Sabtu, 24 Februari 2018

TENTANG PUISI ESAI

Tentang Puisi Esai

Oleh : Eko Tunas

Puisi Esai bukan sekadar puisi panjang -- apalagi pakai catatan kaki segala. Mana ada karya sastra -- apalagi sajak -- pakai catatan kaki. Sajak adalah karya fiksi dengan dasar estetika (filsafat keindahan). Mudahnya: puisi adalah seni bahasa.

Esai pun sangat menggelikan kalau diberi catatan kaki. Bahkan Goenawan Mohamad menyebut esainya sebagai Catatan Pinggir. Mana mungkin catatan (pinggir) diberi catatan (kaki). Esai adalah bentuk tulisan dengan ungkapan praktis-'estetik' untuk memberi pemahaman baru (kontemporer) mengenai satu hal.

Dalam mediamasa bentuk tulisan esai diberi penamaan lain: catatan pinggir, kolom, opini. Tapi adakalanya opini yang sebenarnya bentuk kembar dari esai lebih berupa makalah atau skripsi mahasiswa dengan banyak catatan kaki. Tanpa merujuk pada pemahaman bahwa, opini lebih tepat disebut: karangan khas.


Gambar ET

Lanjut, sajak, cerpen, noveau-roman (novel) sebenarnya cara sastrawan menulis esai. Contoh: novel penerima hadiah Nobel "The Old Man and The Sea" adalah esai Ernest Hemingway tentang Cuba dalam kepemimpinan Fidel Castro. "Bumi Manusia" adalah cara Pramoedya Ananta Toer untuk menghadapkan -- secara essayus -- tokoh Nyai Ontosoroh dengan ketokohan Kartini.

Dalam menulis "Bumi Manusia" Toer melakukan riset tokoh mula jurnalis Indonesia Tirto Adisoerjo. Menyusul terbitnya novel Toer, hasil risetnya itu juga diterbitkan. Hasil riset berjudul "Sang Pemula" itulah catatan kaki tetra novel Toer. Untuk apa, supaya publik pembaca tahu inilah catatan kaki Toer atas esai novelnya.

Kata kuncinya: dalam penulisan karya sastra butuh riset (sebagai foot note). Disamping tentu pengalaman alam dan intelektual (sebagai acuan kreatifitas / creativ-thinking). Satu karya puisi pendek sekali pun butuh pengalaman diri dan kepustakaan di baliknya. Betapa pun dunia sastra (modern) di sini mesti berdasar pada kreativitas dunia manusia modern.

Sebagaimana risalah Ignas Kleden: kreativitas dunia manusia modern adalah integralisasi kreativitas konseptual (yang berpuncak pada ilmu+seni+filsafat) dan kreativitas sosial (berpuncak pada politik).

Pergulatan batin dan intelektual inilah yang dicapai Simon Ht dalam puisi eseinya pada 1983. Kemudian Rendra dalam puisi pamletnya -- "Potret Pembangunan dalam Puisi". Juga Emha Ainun Nadjib dalam puisi sosialnya -- "Nyanyian Gelandangan", Rajawali Pers.

Mereka bukan sekadar menulis puisi panjang, apalagi sekadar mengulang form/content lama, mitos, atau pemikiran mainstream. Dengan pergulatan kreativitasnya mereka menulis esai dengan cara mereka sebagai penyair. Merekalah sang pemula dalam penulisan puisi esai.

Kreativitas mereka bahkan telah sampai pada pemikiran struktural bahkan post-struktural -- sebagaimana yang dituntut dalam satu esai. Sekali lagi bukan karena panjang dan ada catatan kakinya. Tapi nikmatilah tubuh/form puisi mereka dan kreativitas/content esai mereka yang cerlang.

Anda menulis tentang Rama-Sinta misalnya, meski 100 halaman tapi hanya pengulangan kisah pewayangan sesuai babon itu bukan puisi esai. Beda saat Emha menulis mitos Nyai Loro Kidul dan menjadikannya etos, itulah puisi esai.

Bagaimana menurut Emha, Nyai Loro Kidul adalah mitos buatan kraton. Sebab pada saat itu rakyat berpaling dari kraton ke para wali. Sehingga kraton perlu menciptakan mitos Nyai Loro Kidul agar rakyat kembali berpaling kepada hegemoni kraton.

Itulah contoh pemikiran essayus, agar kita belajar tentang puisi esai. Lebih penting lagi kesadaran, berapa puluh tahun Simon, Rendra, Emha melakukan pergulatan kreativitas sampai mereka mampu menulis puisi esai.

Saya kira, kita perlu berproses, belajar, sambil tidak lupa: bercermin.

Sebagai penutup perlu saya kutip baid puisi Chairil Anwar:

Ini muka
Penuh luka
Segala menebal
Segala mengental
Selamat tinggal !

Semarang 23 Februari 2018

Kamis, 01 Februari 2018

TEROBOSAN

TEROBOSAN
Oleh Mudjahirin Thohir  

KATA “menerobos” (Jawa: nrobos) dan “terobosan”, meski secara morfologis berasal dari akar kata yang sama, terobos, secara semantis, memiliki makna yang sangat berbeda.
Menerobos dalam konteks tertentu misalnya pada saat ibu-ibu sedang antre beras, menunjuk pada perilaku tidak tahu aturan. Tidak etis.
Jika orang seperti ini orang biasa, bahkan “orang udik”, bisa jadi karena “kurang makan sekolahan”. Menghadapi kelakuan seperti itu, orang-orang yang tekun antre yang dirugikan lantas mengolok-ngolok lewat ungkapan yang tidak mengenakkan pendengaran.
Mental menerobos bisa juga terjadi saat orang harus antre menunggu giliran, misalnya pelayanan membayar pajak kendaraan. Ada saja orang yang tiba-tiba datang, minta didahulukan. Boleh jadi orang itu mengaku utusan pejabat tinggi. Orang itu, dalam ungkapan Jawa, berkategori nggolek menange dewe. Mereka berperilaku begitu bisa karena merasa bukan orang biasa, alias “orang terhormat”, tetapi bertindak tidak terhormat.
Dianggap tidak terhormat karena orang lain yang setia antre, melihat kelakuan orang yang menerobos itu menjadi sebel, jengkel, bahkan marah. Dalam ungkapan Jawa, orang sok penting ini beranggapan sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Itu berbeda dari orang yang membuat terobosan. Di dunia gagasan, siapa mampu membuat terobosan dikenal sebagai orang kreatif. Orang kreatif adalah orang berkemampuan menemukan celah di balik peraturan, atau kebiasaan yang menghambat, membelenggu, dan lain-lain.
Orang kreatif melihat masalah sebagai berkah, dan hambatan sebagai peluang. Intinya, mereka bisa keluar dari kebuntuan dengan mencari alternatif, sehingga menemukan inovasi atau kebaruan. Wirausaha yang berhasil biasanya berkemampuan melakukan terobosan seperti itu.
Lain juga dari kaum pegawai atau petani. Umumnya pegawai dan orang kantoran tidak kreatif, lebih memilih bekerja secara regulatif, berjalan sesuai aturan atau petunjuk atasan. Jika karena alasan itu, lalu menghadapi kebuntuan, banyak pegawai cuma bisa mengeluh, “Habis bagaimana lagi, aturannya begitu”. Sikap itu menandakan, umumnya pegawai memilih berada di zona aman. Karena itu, suatu hari, Tri Rismaharini, walikota Surabaya, harus marah lantaran pegawai bawahannya berkerja nglelet, tidak kreatif, tidak berani berfikir out of the box, sehingga merugikan rakyat yang mestinya dilayani secara nyaman.
Mirip pegawai adalah kaum tani. Kaum tani tradisional umumnya lebih memilih berpikir dan bertindak sangat konvensional. Lebih memilih mengulang apa yang dilakukan daripada berinovasi yang hasilnya belum tentu. Beda petani dari pegawai, terletak pada alasan yang mendasari. Jika pegawai takut salah sekaligus takut pada atasan, petani takut atas ketidakpastian.
Karena itu, James Scott, peneliti kaum tani di negara Asia Tenggara seperti Indonesia, menganggap petani umumnya makhluk tidak rasional. Mengapa? Karena tak berani berubah, meski kegiatan pertanian mereka tidak menguntungkan secara ekonomi.
***
ADA empat kategori orang berdasarkan penyikapan mereka terhadap perubahan. Pertama, deterministik. Pasrah terhadap apa yang terjadi. Mereka yakin hidup dan rezeki sudah diatur oleh Tuhan Yang Mahasayang. Mereka mengandaikan diri sebagai wayang, sehinga berposisi seperti apa sepenuhnya ditentukan oleh dalang. Dalang sebagai metafora Tuhan.
Keuntungan kaum deterministik, mereka lebih ‘mampu menerima’ kenyataan sebagai takdir. Itulah kunci bahagia. Petani, kendati miskin, bisa lebih bahagia daripada orang kaya, apalagi yang berurusan dengan KPK.
Kedua, orang yang reaktif terhadap perubahan. Sikap reaktif rupanya menjadi ciri umum masyarakat kita; menanggulangi air bah, saat banjir sudah di depan rumah. Itu mirip tingkah laku sebagian mahasiswa yang mengajukan istilah the power of kepepet. Belajar saat besuk ujian. Jika tidak bisa menjawab soal ujian, mungkin karena berdalil the power of kepepet, mereka menghadapi ujian dengan membuat contekan. Nah, itu bisa dilihat sebagai mental menerobos. Bukan membuat terobosan.
Ketiga, orang yang mengantisipasi perubahan dengan terobosan. Istilahnya, orang yang bersiap payung sebelum hujan.
Keempat, orang yang menjadi agent perubahan. Mereka tidak bermental sebagaimana umumnya pegawai yang lebih memilih zona aman. Bukan kelompok petani yang melihat perubahan sebagai ancaman. Bukan pula mahasiswa yang mengantisipasi perubahan dengan cara mempersiapkan diri memilih jurusan atau fakultas yang memungkinkan mudah mendapat pekerjaan. Mereka, orang yang proaktif terhadap perubahan, karena menjadi figur yang melahirkan perubahan dengan membuat terobosan-terobosan. Orang yang proaktif melahirkan perubahan umumnya punya semboyan hidup yang kuat, seperti from Nothing to something; from zero to hero. Mirip semboyan Chairul Tanjung, si Anak Singkong yang terlanjur masyhur. (44)

SUARA MERDEKA MINGGU 28 JANUARI Halaman 6
Kolom Gayeng Semarang


Puisi Eko Tunas

Tidak Ada Tidak ada yang tahu Apa bakal terjadi Laut belum bersaksi Satu pesawat tempur Mau bombardir kota Muncul dari sisi g...