Rabu, 29 Oktober 2014

PROFIL PELATARAN SASTRA KALIWUNGU

LOGO PSK, DIBUAT OLEH SETIA NAKA ANDRIAN


PROFIL
PELATARAN SASTRA KALIWUNGU


1.      LATAR BELAKANG
Pemuda adalah tonggak berdirinya suatu negara, di pundak pemudalah harapan-harapan besar diamanahkan. Pemuda sekarang bukanlah pemuda zaman dahulu, banyak godaan di depan mata mereka. Dari itulah Pelataran Sastra Kaliwungu atau disingkat PSK berdiri sebagai wadah mengalihkankan kegiatan pemuda ke hal-hal yang baik atau positif.
PSK adalah Komunitas Sastra yang berdomisili di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal. Didirikan oleh Bahrul Ulum A. Malik dan Muhammad Khafidin. Sejak berdirinya pada Hari Jumat 9 Desember 2011, PSK telah beberapa kali mengadakan event lokal maupun nasional yang berlabel “NgopiSastra”

2.      TUJUAN DIDIRIKAN
Tujuan didirikannya PSK adalah sebagai wadah apresiasi pecita sastra, baik itu puisi, cerpen, novel, maupun pantun. Juga sebagai ajang diskusi bagi seniman maupun budayawan.

3.      PROGRAM KEGIATAN
Sebulan 1 atau 2 kali PSK mengadakan kegiatan yang berlabel “NgopiSastra”

4.      KEPENGURUSAN
Penasihat          :  Prof. Mudjahirin Thohir, Mahmud Elqodry, Ahmad Munib
Ketua              :  Bahrul Ulum A. Malik
Sekretaris        :  Muhammad Khafidin
Bendahara       :  Nurul Lisangadah
Anggota          :  Fathurrohman, Nurul Anwar, Nur Cholis, Roviq Agustama,
  Darul Muhammad, Ainur Rofiq, Muhammad Syaifudin

5.      DOKUMENTASI
Temu Penyair Kendal, 19 Januari 2013


6.      KONTAK
Sekretariat                   :  MI NU 04 Kumpulrejo, Jl. Kauman Kumpulrejo 02/ 03 
   Kaliwungu Kendal Jateng
HP                               :  0856 4140 2250 / 0878 3299 2726
E-mail                          :  pskkendal@gmail.com
Blog                            :  pelataransastrakaliwungu.blogspot.com

Sabtu, 25 Oktober 2014

Tentang Kantata Takwa [Film]

Kantata Takwa merupakan film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun 2008 arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa yang dibuat berdasarkan konser akbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991. Film ini mengalami banyak kesulitan dalam pembuatannya karena sarat dengan tema sosial politik dan kritikannya yang sangat tajam pada sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia yang represifsaat itu, sehingga pembuatannya memakan waktu 18 tahun hingga dirilis. Film ini diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008 di Jakarta di jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex dan kemudian dalam berbagai festival film internasional.

Latar Belakang
Pembuatan film ini dimulai dari Agustus 1990, dan baru dirilis September 2008 akibat mengalami banyak kesulitan. Film ini dibuat berdasarkan konser akbar proyek musik Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakartapada era Orde Baru tahun 1991, didukung oleh seniman kondang Indonesia W.S. Rendra dan musisi-musisi kawakan dari grup musik "Kantata", yaitu Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi. Konser "Kantata Takwa" yang ditampilkan dalam film ini adalah yang diadakan pada bulan April 1991, yang kemudian dilarang tampil setelah penampilan selanjutnya di Surabaya. Konser ini adalah simbol perlawanan dan oposisi terhadap pemerintah penguasa saat itu, disuarakan dengan lantang dalam konser tersebut melalui syair dan lagu yang sarat dengan nuansateatrikal.

Saat awal proses pembuatannya, film ini didukung oleh banyak sineas Indonesia, dimana banyak yang diantaranya tergabung dalam Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Banyak yang diantaranya telah meninggal sebelum film ini diselesaikan dan dirilis. Film yang pada awalnya di-shoot dengan kamera 35mm ini tidak dapat dirilis pada era pemerintahan Orde Baru. Setelah diselesaikan dan dirilis tahun 2008, perbedaan dengan versi awalnya hanya dalam format digital mediumnya saja. Rol filmnya harus disimpan selama kurang lebih 18 tahun akibat berbagai kesulitan dalam pembuatannya, termasuk karena Krisis finansial Asia 1997 yang merambat ke gonjang ganjingnya politik di Indonesia dan jatuhnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998. Setelah datangnya era reformasi di Indonesia, film ini akhirnya dapat dilepaskan dari belenggu represif, walaupun para kritikus film Indonesia sangat menyayangkan keterlambatan film ini. Walau umumnya mendapat sambutan positif, film ini mendapat kritik yang bercampur antara masih relevan atau tidaknya dengan kehidupan dan situasi Indonesia setelah era reformasi.

Iwan Fals dalam adegan eksekusi film "Kantata Takwa"
Sinopsis
Film ini adalah sebuah puisi kesaksian dari para seniman Indonesia tentang masa represif rezim Orde Baru Soeharto. Sebuah masa yang banyak diwarnai dengan korupsi, kolusi, nepotisme, dan banyaknyapenangkapan, penculikan, bahkan pembunuhan para aktivis yang tidak memiliki ideologi yang sama dengan pemerintah penguasa saat itu. Termasuk dalam orang-orang tadi adalah W.S. Rendra, seorang penyairyang harus keluar-masuk penjara karena karya-karyanya dianggap menyindir dan mengkritisi pemerintah. Seniman dan penyanyi Iwan Fals,Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi yang sering menyuarakan keadaan sosial masyarakat Indonesia pada saat itu juga harus berhadapan dengan kemungkinan pencekalan oleh pemerintah penguasa. Suara kesaksian para seniman tersebut ditumpahkan dalam konser akbar mereka, sebuah pertunjukan seni "Kantata Takwa".
Film dibuka dengan adegan W.S. Rendra yang bermimpi tentang orang-orang yang berlari dikejar sekelompok orang yang mengenakan masker gas, bersepatu militer, mengenakan jas hujan dan menenteng senjata api laras panjang, seolah menggambarkan bagaimana represifnya situasi tersebut. "Aku mendengar suara..... Jerit makhluk terluka.... luka... luka.... Orang-orang harus dibangunkan... ", dilanjutkan alunan lagu "Kesaksian". Kemudian W.S. Rendra membacakan syair panjang yang berisi kritik tajam terhadap kondisi masyarakat dan pemerintahan.
Adegan demi adegan kemudian dibentuk oleh dialog / monolog teater dan puisi yang disambung dengan lagu-lagu yang diambil dari album Kantata Takwa dan Swami I dan dibalut dengan cuplikan-cuplikan konser akbar "Kantata Takwa" tahun 1991 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Latar berpindah dari sebuah pedesaan yang damai ke pantai berpasir dengan angin menderu yang mengibarkan jilbab dan selendang sekelompok wanita, mengisi atmosfer dengan nuansa religius, ke latar orang-orang teater yang menari dengan mengenakan topeng mengerikan, kemudian sebuah adegan dialog antara Iwan Fals dan Sawung Jabo yang duduk bersila membicarakan kehidupan.
Syair-syair W.S Rendra dan lagu-lagu dari "Kantata Takwa" dan "Swami" menyertai adegan demi adegan dalam film ini, diselingi dengan munculnya seorang tokoh wanita yang mengenakan busana jilbab (Clara Sinta Rendra), yang selalu hadir menjadi saksi tanpa kata-kata. W.S. Rendra akhirnya diadili oleh hakim dengan banyak wajah bertopeng, dan film mencapai adegan klimaks dalam eksekusi personel "Kantata" satu persatu oleh pasukan bermasker, dimanaJockie Surjoprajogo tewas dipukuli di rumahnya, Setiawan Djodi tewas dibekap dengan bantal saat tidur, Sawung Jabo tewas ditembak di sebuah jalan buntu, dan Iwan Fals dieksekusi dengan dicabut giginya satu persatu. Film diakhiri dengan perlawanan orang-orang desa melawan pasukan bermasker, hancurnya pasukan bermasker, dan ditutup dengan alunan lagu "Kesaksian".

Penghargaan
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) - Film Terbaik 2008 - Golden Hanoman Award
Asia Pacific Screen Awards 2008 - Nominasi untuk Film Dokumenter Terbaik
Nominasi dalam Hawaii International Film Festival 2008.
Nominasi dalam Osian Cine Fan, New Delhi 2008.

Pemain 
W.S. Rendra
Iwan Fals
Sawung Jabo
Setiawan Djodi
Jockie Surjoprajogo
Clara Sinta Rendra (putri kandung W.S. Rendra)
Bengkel Teater Rendra

Musisi 
Musisi yang terlibat dalam film ini adalah musisi-musisi kondang Indonesia yang juga terlibat dalam pembuatan album "Kantata Takwa", "Swami I", "Swami II" dan tampil dalam konser akbar "Kantata Takwa" tahun 1991.
Iwan Fals - Gitar/Vokal
Sawung Jabo - Vokal/ Gitar / Perkusi
Jockie Surjoprajogo - Keyboard / Piano / Vokal
Setiawan Djodi - Gitar / Vokal
Totok Tewel - Gitar
Nanoe - Bass
Innisisri - Drum
Naniel - Flute
Donny Fattah - Bass
Budi Haryono - Drum
Eet Sjahranie - Gitar
Raidy Noor - Gitar
Embong Rahardjo - Flute / Saksofon

Daftar Lagu 
"Kesaksian" dari album Kantata Takwa (1990)
"Bento" dari album Swami I (1989)
"Hio" dari album Swami II (1991)
"Paman Doblang" dari album Kantata Takwa (1990)
"Bongkar" dari album Swami I (1989)
"Kantata Takwa" dari album Kantata Takwa (1990)
"Air Mata" dari album Kantata Takwa (1990)
"Cinta" dari album Swami I (1989)

Catatan Produksi 
Menurut Sutradara Gotot Prakosa, rol film "Kantata Takwa" saat disimpan pernah terendam banjir.

Pranala Luar 
Ulasan "Kantata Takwa" di Blitzmegaplex
Kantata Takwa dan Panggung yang Redup - blog.liputan6.com

Referensi 
^ Film Kantata Takwa Siap Beredar, diakses 25 Agustus 2009
^ Ketika Iwan Fals masih mirip Che Guevara, diakses 25 Agustus 2009
^ 'Kantata Takwa':Best Film 2008 of JAFF - TempoInteraktif.com, diakses 25 Agustus 2009
^ Asia Pacific Screen Award Nominees Announced, diakses 25 Agustus 2009
^ Film Kantata Takwa Siap Beredar, diakses 25 Agustus 2009 


---
Sumber Copas : https://www.facebook.com/pages/Kantata-Takwa/105467799486105#

Kamis, 09 Oktober 2014

Penulis (Penyair) Diary


Oleh : Zulfa Fahmy*
Disampaikan kepada Luluk dan PSK pada NgopiSastra #1 Pelataran Sastra Kaliwungu. Selasa, 7 Oktober 2014 di Rumah Puisi LK Brangsong

Salah satu wujud ekspresi adalah puisi. Puisi memberi kebebasan kepada siapapun untuk mewujudkan ekspresinya dalam bentuk yang paling sederhana; kata. Seorang pematung berekspresi melalui pahatan. Seorang pemusik berekspresi melalui nada dan irama. Namun seorang penyair cukup kertas dan pena untuk mengurai kata dan makna. Itu (mungkin) yang dilakukan Luluk melalui puisi-puisinya.
Luluk menuliskan puisi-puisinya dengan cara yang paling sederhana, dengan puisi. Kapan? Tidak tahu. Namun berdasarkan beberapa judul  puisinya, tampak bahwa dia menulis puisi berdasarkan kejadian/ fenomena yang terjadi atau apa yang dilaluinya. Seperti pada puisi MalamTerindah katanya”, “Kemenangan akhirnya tercapai”, “Berjuang tak berarti perang”, dan lain sebagainya.
Pada puisi “MalamTerindahKatanya” Luluk tidak menggunakan banyak kata melodis. Dalam puisinya, dia menerangkan “malamterindah”, namun rima yang digunakan adalah rima berat, Seperti {an} pada kata ungkapan, {ta} pada kata nyata, {ah} pada kata indah, dan {u} pada kata tahu. Bunyi-bunyi seperti ini yang akan menjadi tugas berat untuk para deklamator (LohcurhatFa?)
Pada lapis arti, Luluk menunjukan keresahan yang dirasakannya. Meskipun malam tersebut malam terindah, Luluk tidak mengerti sebab yang menjadikan malam itu lebih indah dari malam-malam yang lain. Dari situ terlihat penulis memiliki kepekaan rasa yang tinggi. Dia adalah seseorang yang memikirkan hal-hal yang dilaluinya, meski pada akhir baris ia menyerah dan kembali pada kenyataan bahwa adahal yang tak dapat dipikirkan dan dilogikakan. Sembari kembali pada kenyataan hidup, penulis merancang  hari yang akan dating dengan tekad terbaik. Puisi ini cukup bagus dalam menggambarkan perasaan hati pengarang. Akan tetapi bila penulis (Luluk) tidak begitu mementingkan rima, akan lebih baik jika dia memilih diksi yang tepat. Bahkan lebih baik lagi jika dia mementingkan pemilihan diksi dan penyesuaian rima. Hal ini akan menjadi pendorong kuat seseorang untuk meresapi puisi tersebut.

Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap puisi-puisi karya Luluk sebagai berikut :
1. Judul yang Terlalu Mudah
Sebuah judul puisi harus memiliki daya magis agar pembaca tertarik membaca puisinya. Sebuah judul yang bagus juga dibutuhkan para deklamator agar puisi yang dibacakannya tampak magis. Luluk harus menghindari judul-judul yang terlalu sama dengan isi puisi. Dengan kata lain, luluk belum menggunakan kata konotatif dalam judulnya. Ia cenderung menggunakan kata-kata denotatif.

2. Tidak ada efek “Tampar”
Saya menyebutnya efek tampar agar lebih mudah dipahami. Sebuah puisi harus mempunyai efek tampar. Ini semacam efek takjub pembaca terhadap puisi yang dibacanya. Efek ini seperti Joko Pinurbo dengan tikungan-tikungannya, Gus Mus dengan Balsemnya, Afrizal dengan keliarannya atau Sapardi dengan efek ‘mesra’nya. Puisi-puisi seperti ini akan memberi rasa candu kepada pembaca puisi untuk senantiasa membaca puisi-pusi karya penyair.

3. Membawa Pembaca pada Fokus yang Sama
Secara keseluruhan, puisi-puisi Luluk belum membangun keliaran imajinasi dan tafsiran pembaca. Saya contohkan pada puisi “Digagalkan oleh macet”.
Inilah kota besar di negriku
Yang selalu dilengkapi kemacetan
Dua jam di sini, di tengah kemacetan
Pada dasarnya, pembaca diperbolehkan menafsirkan apapun semua kata dalam  puisi. Puisi adalah sarana memperoleh kemerdekaan berimajinasi. Namun, Luluk tidak melakukan itu. Justru puisinya menggiring  pembaca tertuju pada fokus yang sama “Macet” secara harfiah. Ini yang saya katakana  bahwa Luluk cenderung menggunakan kata-kata denotatif. Maka dari itu, diperlukan pemilihan diksi yang tepat guna membangun efek yang diharapkan.

4. Penyuntingan yang Kurang Maksimal.
Dalam sebuah proses kreatif pasti terdapat tahap revisi. Pada tahap inilah penyair merevisi hasil tulisannya agar mendapatkan hasil yang maksimal. Luluk (mungkin) belum maksimal melakukan itu. Ada banyak kesalahan ketik (entah sengaja atau tidak). Seperti penulisan kata mahakuasa yang dipisah (mahakuasa), ketidakkonsistenan penggunaan kata di- sebagai penunjuk tempat dan hasil pemasifan kalimat (kadang digabung, kadang dipisah), dan lain sebagainya. Memang dalam ragam sastra kita mengenal kebebasan memodifikasi kata, kalimat, bahkan bunyi. Namun semua itu dalam rangka membangun efek khusus yang ingin ditimbulkan penyair kepada pembaca. Tampaknya Luluk belum begitu memperhatikan hal ini.
Namun, jika dinilai secara keseluruhan, Luluk berpotensi besar untuk menjadi penyair besar. Ia mempunyai kepekaan seorang penyair. Ia mempunyai sensitivitas luar biasa terhadap lingkungan dan menyampaikannya dalam sebuah puisi. Iya, Puisi. Apalagi?


*Zulfa Fahmy, Dosen Pendidikan dan Bahasa Indonesia di Unnes Semarang, adalah juga seorang Deklamator, penggiatsastra. Bisa diisikan pulsanya ke 085226445396 ; E-mail : mazfafa@gmail.com ; http://kolongpasar.blogspot.com/ ; @zulfafahmy (Twitter)  ; http://facebook.com/zulfa.fahmy

LARUNG SASTRA PSK 2019

Ayook Rayakan dan Daftar Segera,  Larung Sastra PSK 2019 : : LARUNG SASTRA PSK 2019 Bersama Budi Maryono (Penyair, Cerpen...