[ZIARAH] SRI MURTONO TOKOH TEATER INDONESIA

 

KELUARGA PSK (PELATARAN SASTRA KALIWUNGU)
ZIARAH KE MAKAM R. SRI MURTONO
PENDIRI ASDRAFI DAN TOKOH TEATER INDONESIA

oleh Dr. Nur Iswantara, M.Hum.*

 

(PSK dan ASDRAFI ziarah ke Makan R. Sri Murtono)

 

Yogyakarta. Bertempat di Makam Gajahan, Jalan Kusuma Negara, Yogyakarta, Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 11.00 WIB hingga selesai, Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Kendal, Jawa Tengah, melaksanakan ziarah ke makam Sri Murtono, pendiri ASDRAFI dan tokoh teater Indonesia.

 

Ziarah ke makam Sri Murtono ini dilaksanakan berkenaan dengan akan diselenggarakannya Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono oleh Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, pada bulan Juni–Juli 2026. Kegiatan festival ini didukung oleh Kemendikdasmen RI melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan slogan Badan Bahasa Bermartabat, Bermanfaat.

 

Pada hari Jumat, 26 Juni 2026, pukul 10.30 WIB, Mas Mahmud Alqadrian bersama penulis melakukan hunting ke Makam Gajahan, bagian selatan, untuk mencari batu nisan almarhum Pak Sri Murtono, tetapi belum berhasil menemukannya. Kami kemudian melaksanakan salat Jumat terlebih dahulu. Seusai salat Jumat, penulis bersama Mas Mahmud menemui juru kunci, Pak Harsoyo, untuk dibukakan pintu bagian utara agar dapat mencari batu nisan makam Sri Murtono tersebut.

 

Kami berdua menelusuri dari satu batu nisan ke batu nisan lainnya, dari satu cungkup ke cungkup lainnya, mencari batu nisan almarhum Pak Sri Murtono, tetapi belum juga menemukannya. Hal yang tak terduga sekaligus aneh, kami berdua bertemu di depan sebuah makam keluarga yang berpintu besi bercat hijau dan tergembok. Secara instingtif saya membaca nama-nama pada batu nisan yang berada di dalamnya. Tertulis nama-nama keluarga bangsawan Jawa. Saya meyakini kemungkinan makam Pak Sri Murtono berada di dalam kompleks tersebut.

 

Di tengah udara panas yang membakar dan rasa letih siang itu, Pak Harsoyo datang ke makam. Kami menceritakan bahwa kami belum menemukan batu nisan almarhum Pak Sri Murtono. Kami juga menunjukkan sebuah makam yang tergembok dan di dalamnya terdapat batu-batu nisan bertuliskan nama-nama keluarga bangsawan Jawa. Dengan sigap, Pak Harsoyo mengajak kami menemui keluarga Mas Si Mul dan Mas Tono yang dipercaya memegang kunci makam keluarga tersebut.

 

(Makam R. Sri Murtono)

 

Barokah hari Jumat, ada keajaiban atas petunjuk Allah Swt. Ketika makam keluarga Trah Pringgopadmopuspito, yang selesai dipugar pada 30 Agustus 1998, dibuka, kami menelusuri dari satu nisan ke nisan lainnya. Mas Mahmud yang berada di bagian paling selatan makam keluarga, dengan penuh khidmat dan bahagia, menemukan batu nisan Pak Sri Murtono. Batu nisan tersebut terbuat dari pualam putih dengan tulisan: R. Sri Moertono, lahir 23 September 1916 dan wafat 30 Juni 1986. Di sebelah baratnya terdapat makam istrinya, Ibu Sumery. Lega rasanya setelah menemukan batu nisan Pak Sri Murtono, yang namanya terpahat dengan jelas sebagai R. Sri Moertono. Kami pun memohon izin kepada penjaga makam keluarga tersebut untuk pulang dengan perasaan bahagia. Keesokan harinya, ketika rombongan Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, hendak berziarah, lokasi makam sudah dapat dipastikan.

 

Mengenang biografi Pak Sri Murtono menjadi hal yang tak terhindarkan. Dalam buku Sri Murtono: Teater Tak Pernah Usai, Sebuah Biografi (Nur Iswantara, 2004), terbitan Intra Pustaka Semarang Timur, tertulis bahwa Sri Murtono lahir pada 23 September 1916 di Kendal, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Broto Hadi Sudarmo, seorang asisten wedana Cepiring. Ibunya bernama Sri Kusmadinah, berasal dari keluarga pengusaha batik Panembahan Kasultanan Yogyakarta. Sri Murtono merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yaitu: (1) Sri Murtini, (2) Sri Murtono, dan (3) Sri Murtinah (Nur Iswantara, 2004:7).

 

Dalam pengantar penerbit dituliskan bahwa Sri Murtono adalah godfather teater Indonesia. Hidup di antara lima zaman—penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, masa revolusi, Orde Lama, dan Orde Baru—tidak membuatnya surut dalam totalitas berkarya di dunia teater. Melalui teater, ia melakukan perlawanan wacana terhadap penjajahan Belanda. Melalui teater pula ia mengobarkan nasionalisme kepada setiap anak bangsa sebagai counter atas nasionalisme yang ditanamkan Jepang di republik ini. Semua itu dilakukan melalui pertunjukan-pertunjukan dari barak ke barak di setiap kantong perlawanan.

 

Sri Murtono tumbuh dalam keluarga yang sangat kental dengan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, hampir seluruh karya yang dihasilkannya dipenuhi penokohan dan alur yang diadaptasi dari cerita serta legenda masyarakat Jawa. Sumpah Gadjah Mada dan Genderang Bharatayudha, dua masterpiece Sri Murtono, lahir dari epos Bharatayudha dan legenda patih paling ambisius yang pernah dimiliki Majapahit. Meski tumbuh di lingkungan Jawa yang kuat, hal itu tidak menyempitkan pola pikir Sri Murtono pada budaya Jawa semata. Hal tersebut tampak dalam karya Sumpah Gadjah Mada yang terinspirasi oleh pertunjukan drama terbuka di negara-negara maju, seperti Passie Oberammergau di Jerman, Nancy di Prancis, dan Tegelen di Belanda.

 

Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta yang didirikannya merupakan kawah candradimuka yang telah melahirkan seniman-seniman besar, seperti Putu Wijaya, Teguh Karya, Alex Suprapto Yudo, dan Hendra Cipta yang kemudian menjadi ikon seni teater kontemporer. Sebagai seorang pekerja seni, Sri Murtono sangat konsisten dalam perjuangan dan pengembangan seni teater di Indonesia. Ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama Lekra menyusup ke komunitas dan lembaga ASDRAFI, Pak Sri—begitu ia biasa dipanggil—lebih memilih mundur dari ASDRAFI. Sri Murtono tidak setuju apabila kampus diwarnai aktivitas politik. Konsistensi dan keteguhan hatinya kembali terlihat pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965, ketika ia bersedia kembali ke dunia teater untuk menangani dan mengajar di ASDRAFI Yogyakarta.

 

Pada hari Sabtu, 27 Juni 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan PSK Kendal, Jawa Tengah, tiba di Pendapa nDalem Pakuningratan, Jalan Sompilan Nomor 12, Ngasem, Yogyakarta, yang dahulu merupakan Kampus ASDRAFI Yogyakarta (1955–2022) yang legendaris itu. Di pendapa, rombongan diterima oleh Mbak Rina, Mas Mahmud, dan penulis. Silaturahmi pun terjadi. Adapun tamu yang hadir antara lain Mas Bahrul Ulum A. Malik (Presiden PSK), M. Lukluk Atsmara Anjaina (Sekjen PSK), Chadori Ichsan dan Bara Luqmana (Bendahara PSK), dan Akhmad Sofyan Hadi (Pegiat Teater Kendal).

 

Pada acara silaturahmi kali ini suasana terasa begitu akrab. Mbak Rina Nikandaru menyuguhi teh hangat dan kue-kue. Pembicaraan pun berlangsung asyik. Mas Mahmud selaku tuan rumah mempersilakan para tamu untuk menyampaikan maksud kedatangannya. M. Lukluk Atsmara Anjaina mengawali pembicaraan dengan menyampaikan bahwa PSK akan mempunyai gawe Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono. Untuk itu, PSK memohon dukungan dan saran dari Yayasan GRK Yogyakarta serta Alumni ASDRAFI Yogyakarta.

 

Dalam silaturahmi ini, Mas Bahrul Ulum A. Malik menyampaikan agenda ziarah ke Makam Sri Murtono di Makam Gajahan, Jalan Kusuma Negara, Yogyakarta. Selanjutnya, beliau memohon masukan mengenai naskah drama karya Sri Murtono sebagai materi festival serta kemungkinan salah satu naskah karya Sri Murtono dipentaskan oleh PSK. Selain itu, beliau juga mengusulkan 2 (dua) orang juri Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono dari Alumni ASDRAFI Yogyakarta yang telah berkiprah di Jawa Tengah.

 

 

(Diskusi di nDalem Pakuningratan)

 

Dalam silaturahmi ini diputuskan untuk terlebih dahulu berziarah ke makam almarhum Sri Murtono. Selanjutnya, menuju Perpustakaan Pribadi Nur Iswantara untuk menemukan dan memilih 4 (empat) naskah sebagai materi festival dan 1 (satu) naskah untuk dipentaskan oleh PSK. Sebelum menuju makam Sri Murtono, dilakukan penyerahan buku Lelabuh Asmara (2026) karya Sili Suli oleh Mas Mahmud. Buku tersebut rencananya akan didiskusikan di Yogyakarta. Dilanjutkan dengan penyerahan buku-buku karya Nur Iswantara, yaitu Novel Dewi Arimbi (2024), Sejarah Teater Timur (2019), dan Metode Pembelajaran Pantomim Indonesia (2018). Acara penyerahan buku ditutup oleh Mbak Rina Nikandaru dengan menyerahkan Antologi Puisi Negeri Sontoloyo: ANGIN Bersenandung (2025).

 

Acara kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam almarhum Sri Murtono di Makam Gajahan, Jalan Kusuma Negara, Yogyakarta. Cungkup Pasareyan Pringgopadmopuspito dibukakan oleh Mas Tono dan Mas Supri. Kami serombongan menuju batu nisan Pak Sri Murtono. Seperti dikomando, kami mengelilingi batu nisan Pak Sri Murtono dan istrinya. Di tengah hari yang panas menyengat, peluh bercucuran membasahi tubuh. Mas Bahrul Ulum A. Malik bertindak sebagai imam dalam doa ziarah. Semua mengikuti dengan khusyuk dan mengaminkan doa di penghujungnya. Usai mendoakan secara Islam, kami beristirahat sejenak di pasareyan yang indah dan sejuk. Semoga dengan ziarah ini, Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono yang dilaksanakan PSK pada bulan Juli-September 2026 dapat berlangsung dengan selamat, lancar, membahagiakan, dan sukses.

 

(di Depan Rumah Dr. Nur Iswantara, M.Hum.)

 

Usai berziarah, rombongan menuju rumah Nur Iswantara di Jalan Wates Km. 10, Dusun Surobayan, Argomulyo, Sedayu, Bantul. Di masa libur, jalanan Yogyakarta ramai dan padat sehingga perjalanan menjadi lambat, merambat, asal selamat. Sesampainya di tujuan, para tetamu bersantai di teras. Air mineral telah tersedia, sementara para tetamu menunaikan salat zuhur. Sohibul bait kemudian membuka perpustakaan pribadinya dan mengeluarkan koleksi naskah-naskah drama karya Sri Murtono untuk dicermati dan dipilih.

 

Aktivitas pembacaan karya-karya Sri Murtono berlangsung dengan penuh kesungguhan. Di sela-sela pemilihan naskah, dua tamu datang membopong satu kantong besar berisi nasi Padang beserta minumannya. Kami beristirahat sejenak menikmati makan siang bersama. Setelah selesai makan dan minum, diskusi serta musyawarah kembali dilanjutkan. Tim PSK akhirnya menentukan pilihan naskah drama berjudul Ida, Letkol Polri Jarot, Malam Lebaran, dan Kampus Gembira Loka yang terhimpun dalam buku Empat Drama Kontemporer untuk Remaja (Penerbit Ikhwan, Jakarta, 1983). Selanjutnya dipilih dan ditentukan satu naskah yang akan dipentaskan oleh PSK, yaitu Wahyu Sasongko Jati. Usai memilih naskah, Keluarga PSK memohon izin untuk kembali ke Kendal. Silaturahmi dalam rangka Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono yang akan dilaksanakan pada bulan Juni–Juli 2026 berlangsung dengan damai dan menggembirakan.

 

Nur Iswantara, adalah dosen Program Studi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di ISI Yogyakarta, kemudian meraih gelar Magister Humaniora dan Doktor di Universitas Gadjah Mada dengan bidang kajian seni pertunjukan. Ia juga merupakan seniman teater, akademisi, penulis, dan peneliti teater Indonesia yang bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kiprahnya telah berlangsung selama puluhan tahun dalam bidang pendidikan, penciptaan, penelitian, serta dokumentasi seni pertunjukan, khususnya teater. Ia merupakan alumnus Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta dan memiliki kedekatan historis dengan perkembangan teater modern Indonesia. Pengalaman tersebut mengantarkannya aktif menulis sejarah teater, biografi tokoh seni, kritik, serta berbagai kajian mengenai seni pertunjukan di Indonesia. Sebagai penulis, Nur Iswantara telah menghasilkan sejumlah buku, antara lain Sri Murtono: Teater Tak Pernah Usai, Sebuah Biografi (2004), Metode Pembelajaran Pantomim Indonesia (2018), Sejarah Teater Timur (2019), dan novel Dewi Arimbi (2024). Karya-karyanya menjadi rujukan bagi mahasiswa, akademisi, guru, maupun pegiat seni pertunjukan dalam memahami perkembangan teater Indonesia. Selain aktif menulis, Nur Iswantara juga menjadi narasumber, kurator, pembicara, pembina komunitas, serta pendamping berbagai kegiatan seni dan kebudayaan. Perhatiannya terhadap pelestarian warisan teater Indonesia diwujudkan melalui penelitian tokoh-tokoh teater, pengarsipan naskah drama, dan pembinaan generasi muda melalui berbagai forum, pelatihan, serta festival teater. Konsistensinya dalam mendokumentasikan perjalanan seni pertunjukan menjadikan Nur Iswantara sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam menjaga memori kolektif sejarah teater Indonesia, khususnya yang berkembang di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Komentar