Sabtu, 31 Agustus 2019

SASTRA INDONESIA DAN DUNIA



 April 1999, Pramoedya Ananta Toer di Kota New York. Gedung Asia Society penuh. Sastrawan Indonesia yang baru menerima Freedom to Write Award dari organisasi penulis PEN itu duduk di panggung. Ia diapit John MacGlynn, yang menerjemahkan ”Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” yang diluncurkn malam itu, dan Mary Zurbuchen, Direktur Ford Foundation yang juga menerjemahkan sastra Indonesia. Ford Foundation membeayai kunjungan Pram ke AS, tapi malam itu Mary lebih berperan sebagai penerjemah buat Pram. Saya juga di sana, untuk memberi pidato penyambutan. Amitav Gosh, novelis terkemuka, membacakan fragmen “The Mute’s Soliloquy” versi Inggris buku catatan-catatan Pram dari Pulau Buru.
Kursi-kursi Asia Society, tempat yang dikenal untuk acara-acara kebudayaan dari Asia, semua terisi. Saya lihat banyak warga Indonesia yang ada di New York. Di sana-sini tampak orang Amerika yang “kecanthol” Indonesia.
Tapi saya tak melihat media cetak dan elektronik terkemuka di sana. Setahu saya, satu-satunya yang hadir seorang reporter The New York Times; dia keturunan Indonesia, dan memperkenalkan diri sebagai salah satu anggota keluarga Penyair Subagio Sastrowardojo.
Saya sedih: esoknya, di koran dan televisi, tak saya temukan berita tentang kunjungan tokoh yang disebut dalam selebaran Asia Society sebagai “pengarang terbesar Indonesia” itu — orang yang dengan teguh hati dan pikiran menanggungkan kesewenang-wenangan Orde Baru.
Pelan-pelan saya pun sadar: bagi media Amerika, mungkin juga bagi kalangan literati Amerika, Pramoedya Ananta Toer nyaris tak dikenal. Agaknya riwayat hidupnya sebagai penulis yang tertindas tak mereka anggap istimewa. Bagi mereka, ada sastrawan lain yang lebih menonjol dari Dunia Ketiga: misalnya sastrawan kiri Turki, Yasar Kamal, anak petani Kurdi yang miskin yang berkali-kali dipenjarakan pemerintah. Karyanya, “Memed, Elangku”, membuatnya dicalonkan sebagai pemenang Nobel. Kamal juga pernah menerima beberapa penghargaan yang juga diterima Octavio Paz dan Habermas.
Dibandingkan Kamal dari Turki dan Assia Jebar dari Aljazair, Pramoedya jauh tak terlihat. Sebagaimana sastra Indonesia seperti tak tercatat. Pernah saya ketemu sebuah jilid tebal kumpulan puisi dunia di satu toko buku di New York; di sana ada puisi dari Laos dan Vietnam, tapi tak ada dari Indonesia. Untunglah, dalam antologi yang lebih prestisius, “World poetry : an anthology of verse from antiquity to our time” yang terbit di tahun 1998 saya temukan satu sajak Sapardi Djoko Damono, “Mask.” Saya berbahagia.
Mungkin rasa bahagia itu bagian dari perasaan “sebangsa dan setanahair” — paralel dengan rasa kecewa ketika kehadiran Pram dan karyanya di Amerika tidak disambut sebagaimana kita mengharapkannya.
Saya sering bertanya-tanya: apa gerangan yang membuat karya sastra Indonesia bisa dikenal dan dihargai di luar negeri?
***
Ketika saya aktif dalam tim persiapan Indonesia untuk hadir sebagai “Guest of Honour” dalam Frankfurt Book Fair (FBF) di tahun 2015, niat saya adalah memperkenalkan Indonesia dan karya-karya sastranya serentak di satu acara besar yang tersohor. Apalagi kesempatan sebagai “Guest of Honour” langka sekali — posisi yang diperebutkan banyak negara, yang juga ingin secara besar-besaran menghadirkan diri: Finlandia menunggu tampil konon selama 15 tahun, dan Prancis baru mendapatkannya dua tahun setelah Indonesia.
Kami, tim Indonesia, menghadirkan “Indonesia” dalam pelbagai segi, di pelbagai kesempatan di Jerman tahun itu. Tak hanya buku, dan tak hanya sastra: seni rupa, juga karya komik, musik kontemporer, musik gembira (termasuk dangdut di Festival Tepi Sungai Main), tari-tarian, film, diskusi dan seminar di perguruan tinggi, sajian dan ceramah dunia kuliner.
Kami sudah muncul sejak setahun sebelumnya. Kami datangkan ke Jerman beberapa puluh sastrawan, pengarang non-sastra, musisi, perupa, pakar kuliner. Juga tokoh nasional Indonesia yang terkait dengan Jerman (a.l. B.J. Habibie, Franz Magnis Susesno). Kami bikin acara di Leipzig, Hamburg, Koln, Berlin, Frankfurt. Kami memasang iklan dengan teks yang menarik di beberapa koran besar, mengundang sekitar 25 wartawan Jerman berkunjung ke Indonesia — juga memasang peragaan visual di arena publik di beberapa kota, bahkan membuat gerbong tram kota Frankfurt dicat besar-besaran: “Indonesia: 17,000 Inseln der Imagination”.
Saya berpikir: kesempatan ini harus jadi bagian dari ‘branding’ Indonesia sebagai sebuah negeri yang cerdas dan kreatif —dan sastranya patut diperhatikan dunia.
***
Dalam batas tertentu, ikhtiar itu berhasil. Kini jauh lebih banyak karya Indonesia diterjemahkan ke pelbagai bahasa dunia; dan setelah FBF 2015, di tahun 2019 Indonesia diundang sebagai negeri utama dalam London Book Fair (LBF).
Tapi harus saya tambahkan: FBF 2015 dan LBF 2019, dua kesempatan besar itu, pada dasarnya acara penerbit, bukan acara sastra. Para sastrawan, dengan ego yang menggelembung, jarang menyadari ini. Mereka tak tahu lebih banyak buku masak disambut ketimbang buku puisi.
Memproduksi puisi dan novel Indonesia ke dalam bahasa asing membutuhkan penerjemah yang sangat langka. Juga dibutuhkan penerbit asing yang berani (atau nekad) berinvestasi, karena pasar sangat tipis.
Tak hanya itu. Dalam komite FBF 2015, kami punya problem besar, karena di tahun itu, honor untuk penerjemah asing sama sekali tak pantas — mengikuti ketentuan pemerintah yang tak pernah kenal sastra. Novel Laksmi Pamuntjak, “Amba,” beruntung. Di luar usaha komite, novel itu menarik perhatian sebuah penerbit besar yang siap membayar penerjemah yang baik dan mengadakan promosi yang meriah. Untuk mengimbangi, atau melengkapi, Yayasan Lontar, dengan ikhtiar John MacGlynn dan kawan-kawan, banting tulang meluncurkan sejumlah judul karya terjemahan ke dalam bahasa Inggris, berupa buku-buku kecil.
Setelah itu, apakah sastra Indonesia lebih dikenal?
Saya kira belum. Keterkenalan internasional umumnya tak ditentukan mutu buku. Karya Pram, sebagaimana karya Mochtar Lubis sekian dasawarsa yang lalu, dicari penerbit dunia terutama karena dua sastrawan ini jadi berita, sebagai korban pegulatan politik Perang Dingin.
Ada faktor sejarah politik yang lebih umum: Indonesia tak pernah berada dalam jalan perang Amerika. Indonesia tak punya pengalaman Korea, Vietnam, Laos, dan kini Afghanistan serta Timur Tengah; nama Indonesia jauh dari ingatan kekuatan dunia yang membentuk “percakapan”.
Indonesia juga tak pernah jadi koloni negara yang menggunakan bahasa dunia. Bahasa Belanda terbatas geografinya, tak seperti Inggris, Spanyol, Prancis.
Indonesia bukan pula negeri yang sejak berabad-abad yang lalu mempesona (atau mencemaskan) “Barat”, seperti Tiongkok, Jepang, India, Turki, Arab, dan sebab itu produk kebudayaan negeri-negeri itu dapat perhatian di Eropa dan Amerika.
Di samping semua itu, Indonesia tak punya diaspora yang besar di Amerika dan Eropa — diaspora yang mengenal karya sastra Indonesia dan menyukainya, dan bisa jadi konsumen yang memikat para penjual sastra dan gagasan.
Apa boleh buat: melihat semua faktor itu, sastra Indonesia nyaris tak punya kans untuk dapat perhatian dunia.
**
Dari pengalaman saya dapat pelajaran untuk lebih tahu diri: saya senang jika karya saya dibaca orang di luar Indonesia, tapi saya akan hanya frustrasi andaikata itu tujuan pokok saya. Saya tak menulis untuk diterjemahkan. Saya kira setiap penulis punya pembaca ‘imajiner’ yang ia kenal. ‘Pembaca’ yang saya bayangkan adalah mereka yang berbahasa Indonesia dengan akrab dan punya pengalaman dalam kehidupan Indonesia sehari-hari. Tak lebih dari itu.
Pembaca dunia adalah ilusi. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sekalipun, karya saya tak akan dibaca orang yang hanya berbahasa Mongol, Uzbek, atau Swahili. Sastra “dunia” umumnya diukur dengan ukuran yang mencong tentang “dunia”. Kita tak bisa menggugat jika juri Hadiah Nobel — yang konon punya wibawa sedunia —tak bisa mengikuti karya nun jauh di Madura.
Maka tiap kali saya gundah gulana karena karya sastra saya tak masuk dalam buku atau acara “internasional”, saya punya penangkal: saya toh sejak mula tak menulis untuk itu…
Tapi mungkin ini hanya berlaku buat saya, atau orang sejenis saya, yang enggan berdesak-desakan ke gerbang untuk ke luar dari wilayah sastra Indonesia — sebab saya tak tahu “luar” itu mana, tak tahu gerbang itu menuju ke mana.
Saya lebih baik menulis. Seringkali tak jelas untuk siapa, tapi dengan senang hati.


Sumber: https://www.facebook.com/gmgmofficial/photos/a.1541394242541369/2864444973569616/?type=3&theater 
https://www.facebook.com/gmgmofficial

Sabtu, 17 Agustus 2019

GUS DUR DAN PARA PECINTA

Peluncuran Gus Punk oleh Ning Inaya Wahid
didampingi Presiden PSK - Bahrul Ulum A. Malik


Gus Punk - Antologi Puisi untuk Gus Dur – diterbitkan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) bekerjasama Gusdurian Kendal dan Medan Keabadian Kata telah diluncurkan pada Minggu 20 Januari 2019 di Halaman PP Nurul Hidayah Kaliwungu Kendal, buku tersebut diberi Kata Pengantar dan diluncurkan langsung oleh Putri Gus Dur - Inaya Wahid

Buku tersebut ditulis oleh 111 penyair dari berbagai kota dan propinsi: 
1.      Afifah Zahira – Sumenep, Jawa Timur
2.      Ahmad Riadi – ahmadriadi1991@gmail.com
3.      Ahmad Saofi – Wonogiri, Jawa Tengah
4.      Akhmad Sya'ban – Kendal, Jawa Tengah
5.      Alhilyatuz Zakiyah Fillaily – Pati, Jawa Tengah
6.      Aloeth Pathi – Pati, Jawa Tengah
7.      Alvin Romadon – Brebes, Jawa Tengah
8.      Amar Alfikar – Kendal, Jawa Tengah
9.      Anam Karikardus – Tegal, Jawa Tengah
10.    Ani Nugrahani – Kendal, Jawa Tengah
11.    Anis Saidah Rahman – Kendal, Jawa Tengah
12.    Arif Arga Kusuma – Kendal, Jawa Tengah
13.    Authar Fahmi – Kendal, Jawa Tengah
14.    Ayu Farhatina – Kendal, Jawa Tengah
15.    Bachtiar Luthfi – Brebes, Jawa Tengah
16.    Bahrul Ulum A. Malik – Kendal, Jawa Tengah
17.    Bambang  Supranoto – Blora, Jawa Tengah
18.    Bara Luqmana – Kendal, Jawa Tengah
19.    Bima W.S – Kendal, Jawa Tengah
20.    Birru Rakaitadewa – Magelang, Jawa Tengah
21.    Bony Fasius – Surabaya, Jawa Timur
22.    Budhi Setyawan – Bekasi, Jawa Barat
23.    Budi Maryono – Semarang, Jawa Tengah
24.    Budiawan – Kendal, Jawa Tengah
25.    Chadori Ichsan – Kendal, Jawa Tengah
26.    Daviatul Umam – Sumenep, Jawa Timur
27.    Devi Khofifatur Rizqi – Magelang, Jawa Tengah
28.    Dewi Rahmawati – Kendal, Jawa Tengah
29.    Dhimas Wisnu Mahendra – Tangerang, Banten
30.    Dhiyah Endarwati – Kendal, Jawa Tengah
31.    Dian Alima – Kendal, Jawa Tengah
32.    Dian Rusdiana – Bekasi, Jawa Barat
33.    Diki Santoso – Kendal, Jawa Tengah
34.    Dimas Indiana Senja – Brebes, Jawa Tengah
35.    Djoko Susilo – Kendal, Jawa Tengah
36.    Eka Ariza Asyauki – Kendal, Jawa Tengah
37.    Eko Tunas – Semarang, Jawa Tengah
38.    Endah Susilawati – Kendal, Jawa Tengah
39.    Ermin Siti Nurcholis – Kendal, Jawa Tengah
40.    Fahmi Bani Islami – Karawang, Jawa Barat
41.    Fahmi Wahid – Balangan, Kalimantan Selatan
42.    Faidi Rizal Alief – Sumenep, Jawa Timur
43.    Fajar Umbaran – Sragen, Jawa Tengah
44.    Falikhatul Ifriz – Jepara, Jawa Tengah
45.    Farida Syaqiban – Blora, Jawa Tengah
46.    Fathiyatul Bariroh – Probolinggo, Jawa Timur
47.    Fatimatul Mualifah – Kendal, Jawa Tengah
48.    Finas Aznie Nazira – Kendal, Jawa Tengah
49.    Firman Wally – Kota Ambon, Maluku
50.    Gunoto Saparie – Jakarta, DKI Jakarta

H. Abdul Muis, Pengasuh PP Nurul Hidayah Kaliwungu

51.    Gus Wahib – Demak, Jawa Tengah
52.    Haniek Himatul Hanifah – Kendal, Jawa Tengah
53.    Haryanto – Kendal, Jawa Tengah
54.    Helmiyah Marsya – Sumenep, Jawa Timur
55.    Heri Cs. – Boja Kendal, Jawa Tengah
56.    Herry S Juve’ns – Sumenep, Jawa Timur
57.    Heru Mugiarso – Grobogan, Jawa Tengah
58.    Ibna Asnawi – Sumenep, Jawa Timur
59.    Inok Evi Sulkhanah – Brebes, Jawa Tengah
60.    Irma – Brebes, Jawa Tengah
61.    Isfah Umamah – Sumenep, Jawa Timur
62.    Izul Adib – Kendal, Jawa Tengah
63.    Jack Efendi – Mojokerto, Jawa Timur
64.    Jamal Ke Malud – Tangerang Selatan, Banten
65.    Khafidhotul Mukaromah – Kendal, Jawa Tengah
66.    Khalil Satta Èlman – Sumenep, Jawa Timur
67.    Lazmi Mahmudah – Kendal, Jawa Tengah
68.    Lestari – Karanganyar, Jawa Tengah
69.    Lukas Jono – Salatiga, Jawa Tengah
70.    M. Imam Ilman – Ogan Ilir, Sumatera Selatan
71.    M. Lukluk Atsmara Anjaina – Kendal, Jawa Tengah
72.    Makhfud Syawaludin – Pasuruan, Jawa Timur
73.    Mangir Chan – Kudus, Jawa Tengah
74.    Maria Ulfa – Sumenep, Jawa Timur
75.    Maria Ulfa D.P. – Brebes, Jawa Tengah
76.    Maulana Yusuf Akbar – Kendal, Jawa Tengah
77.    Mifrohatun Nisa – Kendal, Jawa Tengah
78.    Muhamad Sulkhan – Kendal, Jawa Tengah
79.    Muhammad Asyhar Afif – Pati, Jawa Tengah
80.    Muhammad Daffa – Banjarbaru, Kalimantan Selatan
81.    Muhammad Khudloifi Ghifrillah – Sidoarjo, Jawa Timur
82.    Muhammad Mahzum – Kendal, Jawa Tengah
83.    Muhammad Ulul Fahmi – Kendal, Jawa Tengah
84.    Muslichin – Kendal, Jawa Tengah
85.    Mustikawati – Pati, Jawa Tengah
86.    Nanang Iskandar – Kendal, Jawa Tengah
87.    Nunuk Wahyuningsih – Banjarnegara, Jawa Tengah
88.    Nurul Khasanah – nurulkhasanah734@gmail.com
89.    Raedu Basha – Sumenep, Jawa Timur
90.    Rahem Er-S – Sumenep, Jawa Timur
91.    Ratna Wulandari – Sumenep, Jawa Timur
92.    Restianingsih - ristianingsihfans@gmail.com
93.    Rezqie M. A. Atmanegara – Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
94.    Roso Titi Sarkoro – Temanggung, Jawa Tengah
95.    Sami’an Adib – Jember, Jawa Timur
96.    Setia Naka Andrian – Kendal, Jawa Tengah
97.    Shafira Rahmadania Efendy – shafirania03@gmail.com
98.    Siti Hidayah – Kendal, Jawa Tengah
99.    Sofi Aisa Dewi – Kendal, Jawa Tengah
100.  Sofyan RH. Zaid –  Sumenep, Jawa Timur

Bapak Juliari P. Batubara yang telah membantu mencetak buku Gus Punk

101.  Sri Maullasari – Pati, Jawa Tengah
102.  Sujud Arismana – Pekanbaru, Riau
103.  Suryanto – Kotabumi, Lampung
104.  Syamsul Ma’arif – Kendal, Jawa Tengah
105.  Tanjung Alim Sucahya – Kendal, Jawa Tengah
106.  Tartila Q. Aini – Sumenep, Jawa Timur
107.  Taufan Rosyadi Yusuf – Sleman, DI Yogyakarta
108.  Tri Sadono – Temanggung, Jawa Tengah
109.  Widya Ningrum – Kudus, Jawa Tengah
110.  Zakiyatul Miskiyah – Sumenep, Jawa Timur
111.  Zakiyatur Rosidah – Bojonegoro, Jawa Timur

Sebagai bentuk tangungjawab, Penerbit PSK memberikan satu buku tersebut secara cuma-cuma kepada setiap kontributor Gus Punk. Buku bisa diambil di sekretariat PSK, Jl. Kauman No. 09 Kumpulrejo 02/03 Kaliwungu Kendal Jawa Tengah, bagi kontributor yang jauh kami siap memaketkan buku tersebut dengan cukup mengganti ongkir.

Gus Punk (Photo Dokumentasi PSK)

Untuk itu, PSK menyampaikan beribu terima kasih kepada:
1.    Ning Inaya Wahid  
2.    Para Kontributor Antologi Puisi Gus Punk
3.    Gusdurian Kendal
4.    Medan Keabadian Kata
5.    Djoko Susilo, Kartunis, Pelukis Gus Dur “Gus Punk”
6.    Ahmad Irfan, yang telah membuat cover Gus Punk
7.    Setia Naka Andrian, Bilik Grafis
8.    PP Nurul Hidayah Kaliwungu Kendal
9.    PAC IPNU-IPPNU Kaliwungu Kendal
10.  Bapak Juliari P. Batubara, yang telah membantu mencetak buku Gus Punk
11.  Komunitas Seni se-Kabupaten Kendal
12.  Teman-teman PSK

Pembacaan Puisi oleh Lukluk Anjaina


Bagi teman-teman diluar kontributor Gus Punk yang hendak memiliki buku tersebut, cukup dengan mentransfer Rp 50.000 + ongkir ke rekening BRI 3407-0104-5570-530 a.n. Pelataran Sastra Kaliwungu. Silahkan hubungi kontak kami: 085641402250 (Ulum) atau 085866986066 (Lukluk).


Gus Punk

Larung Sastra: Mengabadikan Kata

Prosesi Larung Sastra 2019. (dok. PSK) Kendal - Ada yang berbeda dengan malam minggu di Pelabuhan Kendal kali, jika biasanya malam m...