Minggu, 08 November 2015

D`RUANG | BULETIN SASTRA PSK #1 NOPEMBER 2015

EDISI #1
NOPEMBER 2015 

  • FITRIYANI AYUNINGTYAS 
  • HABIB AYU
  • M. LUKLUK ATSMARA ANJAINA


SEBAIT HARAP DALAM TIAP DOA
(c) Fitriyani Ayuningtyas

Segurat rindu bercerita
Begitu banyak kisah terpatri dalam ingatan
Bayangnya nampak terekam kuat nan rapi

            Aku , kau dan kilometer
            Sedikit waktu jarak menyatukan raga kita
            Sesedikit apapun itu,
            Yang pasti rekam senyummu begitu setia menemani
            Dalam derap langkah perjalananku

Perlahan kau tlah tumbuh menjadi harapan
Dalam tiap sambut pagiku
Dan kau pun tlah tumbuh menjadi doa
Dalam tiap sujudku

            Aku menjaga rasa itu tumbuh
            Sampai ada masanya di mana kau
            Adalah rupa yang kulihat saat akan
            Dan setelah mata terpejam

Sebait harapan dalam tiap doa
Kanvas putihku akan setia menanti
Tiap gores jemari kuasmu menari


Bidadari Surga
Karya : Fitriyani Ayuningtyas

Secercah cahaya pagi indah menyapa
Hembusan angin lembut menyentuh syahdu
Kicau burung tak henti lantunkan suara merdunya...

            Terlihat sesosok wanita peruh baya sedang bercengkrama
            Berdialog tenang dengan bunga kesayangannya
Entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka
Namun nampaknya, pembicaraan itu seakan penuh makna...
            Perlahan kakiku mulai beranjak
            Langkah demi langkah menghampiri sosok wanita itu...

Pelukku menghentikan pembicaraan mereka
Ucapan pagiku seakan menutup rapat mulut manisnya
Ia tersenyum dan menatapku penuh cinta...

            Kulihat matanya begitu indah
            Bersih bening layaknya embun pagi
            Wajahnya nampak begitu halus indah berseri
            Bak kain sutra seorang putri...

Ia nampak begitu luar biasa
Karna Ia mampu menutupi beban berat dalam hidupnya
Ia nampak kuat dan hebat
Karna Ia mampu melakukannya sendiri
Dan Ia pun sosok wanita yang nampak tegar yang ku ketahui
Karna Ia tak pernah menangis dan mengeluh...
Ia adalah inspirasi dalam tapak hidup ini
Aku mencintainya karna Allah
Dan aku pun menyayanginya sungguh karna Allah..
            Tuhan memang begitu baik,
            Hingga Ia kirimkan sebuah bidadari surga
yang dengan tulus menjaga dan membesarkanku
Tuhan sungguh begitu baik,
Hingga Ia kirimkan wanita yang begitu menakjubkan
            Dan kini,
            Ku sebut nama bidadari surga itu dengan kata “Ibu”



HUJAN
© Habib Ayu

Hujan membawa aku pulang
Dalam pangkuan ibuku
dekap keluargaku
peluk temanku
hangat kampungku

Hujan membawa aku pulang




 

SENDIRI
© Habib Ayu

Sendiri...
melangkahka kaki tak tentu tujuan hati
terdampar di tempat sunyi sepi
hanya suara angin, air jadi teman diri

Sendiri...
tak ada teman, kawan, maupun lawan
hanya bisikan-bisikan meracuni jiwa
angan-angan selalu ada tatkala hati teringat Tuhan

Sendiri...
hanya kegelapan malam dan kesunyian menemani
air mata sedih tak terasa keluar
hapuskan rindu yang dalam
menantikan teman penghapus duka sepanjang jalan
mengiringi suasana kehidupan dunia
yang selalu bergantian beriring siang dan malam

Sendiri...
memandang semua serasa hampa dan gersang
ingin berteriak namun tak sanggup tuk keluar
semua hanya bisa terpendam, tertahan
serasa beribu penghalang
tak ada pesan, kesan, dan jawaban didapat
hanya bayangan dan keheningan
setia mengiringi malam

Sendiri...
menghadiri alur kehidupan selanjutnya
penuh dengan kesendirian
dan benar-benar sendiri

Sendiri...
angan telah terhapuskan
jiwa menjadi terang tatkala sadar
kebimbangan hilang berganti ketenangan
melihat jalan dan kebesaran Allah



Aku dan Negeri dalam Puisi
Karya : M. Lukluk Atsmara Anjaina

Aku dinafasi
Untuk menghidupi
Diatas negeri ini
Negeri setriliun puisi

Bentang katulistiwa
Melintasi negeri ini
Yang berdiri dikelilingi
Dua samudra dan dua benua

Aku bukanlah dalam
Tingkat bangga negeri
Tapi aku ingin menyelam
Dalam kehidupan negeri

Aku dinyawai
Dan dimatikan
Di tanah negeri
Bukan tanpa tujuan

Aku hidup untuk menghidupi
Negeri di atas bumi mati

Suku, ras, golongan, dan agama
Bersatu dalam Bhinneka Tunggal Ika
Dengan sistem politiknya Trias Politica

Menghidupi negeri ini
Seperti memperfilmkan diri
Menyusastrakan puisi
Dan mendramakan seni


Aku bangga Indonesia
Bukan karena nomer duanya
Tapi kerena, pengibadahannya
Puisi kepada negerinya
Yang jasadnya menyepi
Jasa, dan karyanya mengabadi
Sampai nanti
Tuhan mengakhiri
Kehidupan ini

17 Agustus 2015


Tertelan Kehampaan
Karya : M. Lukluk Atsmara Anjaina

Seperti berjalan ditengah-tengah lautan
Dan tenggelam sampai dasar lautan
Aku tak sadar setiap keadaan

Aku melayang diantara debu-debu
Di ruang kehampaan udara
Hilang! Tertelan udara yang bercampur debu

Aku ingin kehidupan seperti semestinya
Menikmati nikmat yang dihambur-hamburkan Tuhan.
Aku ingin hidup abadi..

8 Juli 2015



*****
FITRIYANI AYUNINGTYAS atau akrab disapa Ayus lahir di Batang  08 Pebruari 1997. Bertempat tinggal di Kota Kaliwungu, tepatnya di Kp. Puri Jatisari Permai Rt.01 Rw.15 Ds.Plantaran, Kec.Kaliwungu Selatan, Kab.Kendal.  Aktif menulis sejak kelas 2 SMA. Saat ini Ayus adalah  Mahasiswa di STIKES Ngesti Widi Husada Kendal  jurusan S1.Farmasi.
PIN BB : 59CC1DAA
No.Hp : 085742756924
Facebook : Fitriyani Ayuningtyas


HABIB AYU perempuan kelahiran Lamongan 26 Pebruari. Kini menetap di Gang Buntu Kp. Pesantren Kaliwungu Kendal. Bisa disapa dengan melambai dan mengucap "hallo" HP. 081575443300


M. LUKLUK ATSMARA ANJAINA atau biasa dipanggil Anja adalah pelajar di SMAN 2 Kendal. Aktif diberbagai kegiatan, diantaranya PMR, Marching Band dan Pramuka. Karya puisinya telah terbit diberbagai antologi bersama, dan kini tengah mempersiapkan antologi puisi tunggalnya. Bisa disapa melalui pin bbm-nya 7EC69F2D atau email : luklukanjaina@gmail.com.
 

 ---
D`RUANG | BULETIN SASTRA
Diterbitkan oleh PSK | Pelataran Sastra Kaliwungu | Komunitas Penikmat Kopi dan Sastra
Alamat Sekretariat : MI NU 04 Kumpulrejo, Jl. Kauman No. 06 Kumpulrejo 02/ 03 Kaliwungu Kendal | Email pskkendal@gmail.com | SMS 085641402250 | PIN 584D95C2
www.pelataransastrakaliwungu.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi Eko Tunas

Tidak Ada Tidak ada yang tahu Apa bakal terjadi Laut belum bersaksi Satu pesawat tempur Mau bombardir kota Muncul dari sisi g...