Kamis, 23 Februari 2012

NOEL NAMAKU

"Jangan kau sangka aku kejam atau sok,"
Ia teguk minuman ringan beralkohol itu, sementara bunyi musik hip-hop terus merangsek
memenuhi udara, menggeletarkan gendang telinga dan menjilati syaraf-syaraf sekujur
pori.
"Aku cuma melakoni apa yang harus kulakoni...
dan aku juga bukan bertindak demi feminisme... ya bukan!
Bagaimanapun aku tetap manusia,
kemudian bahwa aku wanita... perempuan
itu adalah persoalan lain..."
Kali ini ini pandangannya menatap lurus ke depan,
menembus puluhan orang yang tengah mengikuti
irama hip hop
menembus asap-asap rokok
menembus uap alkohol
menembus sorot cahaya lampu yang bergantian nyalanya
dan
menembus tembok penuh warna
dan poster-poster seksi...
"Namaku Noel,
ya, singkat bukan? dan jangan kau tanya
tentang artinya...
nama adalah nama,
sebagai satu inisiasi
hanya untuk membedakan bahwa aku bukan yang lain.
Aku sebagai pribadi satu,
itu saja..."

"Aku memang tidak percaya dengan apapun
tolong
jangan bicara norma
dan budaya di depanku.
Bukan lantaran aku membencinya,
tapi memang beginilah kenyataannya.
Apa salah jika aku membangun norma
atau budaya dan bahkan adat
bagi diriku sendiri?!
Tidak,
bagiku setiap kita harus mampu
berjalan pada garis yang telah
kita putuskan...
dan lantaran setia pada garisku itu pula
maka di sini
di depan kalian semua
tak jengah aku melakukan semuanya.
Dan semua itu bukan demi apa-apa,
kecuali demi diriku sendiri.

Sudah,
aku kira cukup.
Masih banyak yang harus ku selesaikan
....

Aku pamit."

Langkah itu masih gemulai
dengan rokok yang masih menyala
di tangan jenjangnya.

Tanpa menoleh
iapun meninggalkan kami.

Sementara bunyi musik
masih tak berhenti...

::.
Kelana SK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi Eko Tunas

Tidak Ada Tidak ada yang tahu Apa bakal terjadi Laut belum bersaksi Satu pesawat tempur Mau bombardir kota Muncul dari sisi g...