Rabu, 24 September 2014

PUISI TANPA PENYAIR

1)
Malam Terindah Katanya

Ini adalah sebuah ungkapan
Bukan cerita tapi nyata
Ini adalah malam terindah
Entah apa yang membuatnya
Menjadi indah aku tak tahu
Malam yang sangat berbeda
Dengan malam yang tlah berganti

Ku tak tahu dan sama sekali
Tak mengerti
Mengapa hati kecilku
Mengatakan yang sedemikian
Menjadikan malam ini
Adalah sebuah malam terindah

Padahal, tak ada kejadian
Tak ada apa-apa yang membuat
Malam ini menjadi lebih indah
In yangi menimbulkan sebuah
Pertanyaan yang linglung

Tad ada pa-apa dimalam ini
Tak ada yang istimewa juga
Tapi, aneh! Hatiku mengatakan
Malam ini sebagai:
“Malam terindah”

Ah! Tapi ini tak begitu penting
Yang terpenting kuharus
Bermimpi lebih awal dimalam ini
Juga harus mimpi yang terindah


10 September 2014


2)
Kemenangan akhirnya tercapai

Ini adalah kemenangan kita
Ya! Kemenangan kita yang
Tertunda oleh ketidakdisiplinan
Namun, kita belajar darinya
Kita belajar dari pengalaman
Pengalaman yang mahal harganya

Memang tak sia-sia kita berjuang
Berjuang mati-matian
Latihan seharian
Sampai nafas diambang perbatasan
Antara hidup atau mati
Ya, karena kita hampir mati

Ini adalah anugerah-Nya
Ini adalah hasil jerihpayah kita
Ini adalah marching kita
Tuhan yang maha kuasa
Tlah membalas usaha kita

Disini kita dalam kesenangan
Kesenangan yang tak terbatas
Kita keluarkan ekspresi
Dalam kesenangan yang sangat
Berarti ini. (Vincero!!!) seru kita
Dan kita tak akan lalai
Dalam kesenangan ini!


13 September 2014


3)
Digagalkan oleh macet

Inilah kota besar di negriku
Yang selalu dilengkapi kemacetan
Dua jam ku disini, di tengah kemacetan

Tak ada yang dapat dilakukan
Selain hanya bisa menonton
Tontonan yang tak asing lagi
Sedang, seorang nenek hanya
Tersenyum melihat semua ini

Semua rencana digagalkan
Begitu saja tanpa dosa
Oleh kemacetan yang selalu ada
Di sepanjang jalan tujuan semula


13 September 2014



4)
Tugas esok tak terduga

Malam ini,
Ku dipenuhi tugas-tugas
Yang tak terduga muncul
Diatas lembaran buku tebal
Ketika ku membukanya, dan
Tertulis tanggal dan waktu
Pada sabtu esok tlah menunggu

Tugas-tugas yang terbentuk
Segitiga ditengah lingkaran hitam
Menyajikan pertanyaan
Tentang sebuah rumus
Yang harus ditemukan
Agar menelusuri jawaban yang pasti
Sempat tersesat dan hilang arah
Kemana rumus berjalan sejauh ini
Namun, kini tlah kembali
Pada angka-angka yang pasti

Susah gelisah kulaksanakan
Pusing lelah ku kerjakan
Mimpi indah ku korbankan
Sedang mereka, secepat itu
Meninggalkan jejaknya
Malah asik dengan mimpinya
Pada jarum jam yang masih muda


25 Agustus 2014



5)
Siang yang MERDEKA!!

Siang.
Kasihani diriku
Empat hari, ku tak menikmati
Waktumu tuk memejamkan mata
Empat hariku hanya makan ilmu
Di waktumu
Tak pernah makan mimpi
Ketika waktumu tlah tiba

Siangmu hari ini
Kanku nikmati santapan mimpi
Sampai sore tlah datang
Menggatikan posisi siang

Empat hari selalu
Dihidangkan ilmu
Diatas lembaran-lembaran buku

Tapi, siang dihari ini
Merupakan kemerdekaan bagiku
Menikmati mimpi bersama larutnya siang
Menghindari hidangan yang sama
Dengan siang-siang yang tlah terganti

Siang, panjangkan waktumu
Untukku hari ini saja
Biarkan sore bersabar
Menunggu


5 September 2014



6)
Berjuang tak berarti perang

Telah lama proklamasi dikumandangkan
Di dengarkan sampai di pelosok negri
Untuk kita penikmat kemerdekaan
Perang!? Sudahlah tak perlu
Tak perlu mengorbankan setetes darah
Untuk kemerdekaan negri
Cukup mengenang dan mengangkat tangan
Pada pening dikepala
Menghadap bendera pusaka

Tapi, sayang sekali negriku ini
Para orang elite malah berjuang tuk korupsi
Para pejabat ingin dikursi yang lebih tinggi
Karena mereka sama sekali tak mengerti
Apa arti zuhud bagi manusia di negri?

Telah lama sekali, mungkin
Kakek yang mengerti
Yang setiap kali memperingati
Selalu bercerita nasib negriku dahulu itu

Proklamasi sebagai api
Pengobar semangat negri
Pancasila menjadi dasar sebuah negri
Setelah mencapai kemerdekaan itu sendiri

Selamat ulang tahun negriku
Selamat menyambut
Pemimpinmu yang baru


17 Agustus 2014



7)
Rindu, telah lama pergi

Aku...
Datang menemuimu
Menagih rindu-rindu
Yang telah lama pergi
Dan belum juga kembali

Aku...
Rindu pada wajahmu
Yang kini telah berganti
Rindu pada keindahan dirimu
Yang telah lama tak bertemu
Rindu pada luasnya duniamu
Yang banyak akan birunya tubuhmu
Dan rindu-rindu yang tak dapat
Ku jangkau dengan angan-anganku

Aku...
Lepaskan rindu pada sepoi-sepoi angin
Yang hadir menemani kerinduanku
Pada ciptaan-Mu


4 Agustus 2014



8)
Jalan kehidupanku

Drirmu...
Selalu hadir dijalan waktuku
Dalam impian yang tak menentu
Dan tak akan pernah mampu
Menembus dinding kehidupanku

Hadirmu dijalan waktuku
Terkadang membuat diriku buta
Akan kata-kata yang kau tulis untukku
Juga membuat diriku bisu
Mengucapkan sebuah kepastian

Kehidupanku seolah mengikuti
Sekenario dirimu yang sengaja kau buat
Untukmu!


19 Agustus 2014



9)
Negeri bekas penjajah

Pahlawan pejuang negri
Yang mengorbankan darahnya
Demi kemerdekaan NKRI
Merebut kemerdekaan
Dari tangan para penjajah
Yang tak tau diri
Dengan sebuah ancaman mati
Kemerdekaan dibayar
Dengan nyawa pahlawan

Negeriku yang kini telah merdeka
Kembali menemui hari jadinya
Bahkan sampai saat ini yang ke-69
Tak pendek tentunya bagi umur
Sebuah negeri yang merdeka karena diri

Perjuangan yang telah dilalui
Mengusir penjajah tak tau diri
Yang pernah menginjak tanah ini
Dan mempekerjakan  tak manusiawi

Inilah negeriku yang telah setengah abad lebih
Menemui kemerdekaannya
Karena berhasil mengusir penjajah negeri


17 Agustus 2014



10)
Mata dan kelopaknya

Malam membuat mata sedikit emosi
Yang mengharuskannya menagih hak-haknya
Pada sebuah pengadilan dengan hakim keolpak mata

Mata semakin tak sabar saja pada sebuah malam
Dan terus menagih janji seorang kelopak mata
Yang pernah berjanji akan memejamkan dirinya
Pada malam yang masih baru statusnya

Kelopak mata yang telah berjanji pada awan merah
Ketika sang surya kembali keperaduannya
Belum juga mau menepati,
Karena keduanya mementingkan
Dirinya sendiri


5 Agustus 2014



11)
Tangisan Malam

Malam tiada berarti
Tanpa keraguan hati
Merenungkan diri
“Sebesar apa dosaku ini?”

Tembok-tembok yang mengelupas tak terawat
Pakaian-pakaian yang menggantung pada paku
Menyaksikan penyesalanku dengan yang Maha Robbi

Malam tiada hembusan angin yang menyentuh pori
Tak kusangka aku seperti ini, yang banyak akan dosa
Daun yang biasanya berguguran tak terlihat lagi
Nyamuk yang biasanya menghisap darahku
Kini menjadi mahkota mengelilingi kepalaku

Malam penyesalan dosa-dosa yang dilalui
Karena hanya nafsu yang diikuti
Seolah mudah tergoda oleh bisikan dusta
Inikah diriku wahai Robbi
Akankah Engkau menerima penyesalanku?


1 Agustus 2014



12)
Menunggu kepastian

Kepastian yang tak jua datang
Masih saja kau setianya tunggu
Sampai kapan kepastian itu akan datang?
Akankah engkau datang ketika kami tlah lelah
Menunggu!?

“Tinggalkan saja kepastian-kepastian yang tak pasti!”
Itu hanya omong yang bernafsu!

Tapi berfikirlah!
Yakinlah!
Bersabarlah!
Kepastian akan segera hadir
Menghampiri kelelahan kita
Tak akan mengecewakan kita


25 Juli 2014



13)
Kemenangan yang fitri

Ketika takbir telah berkumandang
Dimana-mana dengan merdunya
Ketika ramadhan benar-benar
Telah melambaikan tangannya
Malam kemenangan datang menghampiri
Sebagai hadiah atas Ibadah sebulan kemarin

Kini di hari yang fitri
Semoga kita benar-benar dalam kemenangan
Dan  diri kita kembali dalam kesucian
Kita jadikan momentum fitri
Sebagai penghapus dosa kita
Pada sanak family, kerabat
Dan rekan-rekan kita

Di hari yang fitri ini
Tiada ucapan yang suci sesuci
“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI”
Tiada permohonan yang diridhoi selain
Permohonan maaf yang terdalam
Semoga hari yang fitri benar-benar dan mensucikan
Dalam diri kita –Umat Muslim


27 Juli 2014



14)
Tidur Malamku

Malam yang semakin larut menghampiri
Mata mulai merasakan berat keluh lelah
Bekerja seharian melihat yang dilihatnya
Tak kuasa menahan egonya masing-masing

Semakin lama semakin sepi meninggalkan mimpi
Kelopak mata yang hanya menghitung detik
Akan menutup diri dengan sendirinya

Malaikat-malaikat-Nya menemani malamku
Tembok-tembok menjaga tidur lelahku
Bantal guling dan selimut menghangatkan tubuhku

Semua telah usai pekerjaan telah selesai
Tinggal bedo’a dan menghias malamku
Dengan mimpi yang menenangkan tidurku
Dan kini menutuplah pintu mataku,
Selamat tinggal soreku
Selamat datang malamku
Pagi, selamat menantikan diriku


2 Agustus 2014



15)
Hidup pada garis kemiskinan

Mereka yang hidup pada garis kemiskinan
Selalu dihantui oleh serba kekurangan
Nasibnya membuat kita sedih
Merasakan penderitaan orang-orang
Seperti mereka

Apalagi menyekolahkan anaknya
Makan sehari-haripun tak pernah ada
Pakaian clontang-clonteng penuh tambal
Apalagi perlengkapan bayi
Imunisasipun tak pernah
Rumah dipinggir bantaran rel kereta api
Beberapa kali ditangkap satpol PP

Hidup bergantungan pada pemberian orang
Mengamen, minta-minta, rongsokan dicari
Semuanya dilakukan demi hidup keluarganya

Bansos, raskin salah sasaran tak merata
Orang mampu minta BSM, BOS
Harta negara dikuras politisi berdasi
Yang duduknya dikursi bekerja lain sisi
Jadinya yang kaya makin kaya
Yang tak mampu makin terlalu

Inikah negriku
Akankan harapan mereka direalisasi?
Tuna wisma dimerdekakan?


2 Agustus 2014



16)
Kisah kasih

Kutemukan kisah pada album foto
Yang menyimpan berjuta kenangan
Pada almari yang telah ropoh

Berbagai foto ada didalam album
Yang umurnya tak dapat diperkirakan
Bahkan tak terlihat gambar hanya
Sebuah kalimat dibalik foto yang terlihat

Dulu pernah bersatu
Karena keinginan tak dapat bersatu
Satu persatu memisahkan waktu
Tapi mungkin itu
Hanya sedikit nafsu
Yang sempat vakum beberapa waktu

Tapi kini..
Kita kembali bersatu
Dalam alunan lagu
Musikalitas khas kami tak tersapu
Tetap terukir walau harapan palsu
Namun akhirnya kau tahu dan semua tahu
Kamilah yang nomor satu walau
Kami memakai nama yang baru


7 September 2014



17)
Malam yang berbeda

Malam ini tak lagi menjadi es
Yang setiap malam harus berselimut
Malam ini justru menjadi selimut
Yang menyelimuti tidurku pada malam

Malam ini malam termuda
Karena, malam menina bobokkanku
Pada awal malam yang baru hadir
Berbeda dengan malam biasanya
Yang menina bobokkanku
Pada sepertiga malam terakhir

Malam ini malam teristimewa
Karena, malam menyeimuti
Tidurku menjadi tak terkalahkan
Tidurku melepas amarah,
Masalah, dan lelah

Malam ini malam terpanjang
Karena, malam menidurkanku
Pada awal kedatangan malam

Malam ini malam segala malam
Karena, malam memberiku semua malam
Menjadi satu malam yang menyenangkan
Juga, karena malam ucapkan met tidur padaku


3 Agustus 2014



18)
Subuh menanti

Subuh nanti, tugas-tugas datang
Menanti janji-janji pengikutnya

Sekarang malam, menantikan tidurku
Karena malam mendapat pesan dari subuh
Pesan yang setiap malam masuk pada malam
Yang menantikan diriku datang menemui
Menemui sang subuh tepat pada waktunya

Karena, subuh-subuh yang telah berlalu
Selalu dilewati pengikut setianya
Bukan setia menepati janji, malah setia mengingkari
Subuh, mungkin nanti aku berhenti menemuimu

Malam membalas pesan subuh, tertulis:
Intinya meng-iyakan penantian subuh
Dan malampun setiap kali
Mengopyak-opyak pengikut subuh
Tuk datang menepati janji pada subuh

Pada pemberitahuan tertulis
“selamat menanti ya, subuh
Semoga pengikutmu menghampirimu”
Sebuah kalimat pesan dari malam
Dan subuhpun membalas
“selamat tidur, malamku”


12 Agustus 2014



19)
Kaya, tak pelit tapi sombong

Tiga remaja berpakaian koko celana panjang
Melangkah ragu menuju istana berlapis emas
Konon, istana itu milik pejabat yang sangat kaya

“Assalamu’alaikum”
Disentuhnya bel dipinggir pintu
Dibukanya pintu otomatis dikawal dua ajudan
Dipersilahkan duduk tiga remaja diatas sofa

Rupa-rupanya remaja itu meminta sumbangan
Pembangunan gedung suci disekitar pemukimannya
Diambilkannya koper bergembok emas murni
Dengan sombong menghubungi wartawan,
Reporter media elektronik bahkan media cetak                        
Diambilnya lima ratus juta dari koper lapis emas
Sambil menginstruksikan untuk meliputnya

Tiga remaja itupun menerimanya
Dan keluar dari istana pejabat sombong
Berjalan pulang sambil menggelengkan kepala


4 Agustus 2014



20)
Sore telah tiba

Sore..
Takkan lama kau tiba
Ucapkan salam pada-Nya
Temui Dia diwaktu-Nya
Jangan sampai kutertinggal
Jauh sendirian disana
Tanpa imam tanpa teman

Jangan sampai kuberdiri
Sendiri menemui perintah-Nya
Ku yakin sore ini ku bersama
Orang-orang yang menemui
Perintah pencipta-Nya
Dengan imam didepan
Dan makmum yang melimpah

Sore..
Telah tiba meninggalkan
Malam sendirian ditempatnya
Entah akan sampai kapan sore
Ditempat-Mu ini
Salam kasihku


21 September 2014



21)
Malam kasihku

Malam kekasih
Ku akan berupaya menemuimu
Dalam lima kali sehari
Dengan waktu yang tepat
Karena, ku ingin seperti
Matahari dan rembulan
Yang menjalankan perintahmu
Tepat pada waktumu

Kasihku
Ijinkan aku bersujud diatas bumimu
Yang beralaskan sajadah suciku
Menyembah dan memohon
Ampunan kepadamu

Angin, sampaikan ucapan malamku
Kepada penciptamu
Jangan engkau sangkutkan
Pada reranting pring
Yang panjang dang bercabang

Dan,
Ombak, sampaikan salamku
Pada kasihku kasihmu juga
Jangan engkau biarkan
Salamku tenggelam dilautan
Dan jangan engkau biarkan
Salamku ditelan ikan hiu ciptaanmu


21 September 2014



---
"Puisi Tanpa Penyair" nama penulis puisi ini sengaja kami 'simpan` untuk menjaga kenetralan Anda dalam mengapresiasi. Puisi ini akan dibedah pada agenda NgopiSastra #1 PSK, Selasa, 7 Oktober 2014. Salam Sastra ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Susunan Pengurus PSK 2019-2024

Surat Keputusan Pendiri PSK Nomor: 001/PSK/III/2019 Tentang Susunan Pengurus PSK 2019-2014 Penasehat Prof. Dr. Mudjahirin ...