Minggu, 27 Mei 2012

? !

Puisipuisi yang kutulis sewaktu silam, ternyata bukan puisi sungguhan. Iya, hanya coretan tanpa makna. dengan menjunjung tinggi keindahan ber-kata ternyata belum cukup untuk di vonis sebagai Puisi. Dulu pernah terlintas bahwa kata-kata yang kutulis itu katakan puisi, kuduga itu adalah puisi paling puisi tanpa pernah sadar kalau ternyata hanya onggokan abjad yang berjejer seperti batu bata.

tiap larik yang kususun sampai keningku mengernyit itu terlalu dangkal ternyata, Sungguh, aku heran bahkan terhadap tulisanku yang kusangka puisi itu, kerap kali aku berbangga dan membanggakan puisi-puisiku yang selanjutnya kucurigai itu bukan puisi yang sebenarnya sebagai sesuatu yang layak untuk di publikasikan, Dan salah ternyata.

Lalu bagaimana agar bisa di katakan puisi tanpa harus bisa di curigai bahwa itu bukan puisi? dalam arti, puisi sungguhan, puisi yang benar-benar puisi, Ah....entah, akupun agak sungkan terlalu dalam mencari data tentang agar puisiku terlegalisir. semacam Intregitas pemaknaan sebagai puisi sungguhan atau akreditasi sebuah puisi! akupun mulai malu menyimak tulisanku yang kuanggap puisi itu. merasa tidak layak pakai atau istilahnya produk gagal.

seperti yang kukatakan, penaku seakan tumpul untuk menulis sebuah makna, makna yang mampu memberi keluwesan pembaca agar bisa terhayati dan teresapi sebagai sebuah puisi, mata penaku buta, seperti kehilangan tongkat. hanya bisa merangkak ke depan tanpa tuntunan. Setelah aku sadar bahwa tulisanku itu bukan puisi ternyata, mulai saat itulah aku belajar menulis puisi, tidak lagi berteori menulis puisi. belajar dengan cara membaca apapun, sebab dengan membaca ibarat menyalakan api di dalam kegelapan. kegelapan itu diandaikan ketidaktahuan, dan api adalah jembatan yang menghubungkan dua jalan yang terpisah.

Terus sampai kapan aku akan belajar menulis sehingga itu layak di katakan puisi? setidaknya ada pengakuan dari orang lain yang sanggup dan bertanggung jawab bahwa tulisanku adalah mutlak puisi. barangkali sampai aku jadi kenangan! sampai kelak tak ber-waktu.

kalau mengingat bagaimana aku dengan rasa pongahku mengatakan (ini) adalah Puisiku! ah...betapa malunya aku! Sungguh, tidak di nyana, kalau (itu) bukan puisi ternyata. bahwa aku merasa menjadi bocah lagi, yang hanya di permainkan kata, di jadikan mainan 28 abjad. aku senang. aku bahagia, aku riang namun tidak bisa semena-mena mengatakan (ini) adalah puisi! oh...betapa Malunya aku ini, di permalukan atau justru mempermalukan.

aku masih ingat, ketika banyak yang minta belajar membuat puisi, dan aku menunjukkan materi dan teorinya. aku merasa menjadi penyair, merasa mempunyai Hak untuk memberi tahu. merasa bahwa aku menjadi guru dari orang yang bertanya, namun kini, setelah aku mulai curiga dengan cara kepenulisanku, tatacara dalam menulisku perlu di Operasikan lebih lama, perlu daya untuk membuat tulisan lebih bermakna tanpa mengikut sertakan prinsip orang lain. dan sekali lagi, aku Malu dengan apapun yang bertautan dengan penulisanku, sungguh.

yang kukira puisi, hanya metafor kencur ternyata
yang kusangka puisi, hanya tumpukan kata ternyata
yang kuduga puisi, hanya ambisi maya ternyata

Ternyata, tulisanku belum cukup umur untuk menerima pengakuan sebagai puisi, tulisanku belum mampu menyandang gelar sebagai puisi, tulisanku belum baligh! kau tau? aku bukan penyair yang kausebutsebut itu. bahkan selamanya aku akan menjadi Murid dan siapapun atau apapun adalah guruku untuk menulis.

Dan akhir kata, aku tidak boleh dengan bangganya bahwa tulisanku sudah layak di kategorikan puisi, perlu penyelidikan lebih lanjut tentang tatanan menulisku seterusnya, Belajar...belajar....belajar menulis puisi sampai aku menjadi kenangan. sekalipun sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti apa itu puisi.

sumber : 
www.facebook.com/notes/usman-arrumy/-/10151651511226777

Rabu, 02 Mei 2012

Senandungkan Puisi di Tengah Kebun Teh

Siang berlangit cerah. Di tengah tanaman teh yang menghampar bak permadani hijau di kawasan Kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, seorang pria tiba-tiba muncul. Lelaki berkaos cokelat motif wayang dengan menyematkan pucuk-pucuk teh di telinganya itu kemudian membacakan puisi dengan lantang penuh ekspresi. Mengapa harus di kebun teh, berikut laporannya.

Unbekannte
Meiner
goldgelochten
Schonen....

SENANDUNG puisi berbahasa Jerman karya penyair Heinrich Heine itu dibacakan oleh Sigit Susanto, pegiat sastra milis Apresiasi Sastra (Apsas) di sela-sela launching buku "Merajut Sunyi, Membaca Nurani; Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini", kemarin.
Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Lerengmedini, Boja, itu dilakukan di area Kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, Dusun Medini, Desa Ngesrep Mbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
Sebait puisi yang berarti Keindahanku yang berombak emas itu merupakan bait dari puisi berjudul Unbekannte (Orang Tak Dikenal). Selain Sigit, beberapa peserta dalam rombongan bertajuk Wisata Sastra di Kebun Medini secara bergantian juga membacakan puisi.
Sebagian penyair membacakan puisi yang dimuat dalam buku yang diterbitkan Komunitas Lerengmedini. Buku itu berisi tulisan 12 penulis, di antaranya Bustan Basir Maras yang membaca puisi karyanya berjudul “Memetik Teh di Kebun Puisi; sajak untuk Rama Iman Budhi Santosa”. Kemudian, Setia Naka Andrian (Izinkan Aku Memetik Pialamu), Kelana (Perjalanan Merah), dan Fitriyani (Untuk Pendaki).
Rombongan diikuti oleh 33 orang berasal dari Boja dan jejaring penggerak literasi di luar daerah, di antaranya Ahmad Daurie Bintang Reborn (Bogor), Ubaidillah Muchtar (Lebak Banten), Bustan Basir, M Aswar, Wage Dagsinarga, M Iqbal, Irul (Yogyakarta), Kelana, Ali Murtadlo, Angga, Narti Kepal (Kebun Sastra Kendal), serta Bahrul Ulum (PSK Kaliwungu), dan Setia Naka Andrian (Rumah Diksi, Brangsong).
Sebelum pembacaan puisi di tengah Kebun Teh Medini, launching buku secara simbolik dilakukan dengan pemberian buku oleh Sigit Susanto (salah satu penggagas Komunitas Lerengmedini) kepada Iman Budhi Santosa.
Setelah pemberian buku, Iman, penyair senior asal Yogyakarta itu memberikan testimoni keberadaan kebun Medini yang sempat didiami pada 1971-1975.
“Bagi saya, kebun Medini dan kehidupan orang-orangnya menjadi puisi bagi saya. Ibu-ibu tua pemetik teh, tukang gawang kayu, dan pekerja pabrik lainnya memberikan banyak pelajaran hidup bagi saya. Dalam kesunyian di kebun Medini ini, saya menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya,” ujar penyair yang memperoleh Anugerah Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Award 2012 dan pendiri Persada Studi Klub (PSK) dan Komunitas Penyair Muda Malioboro itu.
Iman yang saat itu mengenakan kemeja putih berlengan pendek menambahkan, selama dirinya bekerja di Medini, ada beberapa sastrawan yang sempat berkunjung  ke sana, seperti  Umbu Landu Paranggi, F Rahardi, Ragil Suwarna Pragolapati, Darmanto Yatman, dan Linus Suryadi  AG.
Dia, seusai menjalani massa percobaan tiga bulan di pembibitan, ditugaskan memegang Afdeling Babadan. Lalu, 1974 pindah ke Afdeling Medini.
“Tak disangka-sangka 1975 saya harus mengundurkan diri karena terjadi konflik kecil dalam pekerjaan,” tutur lelaki kelahiran Magetan, 28 Maret 1948 itu.
Dalam kesempatan itu, Iman juga mengajak sahabat lamanya yang saat ini masih tinggal di Dusun Medini, Supamin (62). Di hadapan peserta yang memadati brak (gubug) Kebun 2 Afdeling Medini itu, Iman sempat beberapa kali megusap matanya yang berkaca-kaca.
Dia merasa trenyuh dan prihatin melihat kehidupan orang-orang yang dikecilkan keadaan. “Mereka itu berperan besar, namun dianggap kecil. Mereka mendapat upah tak seberapa padahal kerjanya luar biasa,” paparnya.
Usai launching, rombongan melakukan ziarah ke makam Kiai dan Nyai Kidang, dua orang yang dipercaya menjadi tokoh yang mbubak yasa (perintis) kawasan Medini. 
Koordinator Komunitas Lerengmedini, Heri C Santoso menyatakan, acara tersebut merupakan rangkaian acara Parade Obrolan Sastra V yang digelar oleh Lerengmedini bekerja sama dengan milis Apsas, 26 April-2 Mei 2012.  Menurut Heri, acara sastra digelar di tengah kebun sebagai bagian dari ikhtiar kerja budaya untuk mendekatkan manusia ke alam. “Dengan dekat dengan alam, manusia bisa belajar dengan kearifan nilai-nilai di dalamnya,” tutur Heri. 
Selain wisata di Kebun Medini juga telah digelar aksi ritual membaca puisi dengan cara maraton mulai dari Pasar Boja hingga Pondok Maos Guyub Sabtu (28/4). Rangkaian Parade akan ditutup dengan menghadirkan sastrawan Remy Sylado, pada Rabu (2/5) di Pondok Maos Guyub, pukul 19.30-22.00. (Muhammad Syukron-39)

GUS DUR DAN PARA PECINTA

Peluncuran Gus Punk oleh Ning Inaya Wahid didampingi Presiden PSK - Bahrul Ulum A. Malik Gus Punk - Antologi Puisi untuk Gus...