Catatan Kecil “Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas” Raedu Basha

 

Catatan Kecil “Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas”

 

Zulfa Fahmy

 

Ketika pertama kali memegang buku kumpulan cerpen “Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas” karya Raedu Basha, mata saya langsung disergap oleh deretan testimoni tokoh besar yang berdesakan di sampulnya. Secara sosiologis, pemandangan ini memicu sebuah pertanyaan menggelitik: Apakah seorang Raedu Basha, masih membutuhkan lembar legitimasi dari para tokoh tersebut untuk menegaskan kualitas prosanya? Apakah rentetan nama di cover itu mencerminkan sebuah keraguan personal atas aktivitas kepenyairannya, ataukah murni sebuah strategi marketing yang cerdas dalam industri perbukuan kita?

Dalam kacamata sosiologi sastra, gejala ini memperlihatkan bagaimana sebuah karya sastra hari ini tidak pernah lahir di ruang hampa yang steril. Sastra modern harus terus bernegosiasi dengan pasar dan pembaca. Raedu, secara sadar atau tidak, sedang membangun apa yang disebut sebagai “gerbang otoritas”. Testimoni tersebut berfungsi sebagai jembatan penyeberang agar pembaca dari berbagai kalangan bersedia melangkah masuk, melintasi sekat-sekat, dan menceburkan diri ke dalam dunia "daun talas" yang ia ciptakan. Kulit luar buku ini adalah sebuah maklumat awal bahwa teks di dalamnya membawa bobot sosial yang tidak main-main.

Menariknya, entah berjodoh atau tidak, salah satu cerpen yang ada dalam buku ini saya temukan dalam tugas mahasiswa Universitas Terbuka beberapa bulan yang lalu. Sebagai Tutor yang mengampu mata kuliah Cerita Rekaan di UT, saya menemukan sebuah fenomena resepsi sastra yang sangat unik. Salah satu cerpen dalam kumpulan ini, yang berjudul “Ruang Tamu Kyai Dahol”, secara konsisten menjadi salah satu karya favorit yang paling sering dipilih dan dibedah oleh mahasiswa saya dalam menyelesaikan tugas-tugas akademis mereka.

Dari sini, muncul sebuah pertanyaan spekulatif yang bernada teknologis: apakah kepopuleran cerpen ini di kalangan mahasiswa UT terjadi karena faktor buatan? Apakah secara algoritmik teks ini selalu menempati kasta tertinggi dan direkomendasikan secara otomatis ketika mereka mengetik kata kunci "cerpen" di mesin pencari Google atau kecerdasan buatan seperti Gemini? Di tengah keterbatasan akses informasi di daerah perbatasan, peran algoritma tentu tidak bisa diabaikan. Atau ada kebetulan antara tanggal publikasi cerpen dengan tenggat pengumpulan tugas di UT?

Namun, di luar dugaan algoritmik tadi, ada alasan kemanusiaan yang jauh lebih menyentuh hati. Mahasiswa UT, yang mayoritas hidup di pelosok pedesaan dengan segala keterbatasan akses internet dan fasilitas, menemukan cermin kehidupan mereka sendiri yang retak di dalam cerpen “Ruang Tamu Kyai Dahol”. Cerpen ini berhasil merekam sebuah fenomena reflektif yang sangat jujur sekaligus getir mengenai relasi patron-klien di desa. Raedu memotret seorang Kyai yang dengan ketulusan mutlak dimintai doa dan restu oleh para santri serta warga yang hendak merantau ke kota. Waktu berlalu, para perantau itu kembali ke desa dengan membawa limpahan kesuksesan materi, kendaraan mewah, dan simbol-simbol modernitas. Sementara sang Kyai? Ia tetap mendekam dalam kemiskinan, kesunyian, dan kesederhanaan ruang tamunya yang bersahaja. Kedekatan emosional inilah yang menjadi sebuah realitas sosiologis yang dialami langsung oleh masyarakat akar rumput. Karena itulah, cerpen ini melompat melampaui sekadar angka-angka algoritma.

Membaca lembar demi lembar *Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas* bagi saya pribadi adalah sebuah proses katarsis yang melempar ingatan kembali ke masa lalu. Teks Raedu memaksa saya untuk duduk kembali di serambi pesantren masa mondok; menghirup udara pagi yang dingin, mengaji kitab kuning, dan menyerap kisah-kisah legendaris tentang kaum zuhud yang dengan radikal menolak gemerlap duniawi.

Akan tetapi, narasi yang dibangun Raedu bukanlah sebuah ruang nostalgia yang menidurkan. Karakter-karakter di dalamnya justru memantik semacam “pemberontakan kecil” di dalam kepala kita. Teks ini memprovokasi kesadaran kita untuk menggugat kembali: Bagaimana seharusnya agama mengambil peran di tengah karut-marut dan sengkarut kehidupan modern yang kian pragmatis? Raedu dengan sangat lihai memperlihatkan betapa dilematis, sekaligus provokatifnya, posisi para ulama dan tokoh agama ketika mereka dipaksa berdiri di garis depan untuk merespons benturan-benturan sosial yang nyata. Agama di tangan Raedu tidak hadir sebagai menara gading yang beku, melainkan sebagai entitas yang hidup, yang bergerak di antara ketegangan idealisme teologis dan realitas sosial yang berdarah-darah.

Secara struktural, jika kita membedah isi cerita secara keseluruhan, terdapat satu pola menonjol yang diletakkan Raedu terkait dengan resolusi konflik. Raedu memposisikan sosok Kyai/Gus dalam kerangka strategis yang sangat menentukan. Nilai-nilai keagamaan dan figur otoritas spiritual dipaksa hadir untuk menjahit kembali retakan konflik yang terjadi di dalam cerita. Yang membuat anyaman narasi ini menjadi eksotis adalah cara Raedu mengawinkan doktrin keagamaan tersebut dengan kearifan lokal yang kental. Praktik ziarah kubur, budaya sowan meminta restu kepada Kyai, hingga laku tirakat, dihadirkan bukan sebagai takhayul yang usang, melainkan sebagai sebuah ekosistem kebudayaan berbau Islam yang sah dan bernilai tinggi.

Melalui lanskap sosiologis ini, kumpulan cerpen ini berhasil memotret peran Kyai dalam posisi yang sangat krusial yaitu sebagai Broker Budaya. Ia menjadi jembatan kebudayaan, penerjemah nilai, sekaligus penengah antara kaum tertindas (rakyat kecil, petani, santri) dengan kaum pemilik modal dan penguasa. Konsep broker budaya ini tentu saja beresonansi dengan sangat keras terhadap realitas sosiopolitik di Indonesia kontemporer saat ini. Kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam panggung nasional, istilah 'broker' atau makelar bagi kalangan pemuka agama sering kali memicu nada sumbang. Kita menyaksikan bagaimana sebagian ulama terjebak dalam praktik negosiasi kekuasaan yang transaksional. Misalnya menjadi makelar suara pemilu bagi para politisi, atau menjadi penjinak konflik dalam proyek-proyek strategis nasional demi mempertahankan modal relasional mereka dengan elit penguasa.

Namun, justru di titik krusial inilah Raedu Basha melakukan sebuah dekontaminasi ideologis. Melalui “Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas”, Raedu ingin melayangkan sebuah manifesto bahwa di luar lingkaran elit yang korup itu, masih ada “Kyai yang benar-benar Kyai”. Peran mereka sebagai broker kebudayaan didasari sepenuhnya oleh kemurnian ilmu, ketulusan spiritual, dan pembelaan yang tulus kepada umat, bukan karena syahwat politik atau materi. Raedu sedang melakukan pembelaan estetik terhadap para Kyai yang sunyi ini. Mereka yang hari-hari ini sengaja dipinggirkan dan termarjinalkan oleh hegemoni para Kyai populer, Kyai panggung televisi, maupun elit organisasi keagamaan yang gemar bersolek di depan kamera.

Sebagai penutup, melalui dimensi sufistik yang samar namun tajam di akhir cerita-ceritanya, Raedu ingin mengingatkan kita pada sebuah batas kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa tidak semua problem kemanusiaan dan ketimpangan sosial di atas muka bumi ini dapat diselesaikan dengan kalkulasi matematika yang rigid atau kompromi politik yang instan.

Ada kalanya, masalah-masalah kehidupan yang paling pelik justru menemukan jalannya melalui fenomena transenden. Fenomena ini digambarkan sebagau sebuah misteri ilahi dan ketukan spiritual yang melampaui logika zaman. Sesuatu yang barangkali membutuhkan waktu berdekade-dekade bagi kita, manusia modern yang tergesa-gesa ini, untuk sekadar bisa duduk tenang, merenung, dan memahami hikmah terdalam yang tersembunyi di baliknya. Melalui daun talas yang sederhana, Raedu Basha telah mengantarkan sepucuk surat penting bagi kemanusiaan kita.

Komentar