BUKU



salah satu cara mengabadikan kenangan adalah dengan membukukan tulisan. mari, terbitkan karyamu, PSK siap membantu (layout, cover, isbn) sampai karyamu terbit di tangan. #pskpenerbitbuku #komunitassastra #psk #pelataransastrakaliwungu


Minggu, 07 April 2019

Puisi Eko Tunas

Tidak Ada

Tidak ada yang tahu
Apa bakal terjadi
Laut belum bersaksi
Satu pesawat tempur
Mau bombardir kota
Muncul dari sisi gunung

Gunung juru bicara alam
Masih diam seribu basa
Squadron melesat
Dari kapal perang
Orang-orang tidak tahu
Apa terjadi di udara

Pesawat dan jet
Saling baku serang
Penyair terpukau
Sajak apa mesti ditulis
Orang-orang terpana
Melihat kembang api

Tuhan pun tertawa

1 April 2019



Kota

Dari lawangsewu
Ke kotalama
Kota mengambang
Serupa mainan anak
Ada diskon 50 %
Mall mau dijual

Di sini tempat berjanji
Di antara heritage
Lalu lapak-lapak artefak
Maksi apa kita
Baiknya nasgor mberok
Kita makan di taman

Ini kota dekat hati
Simpanglima jauh mata
Terlalu banyak warna
Juga lampu warni
Baju batik oke saja
Dipadu jins belel robek

Kota ya kamu
Iya kamu

3 April 2019




Dua Kapal

Dua kapal perang
Saling serang
Di lautan bebas teritori
Ikan-ikan bereksodus
Mengira ada badai
Untuk waktu lama

Seorang kanak nelayan
Di perahu kecil
Menyaksikan dari jauh
Tersenyum-senyum
Seperti menikmati
Permainan ganjil

Lalu gerimis riwis
Serupa harpa langit
Dua kapal saling benam
Kanak meniup seruling
Berpadu petikan gaib
Bagai puisi Tuhan

7 April 2019


Eko Tunas, merasa sangat dicintai Tuhan, dengan beberapa bakat yang dimilikinya: senirupa, teater, sastra. Karya-karyanya -- puisi, cerpen, esai, novel -- tersebar di berbagai mediamassa. Kumpulan puisinya Sajak Dolanan, Yang Terhormat Rakyat, Ponsel di Atas Sprai, Aorta. Novelnya Wayang Kertas memenangkan lomba cerbung Suara Merdeka. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama dalam buku Bidadari Sigarasa dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Lalu buku cerpen tunggalnya, Tunas. Naskah-naskah drama dan skenarionya dimainkan Teater RSPD Tegal, Teater Dhome dan Teater Lingkar Semarang. Kini sambil terus menulis dan berteater ayah beranak lima ini  kembali ke habibatnya melukis. Sambil sesekali monolog atau ceramah kebudayaan di banyak kota. Hidup yang penting dilakoni, susah dan senang sama saja, katanya.

Senin, 01 April 2019

Sastra yang Terancam (?)



Potongan Suara Merdeka, Minggu 31 Maret 2019 

Oleh Dimas Indiana Senja


Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa ó suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacammacam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Begitu Seno Gumira Ajidarma menitikpentingkan ikhwal kerja menulis dalam bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.
Menulis sastra, dalam hal ini, adalah alternatif untuk ìberbicaraî kepada khalayak pembaca mengenai ide, gagasan, harapan, atau keresahan. Sejauh ini, sastra memang menjadi satu lembaga ó dengan segenap kebebasannya ó alternatif bagi orangorang yang ingin mengutarakan isi hati dan kepalanya dalam tulisan.
Sastra tidak berhenti pada teks narasi yang murni mengakomodasi pemikiran dan imajinasi. Sebaliknya, sastra mengandung satu muatan besar, di balik kata-kata dan sudut pandang yang dipilih penulis untuk memberi penekanan pada pembaca.
Bahkan, menurut Horatius, sastra tidak sebatas memberikan hiburan yang bersifat imajik, tetapi juga memiliki muatan “pesan” yang dominan. Jadi tidak diragukan lagi keberadaan sastra sangat urgen dalam sejarah peradaban manusia. Namun tidak selamanya kesaktian sastra menghadapi jalan mulus.
Yang Mengancam
Di Indonesia, sejarah menyatakan beberapa dekade lalu, sastra dan sastrawan selalu berhadapan dengan kekuatan rezim. Banyak sastrawan diintervensi, bahkan diculik, manakala tulisannya mengkritik penguasa atau diindikasi menggiring opini publik kepada perlawanan terhadap rezim. Diskusi sastra hingga panggung sastra menjadi satu hal yang tidak boleh berjalan tanpa penjagaan ketat aparat militer.
Betapa sastra memiliki kedudukan cukup penting terhadap bangunan wacana masyarakat. Bahkan ketika jurnalisme dibungkan, begitu kata Seno, sastra harus bicara. Sastra menjadi pilihan lain ketika jalan utama dalam penyampaian kebenaran ditutup, ketika ruang kritis dibatasi. Sastra membangun jalannya sendiri.
Namun makin diimpit keadaan, kian kuat posisi sastra. Makin banyak orang meyakini cara mengungkapkan kebenaran yang strategis adalah dengan bersastra. Maka, banyak sekali karya sastra lahir sebagai anak peradaban. Dengan membaca sastra, keadaan sosiokultural suatu negara bisa dibaca, dipelajari, bahkan bisa diramalkan.
Hari ini, keberadaan sastra sebagai ancaman ternyata masih berlaku. Masih ada pihak yang merasa terancam dengan sastra. Sebagaimana terjadi di Universitas Sumatera Utara, baru-baru ini. Sang rektor, Prof Runtung Sitepu, memberhentikan semua pengurus Suara USU karena memuat cerpen yang “tidak layak muat”.
Cerpen itu berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” yang ditulis Yael Stefani Sinaga. Cerpen itu menceritakan tokoh aku, Kirana Cantika Putri Dewi, anak tunggal dari seorang ayah pengusaha kayu jati terbesar di Sumatera dan seorang ibu wartawan lokal yang bergerak dengan isu hak asasi manusia (HAM).
Yang Terancam
Menurut keterangan pihak kampus, seluruh tim Suara USU dinyatakan bersalah karena membiarkan cerpen “berbau LGBT” dimuat. Karena, cerpen itu menceritakan kisah hati tokoh aku pada teman perempuannya. Justifikasi cerpen sebagai pro- LGBT yang jadi alasan pemberhentian redaktur adalah tindakan logical fallacy.
Betapapun sastra memiliki kebebasan. Tidak ada satu pihak pun berwenang melarang dalam dan untuk menulis sastra. Pemecatan tim redaksi Suara USU itu menandakan sikap represif kampus terhadap kreativitas mahasiswa, terlebih dalam persoalan sastra.
Sebagaimana kata Seno pada awal tulisan ini, menulis bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan cara penulis menyuarakan pikiran, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Dalam cerpen itu, penulis menitikberatkan pada persoalan ketidakadilan hidup yang diderita tokoh aku. Betapa penipuan merenggut harta dan nyawa ayahnya. Kehidupan yang berjalan begitu mulus berubah drastis menjadi kehidupan yang pilu dan sesak.
Terlebih saat ibunya, yang wartawan tidak diketahui rimbanya usai mengulik kebobrokan pemerintah, seperti ekploitasi besar-besaran saat krisis moneter. Ibunya representasi dari wartawan atau pihak yang menyuarakan kebenaran berkait dengan HAM saat itu dengan menuliskan tulisan panjang sarat kritik. Dua minggu berselang, ibunya hilang. Penderitaan tokoh aku bertambah.
Di sinilah klimaks dari cerpen itu sebenarnya. Namun, kampus lebih fokus ke persoalan pengungkapan perasaan tokoh aku pada teman dekatnya, Larasati Kesuma Wijaya. Padahal itu hanyalah pengantar untuk menceritakan muatan inti persoalan: pembungkaman jurnalisme ketika mengutarakan kebenaran yang mengancam eksistensi penguasa. Ada efek panjang dari fenomena ini. Kampus sebagai lembaga akademik- intelektual seharusnya memiliki kacamata lebih jernih dalam memahami bacaan.
Apalagi posisi Suara USU sebagai lembaga pers mahasiswa, sudah semestinya menjadi wahana pengembangan wacana dan nalar kritis bagi mahasiswa. Kampus semestinya memberikan apresiasi, bukan represi, terhadap kebebasan berekpresi mahasiswaya. Tidak sebatas itu, fenomena ini menjadi rapor buruk kampus sebagai pemproduksi mahasiswa kreatif.
Efek panjang itu semestinya jadi renungan bersama. Sastra tidak boleh diintervensi karena merupakan jalan paling strategis menyuarakan ide dan kebenaran. Pengerdilan kreativitas semacam ini tidak boleh dibiarkan. Tuman! (28)
Dimas Indiana Senja
(photo diambil dari profil WA-nya)
Dimas Indiana Senjapenyair, esais, dan peneliti. Penulis UWRF 2016, pendiri Bumiayu Creative City Forum (BCCF).

GUS DUR DAN PARA PECINTA

Peluncuran Gus Punk oleh Ning Inaya Wahid didampingi Presiden PSK - Bahrul Ulum A. Malik Gus Punk - Antologi Puisi untuk Gus...