Selasa, 09 Juli 2019

PSK PENERBIT BUKU



salah satu cara mengabadikan kenangan adalah dengan membukukan tulisan. mari, terbitkan karyamu, PSK siap membantu (layout, cover, isbn) sampai karyamu terbit di tangan. #pskpenerbitbuku #komunitassastra #psk #pelataransastrakaliwungu


Minggu, 07 April 2019

Puisi Eko Tunas

Tidak Ada

Tidak ada yang tahu
Apa bakal terjadi
Laut belum bersaksi
Satu pesawat tempur
Mau bombardir kota
Muncul dari sisi gunung

Gunung juru bicara alam
Masih diam seribu basa
Squadron melesat
Dari kapal perang
Orang-orang tidak tahu
Apa terjadi di udara

Pesawat dan jet
Saling baku serang
Penyair terpukau
Sajak apa mesti ditulis
Orang-orang terpana
Melihat kembang api

Tuhan pun tertawa

1 April 2019



Kota

Dari lawangsewu
Ke kotalama
Kota mengambang
Serupa mainan anak
Ada diskon 50 %
Mall mau dijual

Di sini tempat berjanji
Di antara heritage
Lalu lapak-lapak artefak
Maksi apa kita
Baiknya nasgor mberok
Kita makan di taman

Ini kota dekat hati
Simpanglima jauh mata
Terlalu banyak warna
Juga lampu warni
Baju batik oke saja
Dipadu jins belel robek

Kota ya kamu
Iya kamu

3 April 2019




Dua Kapal

Dua kapal perang
Saling serang
Di lautan bebas teritori
Ikan-ikan bereksodus
Mengira ada badai
Untuk waktu lama

Seorang kanak nelayan
Di perahu kecil
Menyaksikan dari jauh
Tersenyum-senyum
Seperti menikmati
Permainan ganjil

Lalu gerimis riwis
Serupa harpa langit
Dua kapal saling benam
Kanak meniup seruling
Berpadu petikan gaib
Bagai puisi Tuhan

7 April 2019


Eko Tunas, merasa sangat dicintai Tuhan, dengan beberapa bakat yang dimilikinya: senirupa, teater, sastra. Karya-karyanya -- puisi, cerpen, esai, novel -- tersebar di berbagai mediamassa. Kumpulan puisinya Sajak Dolanan, Yang Terhormat Rakyat, Ponsel di Atas Sprai, Aorta. Novelnya Wayang Kertas memenangkan lomba cerbung Suara Merdeka. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama dalam buku Bidadari Sigarasa dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Lalu buku cerpen tunggalnya, Tunas. Naskah-naskah drama dan skenarionya dimainkan Teater RSPD Tegal, Teater Dhome dan Teater Lingkar Semarang. Kini sambil terus menulis dan berteater ayah beranak lima ini  kembali ke habibatnya melukis. Sambil sesekali monolog atau ceramah kebudayaan di banyak kota. Hidup yang penting dilakoni, susah dan senang sama saja, katanya.

Senin, 01 April 2019

Sastra yang Terancam (?)



Potongan Suara Merdeka, Minggu 31 Maret 2019 

Oleh Dimas Indiana Senja


Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa ó suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacammacam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Begitu Seno Gumira Ajidarma menitikpentingkan ikhwal kerja menulis dalam bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.
Menulis sastra, dalam hal ini, adalah alternatif untuk ìberbicaraî kepada khalayak pembaca mengenai ide, gagasan, harapan, atau keresahan. Sejauh ini, sastra memang menjadi satu lembaga ó dengan segenap kebebasannya ó alternatif bagi orangorang yang ingin mengutarakan isi hati dan kepalanya dalam tulisan.
Sastra tidak berhenti pada teks narasi yang murni mengakomodasi pemikiran dan imajinasi. Sebaliknya, sastra mengandung satu muatan besar, di balik kata-kata dan sudut pandang yang dipilih penulis untuk memberi penekanan pada pembaca.
Bahkan, menurut Horatius, sastra tidak sebatas memberikan hiburan yang bersifat imajik, tetapi juga memiliki muatan “pesan” yang dominan. Jadi tidak diragukan lagi keberadaan sastra sangat urgen dalam sejarah peradaban manusia. Namun tidak selamanya kesaktian sastra menghadapi jalan mulus.
Yang Mengancam
Di Indonesia, sejarah menyatakan beberapa dekade lalu, sastra dan sastrawan selalu berhadapan dengan kekuatan rezim. Banyak sastrawan diintervensi, bahkan diculik, manakala tulisannya mengkritik penguasa atau diindikasi menggiring opini publik kepada perlawanan terhadap rezim. Diskusi sastra hingga panggung sastra menjadi satu hal yang tidak boleh berjalan tanpa penjagaan ketat aparat militer.
Betapa sastra memiliki kedudukan cukup penting terhadap bangunan wacana masyarakat. Bahkan ketika jurnalisme dibungkan, begitu kata Seno, sastra harus bicara. Sastra menjadi pilihan lain ketika jalan utama dalam penyampaian kebenaran ditutup, ketika ruang kritis dibatasi. Sastra membangun jalannya sendiri.
Namun makin diimpit keadaan, kian kuat posisi sastra. Makin banyak orang meyakini cara mengungkapkan kebenaran yang strategis adalah dengan bersastra. Maka, banyak sekali karya sastra lahir sebagai anak peradaban. Dengan membaca sastra, keadaan sosiokultural suatu negara bisa dibaca, dipelajari, bahkan bisa diramalkan.
Hari ini, keberadaan sastra sebagai ancaman ternyata masih berlaku. Masih ada pihak yang merasa terancam dengan sastra. Sebagaimana terjadi di Universitas Sumatera Utara, baru-baru ini. Sang rektor, Prof Runtung Sitepu, memberhentikan semua pengurus Suara USU karena memuat cerpen yang “tidak layak muat”.
Cerpen itu berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” yang ditulis Yael Stefani Sinaga. Cerpen itu menceritakan tokoh aku, Kirana Cantika Putri Dewi, anak tunggal dari seorang ayah pengusaha kayu jati terbesar di Sumatera dan seorang ibu wartawan lokal yang bergerak dengan isu hak asasi manusia (HAM).
Yang Terancam
Menurut keterangan pihak kampus, seluruh tim Suara USU dinyatakan bersalah karena membiarkan cerpen “berbau LGBT” dimuat. Karena, cerpen itu menceritakan kisah hati tokoh aku pada teman perempuannya. Justifikasi cerpen sebagai pro- LGBT yang jadi alasan pemberhentian redaktur adalah tindakan logical fallacy.
Betapapun sastra memiliki kebebasan. Tidak ada satu pihak pun berwenang melarang dalam dan untuk menulis sastra. Pemecatan tim redaksi Suara USU itu menandakan sikap represif kampus terhadap kreativitas mahasiswa, terlebih dalam persoalan sastra.
Sebagaimana kata Seno pada awal tulisan ini, menulis bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan cara penulis menyuarakan pikiran, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Dalam cerpen itu, penulis menitikberatkan pada persoalan ketidakadilan hidup yang diderita tokoh aku. Betapa penipuan merenggut harta dan nyawa ayahnya. Kehidupan yang berjalan begitu mulus berubah drastis menjadi kehidupan yang pilu dan sesak.
Terlebih saat ibunya, yang wartawan tidak diketahui rimbanya usai mengulik kebobrokan pemerintah, seperti ekploitasi besar-besaran saat krisis moneter. Ibunya representasi dari wartawan atau pihak yang menyuarakan kebenaran berkait dengan HAM saat itu dengan menuliskan tulisan panjang sarat kritik. Dua minggu berselang, ibunya hilang. Penderitaan tokoh aku bertambah.
Di sinilah klimaks dari cerpen itu sebenarnya. Namun, kampus lebih fokus ke persoalan pengungkapan perasaan tokoh aku pada teman dekatnya, Larasati Kesuma Wijaya. Padahal itu hanyalah pengantar untuk menceritakan muatan inti persoalan: pembungkaman jurnalisme ketika mengutarakan kebenaran yang mengancam eksistensi penguasa. Ada efek panjang dari fenomena ini. Kampus sebagai lembaga akademik- intelektual seharusnya memiliki kacamata lebih jernih dalam memahami bacaan.
Apalagi posisi Suara USU sebagai lembaga pers mahasiswa, sudah semestinya menjadi wahana pengembangan wacana dan nalar kritis bagi mahasiswa. Kampus semestinya memberikan apresiasi, bukan represi, terhadap kebebasan berekpresi mahasiswaya. Tidak sebatas itu, fenomena ini menjadi rapor buruk kampus sebagai pemproduksi mahasiswa kreatif.
Efek panjang itu semestinya jadi renungan bersama. Sastra tidak boleh diintervensi karena merupakan jalan paling strategis menyuarakan ide dan kebenaran. Pengerdilan kreativitas semacam ini tidak boleh dibiarkan. Tuman! (28)
Dimas Indiana Senja
(photo diambil dari profil WA-nya)
Dimas Indiana Senjapenyair, esais, dan peneliti. Penulis UWRF 2016, pendiri Bumiayu Creative City Forum (BCCF).

Selasa, 12 Maret 2019

Susunan Pengurus PSK 2019-2024

Surat Keputusan Pendiri PSK
Nomor: 001/PSK/III/2019

Tentang Susunan Pengurus PSK
2019-2014


Penasehat
Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, M.A.

Pengawas
Muhammad Khafidin

Presiden PSK
Bahrul Ulum A. Malik

Sekjen
M. Lukluk Atsmara Anjaina

Wakil Sekjen
Fitriyani Ayuningtyas

Bendahara I 
M. Wahyu Hidayat

Bendahara II
Ilham Bara Luqmana

Anggota
Djoko Susilo;  Bima W.S.; Ahmad Irfan, Saifudin Zuhri; Muhammad Aslih; 
Habib Ayu; Didik Arif Hidayat; Herman; Agus Supriyanto; Agus Supriyono

ditetapkan sesuai hasil Musyawarah Anggota, di Kopi Sufi Brangsong Kendal
Jumat, 8 Maret 2019


ttd. Pendiri PSK
Muhammad Khafidin
Bahrul Ulum A. Malik

Minggu, 10 Maret 2019

REKONSTRUKSI TUBUH, PSK BUKA PENDAFTARAN ANGGOTA BARU




Rekonstruksi Tubuh PSK


Untuk mempertahankan eksistensi dan formula kegiatan sastra di Kaliwungu, Kendal dan sekitarnya, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) membuka pendaftaran anggota baru pada bulan Maret 2019 ini. Masa pendaftaran dibuka mulai tanggal 11 Maret 2019 dan ditutup pada 30 Maret 2019. Pembukaan pendaftaran anggota baru ini sebagai upaya mempertahankan eksistensi dan sebagai wadah masyarakat dalam menyalurkan bakat dibidang seni sastra dan pendidikan.

“Ya, PSK di usia yang ke-7 tahun ini membuka pendaftaran anggota baru bagi siapa saja yang mau belajar bersama, mencintai, menekuni dan mengapresiasi karya sastra. Selain itu, PSK juga berusaha mewadahi masyarakat di Kaliwungu dan Kendal umumnya yang memiliki kemampuan atau minat terhadap sastra, tutur Bara Lukmana, salah satu Pegiat PSK di sela-sela rapat intern “Rekonstruksi Tubuh PSK, Jum’at malam (8/3) di Kopi Sufi Brangsong Kendal.

Suasana Rekonstruksi Tubuh PSK


Seperti diketahui, Pelataran Sastra Kaliwungu merupakan Komunitas yang bergerak dibidang sastra, budaya dan pendidikan. Keberadaan PSK memberikan semangat dan angin segar bagi penikmat, pegiat maupun pelaku sastra di Kaliwungu dan sekitarnya. Bahkan beberapa anggota tercatat berdomisili di luar Kaliwungu maupun Kendal.

Pembukaan pendaftaran anggota baru ini dirumuskan dalam rapat intern PSK yang membahas visi-misi komunitas ke depan, program-program dan rekruitmen anggota. Dimana komunitas ini perlu sekali merekonstruksi tubuhnya agar lebih sehat dan terawat.

“Kita sering kali mengadakan kegiatan eksternal, tetapi tubuh kita kurang terawat. Sehingga, kita perlu merekonstruksi tubuh PSK supaya lebih terawat. PSK milik bersama, semua anggota punya tanggungjawab untuk ngurip-nguripi PSK”, Ujar Bahrul Ulum A. Malik, Presiden PSK yang juga Founder Pelataran Sastra Kaliwungu.

Serius membahas Tubuh PSK

Ia menjelaskan, ada beberapa kegiatan yang nantinya akan dilakukan sebelum resmi menjadi anggota. Yakni, Pertemuan awal yang direncakan tanggal 6 April 2019, dilanjutkan 3 kali pertemuan dengan pembahasan  menganai pengenalan PSK, Perkembangan Komunitas Sastra dan Proses Kreatif. Baru setelah itu, nanti resmi menjadi anggota PSK.

Dalam Rapat Intern “Rekonstruksi Tubuh PSK juga dibahas kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan PSK selain rekruitmen anggota, ada  kegiatan #NgopiSastra yang berisi diskusi, bedah buku, peringatan-peringatan dan perayaan hari-hari bersejarah dalam konteks kesastraan, selanjutnya ada D’RUANG di mana nantinya akan berisi pementasan, pameran panggung ekspresi dan apresiasi sastra, seni, dan budaya.

Lebih lanjut dituturkan Ulum – panggilan akrabnya-, untuk kegiatan rutin PSK diberi nama Kopiah (bisa juga dibaca kopyah) yang berisi kegiatan diskusi kecil-kecilan antar anggota mengenai sastra, seni budaya dan pendidikan. Kopiah sendiri merupakan kegiatan yang bermula dari kegiatan rutin dua mingguan, kemudian terdorong untuk memberinama yang berbau kopi – kesukaan presiden psk. Kopiah juga bisa berarti ngopeni (merawat) ide-ide yang ada di kepala.

“Di samping itu, PSK juga rutin menerbitkan Buletin Sastra D’RUANG tiga bulanan dan penerbitan buku setidaknya setahun dua kali. Semoga, kedepan PSK bisa menjadi komunitas yang lebih aktif berproses dan berkontribusi bagi perkembangan seni, sastra dan budaya di Kaliwungu, Kendal dan Indonesia pada umumnya.” tambahnya. (__Anja/PSK)



PSK PENERBIT BUKU

salah satu cara mengabadikan kenangan adalah dengan membukukan tulisan. mari, terbitkan karyamu, PSK siap membantu (layout, cover, ...